Aishiteru, Taka!

Aishiteru, Taka!
Chapter 12


__ADS_3

Kakak ingin bertemu dengan Hiro!" ucapnya saat aku membuka pintu. Taka yang berdiri di belakangku memasang wajah dingin. Kakak menekan bel apartemen, tepat saat kami berdua selesai sarapan. Tanpa berkata apapun, aku bergeser ke pinggir, memberi jalan.


"Dek, kamu perlu tau kalau Hiro ini dulu adalah orang yang dekat dengan kakak," katanya ketus seraya duduk di sofa.


"Terus?" tanyaku santai.


"Kakak tau persis dia seperti apa! Sudah bagus kamu Kakak lamar buat jadi istri kedua Putra, malah lebih milih Hiro!"


"Sudah bagus aku jadi istrinya Taka, dari pada menjadi istri kedua. Kakak akan mengendalikan aku seperti biasa. Istri kedua? Wah, jangan-jangan Kakak berniat mengancamku agar mengikuti semua kemauan kakak karena itu. Bisa aja kan, Kakak mengancam dengan menggunakan statusku," balasku tajam.


"Kamu tidak tau apa-apa tentang Hiro, Kakak yang tau segalanya. Kakak yang seharusnya di samping Hiro, bukan kamu! Kakak akan meminta cerai pada Putra agar kamu bisa menikahinya, tapi tolong kembalikan Hiro pada Kakak!"


Aku terkejut mendengar apa yang kakakku katakan, sepertinya ia menderita gangguan ji*wa.


"Setelah sekian lama tidak bertemu, sepertinya kamu belum berubah juga ya, Rindu? Kamu masih suka menyudutkan orang. Aku bisa tau dari nada suaramu walaupun aku tidak paham sama sekali bahasa yang kamu ucapkan," Taka bersuara.


"Dulu Kakak menolak cinta Hiro, itulah kenapa dia ingin membalas dendam dengan mendekatimu," lanjut kakak.


Perkataannya sontak membuatku menoleh ke arah Taka.

__ADS_1


"Speak in English please!" seru Taka


Kakak bangkit dan mendekati Taka. Mereka berdua terlibat percakapan yang membuatku terpana. Kakak yang berusaha meyakinkan suamiku jika ia masih memndam cinta sampai detik ini dan Taka yang jelas-jelas membantah semuanya. Diam-diam aku menelpon mama agar beliau mendengar perkataan kakak.


"Kak, sudah ya? Aku udah tau semua cerita di antara kalian. Mbak Aga yang cerita. Dari awal suamiku emang udah tertarik padaku, bukan pada Kakak. Setidaknya, cukup tau diri sedikit lah. Kami sudah menikah, dan Kakak salah jika menganggao aku akan diam saja," aku membuka suara.


Kakak mengabaikanku dan mulai memohon pada Taka, ia memegang kuat tangan suamiku itu. Setelah menunggu agak lama, akhirnya bel berbunyi dan aku bergegas membukakan pintu untuk mama, papa juga Putra.


Putra cukup marah melihat kelakuan kakakku di sini. "Ngga tau diri kamu Rindu! Setelah dulu kamu ngejauhin aku dari Rinai, kamu sekarang masih mencoba mengganggu rumah tangga mereka. Mau kamu apa?!" bentaknya keras.


Taka menghampiri dan menggenggam tanganku erat. Papa dan mama hanya diam melihat kami semua dengan wajah yang sudah memerah sepenuhnya.


Wajah papa terlihat marah saat mengalihkan pandangan ke arah Putra. "Bawa istrimu keluar dari sini. Secepatnya kita pulang ke Indonesia!" perintahnya, lalu berjalan keluar dari apartemenku.


Mama memelukku dan Taka sebentar serta meminta maaf atas semuanya. Dia membantu Putra untuk memaksa kakak keluar dari sini. Setelah mereka tidak terlihat lagi, Taka berjalan ke arah pintu dan menutupnya rapat.


***


"Berkemaslah." Ucapan Taka membuatku mengerutkan kening setelah kami berdua sama-sama terdiam beberapa saat dan duduk di sofa. Kejadian barusan cukup membuat kami berdua shock.

__ADS_1


"Ke mana?" tanyaku pelan.


"Pindah ke rumahku. Maaf jika aku terdengar egois dan kejam. Tapi saat ini, aku berniat menjauhkanmu dari keluarga angkatmu itu. Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin kakakmu terus mengganggu kita. Gantilah nomor ponselmu nanti."


"Kamu punya rumah? Lalu apartemen ini?" tanyaku lagi.


Taka menatapku tanpa berkedip, "Kamu memang luar biasa, Rinai. Di saat aku merasa bersalah karena harus memisahkanmu dari keluargamu, kamu fokus pada rumah dan apartemen?" Wajahnya sudah sepenuhnya sebal.


Aku tertawa, "Tidak masalah jika harus menjauh dari keluargaku, toh itu untuk kebaikan kita berdua. Semakin lama kakak semakin tidak masuk akal. Mungkin suatu saat nanti dia bisa nekat dan melakukan sesuatu. Aku tidak ingin ambil resiko yang taruhannya adalah pernikahan kita."


Hening beberapa saat. "Aishiteru, Rinai-chan! Sangat." Taka tersenyum menatapku.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan rumah dan apartemen?" tanyaku penasaran.


Taka memutar matanya, "Aku memiliki sebuah rumah di Shibuya. Dan apartemen ini juga properti pribadi. Senang mendengar hal itu sekarang?"


Mataku membola mendengar ucapanya, Bisakah aku menjadi penyanyi sepertimu? Aku juga ingin memiliki rumah serta apartemen sendiri. Ah, mobil juga!"


"Tidak perlu. Semua milikku adalah milikmu juga. Lakukan semua yang kamu mau, tapi pastikan untuk tetap berada di sampingku. Shinu made."

__ADS_1


Aku mengangguk dan memeluknya erat, sedangkan dia hanya tertawa kecil seraya mengacak rambutku.


__ADS_2