
Selama beberapa hari ini kami tinggal di penginapan untuk menunggu waktu keberangkatan ke Korea Selatan. Karena sudah bosan berjalan-jalan, aku mengusulkan pada Taka untuk membersihkan rumah yang akan kami tempati dan juga membeli beberapa barang yang belum sempat kami beli. Akan merepotkan jika melakukan kedua hal itu sepulangnya dari Korea nanti. Untungnya Taka menyetujui usulku.
***
Hari keberangkatan sudah ditentukan dan kami sudah memiliki tiket. Sayangnya, keberangkatan kami tidak bersama-sama seperti yang kukira. Anggota band yang lain berangkat setelah jadwal keberangkatan kami karena masih ada hal yang harus diurus. Shinoda sendiri, akan berangkat dua hari sebelum keberangkatan kami untuk mengecek semua jadwal, akomodasi dan transportasi. Ia pribadi sudah berbicara padaku dan meminta maaf jika dalam perjalanan kali ini aku harus menyamar menjadi salah satu kru. Ia juga memberikan sebuah tanda pengenal akses bebas untuk kru dan memasukkan namaku secara resmi menjadi asisten pribadi dari Takahiro Moriuchi.
***
Memiliki sisa hari setelah membersihkan rumah, Taka mengajakku untuk mengunjungi orang tuanya. Jujur saja, pada awalnya aku grogi setengah ma*ti. Namun setelah bertemu dengan ibu serta adik-adik Taka, apa yang kupikirkan tidak terjadi. Mereka semua sangat ramah dan di luar dugaan bisa menerima keyakinan baru yang Taka anut.
Aku sempat terbelalak ketika suamiku itu membakar dupa dan melakukan penghormatan di depan foto neneknya. Setelahnya, ia menjelaskan jika hal itu adalah ritual tradisi turun temurun dan dianggap sebagai sapaan terhadap orang yang lebih tua atau leluhur (yang sudah meninggal).
Ibu Taka sendiri dulunya adalah seorang aktivis partai. Namun sekarang, beliau sudah menjadi anggota parlemen yang berkantor di Nagatachō, distrik Chiyoda, Tokyo.
Beberapa hari Setelah mengunjungi ibunya, Taka mengajakku untuk ke rumah ayahnya. Ayah Taka sudah kembali menikah untuk yang kedua kalinya dan menetap di Shinagawa. Di luar dugaan lagi, ayah dan ibu tiri Taka sangat ramah dan banyak bertanya tentang kehidupanku di Indonesia. Di sini juga, aku melihat Taka kembali membakar dupa dan melakukan penghormatan di depan foto-foto yang diakuinya sebagai leluhur dari pihak ayah.
__ADS_1
***
Hari keberangkatan pun tiba. Setelah sampai di Bandar Udara Internasional Narita, aku memakai tanda pengenal dengan mengalungkannya di leher. Beberapa orang yang melihat Taka, menyapa suamiku tersebut dan dibalas dengan lambaian tangan. Aku yang berjalan tepat di sebelahnya hanya bisa memandang ke arah kerumunan para gadis muda yang memanggil nama Taka dengan cukup keras.
"Bawakan ini," Taka memberikan paspor dan tiket yang akan diperiksa pada saat masuk ke ruang tunggu khusus penumpang nanti. Kami sedang minum kopi di depan sebuah kafe bandara, menunggu waktu dipanggil.
"Kenapa aku yang harus membawanya?" tanyaku.
Taka menatapku dan tersenyum menyebalkan, "Anda adalah asisten pribadi saya, Rinai-chan. Berlakulah layaknya seorang asisten."
Taka tertawa dan hampir mengacak rambutku saat aku tersadar jika kami ada di tempat umum. Dengan segera, aku memundurkan badanku menyandar di kursi untuk menghindar.
"Ah iya satu lagi! Karena saya adalah asisten anda, di Korea nanti, bisakah saya berfoto dengan para idola pria?" tambahku.
Taka menghembuskan nafas panjang. "Sepertinya kita bertukar peran sekarang. Bukan kamu yang akan menjagaku dari para fans atau idola di Korea sana, tapi aku yang harus menjagamu," Taka melirikku sinis dan sontak membuatku tertawa.
__ADS_1
***
Setelah menempuh perjalan sekitar 2 jam 37 menit, pesawat Air Seoul yang kami tumpangi mendarat di Bandar Udara Internasional Incheon (인천국제공항).
Mataku dimanjakan oleh pemandangan dari para pria berwajah cantik bertubuh atletis dan berkulit sebening pualam serta berpakaian modis. Korea Selatan memang dikenal sebagai salah satu negara yang melahirkan trend fashion dunia.
Taka yang berjalan di sebelahku dengan tiba-tiba menurunkan kacamata hitam yang bertengger di kepalaku. "Pakailah kacamatamu, matamu nyaris keluar dari tempatnya karena melihat pria-pria itu."
Aku yang hanya diam dan masih berjalan dengan menengok ke kiri dan ke kanan sepertinya membuat Taka kesal. Ia menggandeng tanganku dan melangkah cepat menuju ke pintu keluar untuk mencari Shinoda yang berkata akan menjemput kami.
"Selamat datang di Korea Selatan, Rinai-san!" ucap Shinoda girang ketika melihatku. Kami berdua memiliki hubungan pertemanan yang unik. Shinoda mengagumi budaya Indonesia dan sering bertanya padaku. Kami menjadi dekat karena hal tersebut.
Taka menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan kami berdua. Terlebih saat kami sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke hotel. Shinoda menjadi pemandu wisataku dan berjanji akan mengenalkan beberapa artis Korea Selatan yang sudah memiliki jadwal untuk bertemu dengan Taka.
"Sepertinya aku membuat keputusan yang salah dengan membawamu kesini, Rinai. Kamu terlalu bersemangat untuk bertemu dengan para idola itu," ucapnya kesal.
__ADS_1
Mendengar perkataannya, aku hanya bisa tersenyum lebar.