
Aku terbangun tepat saat tengah malam karena rasa lapar yang melilit. Karena gerakanku, Taka yang tidur juga ikut terbangun. Kami berjalan ke dapur dan melihat jika hanya tersisa mie instan untuk dimakan.
"Biar aku buatkan," ucapku segera.
Taka melihatku dengan mengulum senyum, "Sudah mulai melaksanakan tanggung jawab sebagai istri rupanya."
Aku tergelak mendengar perkataannya. "Itulah gunanya aku. Jika kamu kelaparan dan masih harus membuat makanan sendiri, aku akan merasa sangat tidak berguna."
Tidak butuh waktu lama, dua mangkuk mie instan sudah tersedia di atas meja makan.
***
Udara musim panas membuat kami berdua duduk di balkon menikmati angin malam setelah makan. Dengan segelas es kopi di tangan masing-masing, kami mulai bercerita panjang lebar.
"Kamu bisa mulai menata apartemen ini seperti apa yang kamu mau, belilah juga beberapa barang yang kamu butuhkan," ucap Taka. "Sudah cukup lama dari sejak terakhir kali aku memindahkan beberapa barang untuk menciptakan suasana baru."
__ADS_1
Aku mengangguk, "Aku cukup suka dengan penataan yang sekarang. Mungkin nanti akan ada yang kurubah sedikit."
"Apakah kamu merasa nyaman tinggal di sini?" tanyanya.
"Ya, aku nyaman berada di sini. Barang-barang yang kamu miliki modern, lengkap dan bagus," jawabku tersenyum.
Kami membicarakan hal yang lain sampai akhirnya rasa penasaranku memuncak. "Apakah kamu mengabarkan pada orang tuamu jika kita sudah menikah?"
Taka terdiam sejenak, "Ya. Tapi mereka berkata jika mereka cukup sibuk dan belum memiliki waktu untuk menengok kita."
Tanpa sadar aku mengusap punggung suamiku pelan.
"Ceritakan saja, kita memiliki banyak waktu sekarang," balasku menatap matanya lekat.
Dari cerita Taka sebelum kami menikah, ia dan keluarganya berasal dari Shibuya. Ayahnya seorang pengusaha dan ibunya seorang aktivis partai. Mereka berdua sudah bercerai saat Taka berusia 16 tahun dan kedua adik laki-lakinya sekarang tinggal bersama ibu mereka.
__ADS_1
"Jujur saja, setelah melihat ayah dan ibuku, aku sempat takut saat akan menikah. Aku takut jika pernikahanku sama seperti pernikahan mereka."
Aku mengangguk mengerti. Ketakutan Taka beralasan karena ia menyaksikan sendiri bagaimana rumah tangga orang tuanya hancur.
"Ayah dan ibu menuntutku untuk selalu mendapatkan nilai yang bagus. Mereka memasukkanku ke sebuah sekolah favorit yang mahal. Sedangkan aku, aku bukan tipe anak yang pintar dan suka belajar. Di sekolah favorit semua murid berlomba menjadi yang terbaik. Aku sudah mencapai batasanku saat akhirnya merasa lelah dan menyerah. Aku sering membolos dan juga bermain. Karena hal itu, aku tidak dapat naik ke kelas tiga," Taka menceritakan pengalamannya, saat bersekolah di sekolah menengah pertama atau chūgakkō.
"Hal itu membuat orang tuaku malu dan memindahkanku ke sebuah sekolah biasa. Sayangnya, karena perbedaan kurikulum, aku tidak bisa mengikutinya. Aku dipaksa untuk mengikuti les tambahan mata pelajaran sepulang sekolah. Biasanya, aku baru bisa pulang ke rumah sekitar jam 9 atau jam 10 malam. Selama setahun aku mengikuti les sampai akhirnya aku kembali tiba di titik batasku. Aku kembali membolos dan bermain-main dengan anak-anak yang lebih tua.
Karena sering membolos, ibuku mendapat surat pemberitahuan dari tempat les. Karena marah, beliau masuk ke kamarku dan menemukan rokok serta bir yang kusembunyikan. Dengan segera, beliau memberitahu ayah dan waktu aku pulang ke rumah, semua barangku sudah berserak." Taka meneguk kopinya pelan.
"Di malam itu, mereka memarahiku habis-habisan. Mengingatkanku akan tanggung jawab sebagai anak pertama. Memberitahukan aku jika sebagai anak pertama, aku memiliki kewajiban menjadi contoh untuk adik-adikku. Mereka menuntutku untuk menjadi kakak yang baik di saat mereka sendiri tidak bisa menjadi orang tua yang baik karena seringnya bertengkar di depan kami semua."
"Itu yang menyebabkan orang tuamu bercerai?" tanyaku.
Taka mengangguk. "Karena seringnya mereka bertengkar dan saling menyalahkan atas kelakuan anak-anaknya, mereka memutuskan untuk berpisah. Setelah mereka berpisah pun, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.
__ADS_1
Aku fokus bermain musik dengan teman-temanku yang masih bersekolah. Karena menjadi satu-satunya yang tidak bersekolah, orang tua mereka selalu menyalahkanku atas semua kesalahan yang dilakukan anak mereka. Mereka bilang, aku membawa pengaruh buruk. Sampai akhirnya aku pindah seorang diri ke rumah nenek. Nenek memintaku untuk meneruskan sekolah, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa diam dan belajar, perhatianku selalu terpecah dan aku ingin segera kabur untuk bermain musik. Dan ketika nenek menyerah untuk membujukku, aku kembali membentuk band baru di sekitar tempat tinggal. Band kami cukup terkenal dan sering kali tampil di festival musim panas. Lama kelamaan ketenaran menghampiri kami sampai akhirnya band kami bertahan cukup lama dan manajemen memecatku dari sana."
Aku terdiam dan meneguk kopiku. Band terakhir yang Taka maksud ialah band tempat ia bergabung sebelum akhirnya dipecat karena kabur dari tur promosi di Osaka untuk menengokku yang sedang sakit waktu itu di Tokyo.