Aishiteru, Taka!

Aishiteru, Taka!
Chapter 24


__ADS_3

Dalam waktu singkat, internet di penuhi oleh berita tentang Taka dan Mina. Para pendukung Mina yang bersimpati atas apa yang Mina alami mulai menyerang Taka dan pendukung O'Clock yang tidak percaya atas pengakuan Mina pun tidak mau kalah untuk membela Taka. Mereka berperang komentar di dunia maya dan membuat hubungan antar fans memanas.


Shinoda mengusap wajahnya kasar. Konferensi pers dari pihak Mina yang diharapkan untuk menjadi pereda berita sebelumnya malah semakin membesar karena pernyataan Mina yang jelas-jelas berbohong. Sayangnya, tidak ada bukti atau satupun saksi mata sehingga kasus ini semakin membuat publik bertanya-tanya.


***


"Aku harus bertemu Mina," ucapku pada istri Toru. "Aku akan memaksanya untuk mengaku pada publik jika ia berbohong."


"Bagaimana caranya?" tanya wanita itu.


"Dengan sesuatu yang aku ketahui. Yang aku tidak tau, bagaimana cara untuk bertemu dengannya. Kondisi semakin memanas, dan mengambil tindakan tanpa membicarakannya dengan Shinoda-san atau Taka bukanlah sebuah ide yang bagus."


"Tenang, Rinai-san! Kita akan menemukan caranya. Aku tidak percaya sedikit pun perkataan Mina. Gadis itu ular! Aku bahkan tidak perlu bertanya apa-apa pada Taka karena aku mempercayainya."


Itu memang benar. Aku pun tidak perlu bertanya pada Taka apakah hal yang diucapkan Mina benar atau tidak. Aku tau persis ucapan gadis itu 100% bohong.


***


Shinoda tertegun dan Taka hanya diam mendengar apa yang kusampaikan. Aku meminta Shinoda untuk mempertemukanku dengan Mina.


"Akan sedikit susah, Rinai-san. Aku sudah berkali-kali mencoba menghubunginya, namun tidak ada respon sama sekali."


"Kirimlah pesan ke orang-orang terdekatnya, Shinoda-san. Katakan padanya, jika dia tidak menarik semua perkataannya di media, akan ada seseorang yang muncul dan membuktikan jika dia berbohong," kataku pelan.


"Apakah kamu bermaksud untuk mengaku, Rinai?" tanya Taka.


"Sebenarnya tidak, jika dia mau meluangkan waktu bertemu dengan pihak kita. Namun, jika ia tidak mau menemui kita, kurasa aku tidak punya pilihan lain selain mengaku."


Shinoda menganggukkan kepala. "Aku setuju denganmu Rinai-san. Sebisa mungkin, gadis itu harus merespon dulu kesempatan dari kita walaupun aku tidak setuju jika kamu mengaku sekarang. Jangan salah paham, Rinai-san. Aku mengkhawatirkan dampak yang akan kamu terima."


Shinoda mencoba untuk menghubungi Mina kembali melalui beberapa orang terdekat gadis itu. Setiap menit kami lalui dengan ketegangan menunggu kabar selanjutnya.


***


"Taka! Mina membalas pesanku. Ia ingin bertemu denganmu, hanya denganmu," ucap Shinoda beberapa hari setelahnya.


Kami memutuskan masih akan tinggal sementara di Korea Selatan sampai masalah ini mendapat jalan keluar. Bukan hanya pihak kami yang mencari Mina, beberapa stasiun televisi memburu gadis itu untuk mendapatkan keterangan darinya.


"Di mana dia ingin bertemu denganku?" tanya Taka.


"Di sebuah hotel di daerah Myeongdong."


Jebakan yang lain! Alasan kenapa gadis itu ingin bertemu Taka di sebuah hotel adalah untuk memancing Taka masuk ke jebakan yang lain.


"Tapi sesuai rencana, aku sudah menolaknya dan mengusulkan sebuah kafe kecil di kawasan Bukchon Hanok Village. Di sana tidak terlalu ramai dan aman dari media," tambah Shinoda.


Aku yang sudah memperkirakan hal ini, mulai menyusun rencana lanjutan. Taka akan menemui Mina dan aku serta yang lain akan bersembunyi untuk sementara waktu. Aku akan menaruh ponselku di saku Taka yang akan terhubung dengan earphone yang kupakai dan menunggu waktu yang tepat untuk memunculkan diri.


***


Sehari sebelum pertemuan dengan Mina, Shinoda meminta semua personel dan kru yang ada untuk kembali ke Jepang. Hanya Toru dan istrinya yang tetap tinggal bersama kami.


Shinoda meminta personel yang akan kembali ke Jepang membantu menenangkan dan meredakan kemarahan fans mereka.


Taka sendiri lebih memilih diam di hotel. Para awak media dengan setia menunggu di tempat parkir hotel untuk meminta keterangan dari Taka. Walaupun diam, aku tau persis jika situasi ini membuatnya terpukul.


***

__ADS_1


"Aku lelah," ucap Taka memelukku dari belakang saat sedang melihat lampu-lampu dari jendela kamar hotel.


Aku yang terkejut karena beberapa saat lalu ia sedang tidur sontak membalikkan badan dan memeluknya erat.


"Tenanglah, aku ada di sini," balasku berusaha menenangkan. Besok adalah hari di mana Taka akan berjumpa dengan Mina.


"Aku takut tidak bisa menahan marah dan kehilangan kesabaranku. Mungkin aku akan membuatnya rata dengan tanah."


Aku menuntunnya ke sofa dan memintanya untuk duduk sementara aku membuatkan segelas teh.


"Duduklah bersandar padaku," ucapku lirih setelah menaruh dua gelas teh panas di atas meja.


Ketegangan yang tercipta membuat Taka dan juga aku tidak bisa tidur dengan nyenyak akhir-akhir ini. Kami berdua berharap pagi segera datang untuk membereskan masalah secepatnya.


"Apa arti tato di tangan-tanganmu ini?" tanyaku menundukkan badan ke arah lengan Taka.


Sejujurnya, aku tidak tertarik! Dari awal aku bertemu dengannya, aku tidak pernah tertarik untuk menanyakan arti tato di tubuhnya. Aku merasa tidak akan bisa menerima jika ternyata tato itu dibuat untuk mengenang kisah cinta Taka di masa lalu. Namun, malam ini berbeda. Karena sudah terlalu tegang membahas masalah yang berhubungan dengan Mina, ada baiknya kami membicarakan hal yang ringan.


"Ini tato pertama yang aku buat" ucap Taka menunjuk tato di pergelangan tangan kiri yang berbentuk kelelawar. "Ini adalah tato keberuntungan. Karena suara kanji fu (keberuntungan) sama dengan kata fu (kelelawar) dalam bahasa Cina."


"Lalu ada gambar matahari. Matahari mewakili Jepang (Negeri Matahari Terbit). Matahari dapat mewakili kehidupan, kekuatan, kebenaran, kepemimpinan, cahaya yang paling terang."


Aku mengangguk mengerti saat ia menerangkan satu persatu makna di balik tatonya. Beruntung, tidak ada satupun tato yang berhubungan dengan kisah cinta di masa lalu.


"Lalu yang ini?" tanyaku mengusap sebuah tato tulisan berbentuk tanda panah ke bawah di bagian dalam lengan kanan. Aku tidak bisa membaca tulisannya karena terlalu kecil.


"𝙒𝙖𝙩𝙘𝙝 𝙮𝙤𝙪𝙧 𝙩𝙝𝙤𝙪𝙜𝙝𝙩𝙨 𝙩𝙝𝙚𝙮 𝙗𝙚𝙘𝙤𝙢𝙚 𝙬𝙤𝙧𝙙𝙨


𝙒𝙖𝙩𝙘𝙝 𝙮𝙤𝙪𝙧 𝙬𝙤𝙧𝙙𝙨 𝙗𝙚𝙘𝙖𝙪𝙨𝙚 𝙩𝙝𝙚𝙮 𝙬𝙞𝙡𝙡 𝙗𝙚𝙘𝙤𝙢𝙚 𝙖𝙘𝙩𝙞𝙤𝙣𝙨


𝙒𝙖𝙩𝙘𝙝 𝙮𝙤𝙪𝙧 𝙖𝙘𝙩𝙞𝙤𝙣𝙨 𝙛𝙤𝙧 𝙩𝙝𝙚𝙮 𝙗𝙚𝙘𝙤𝙢𝙚 𝙝𝙖𝙗𝙞𝙩𝙨


𝙖𝙣𝙙 𝙛𝙞𝙣𝙖𝙡𝙡𝙮 𝙬𝙖𝙩𝙘𝙝 𝙮𝙤𝙪𝙧 𝙘𝙝𝙖𝙧𝙖𝙘𝙩𝙚𝙧 𝙗𝙚𝙘𝙖𝙪𝙨𝙚


𝙞𝙩 𝙬𝙞𝙡𝙡 𝙪𝙡𝙩𝙞𝙢𝙖𝙩𝙚𝙡𝙮 𝙗𝙚𝙘𝙤𝙢𝙚 𝙮𝙤𝙪𝙧 𝙙𝙚𝙨𝙩𝙞𝙣𝙮.


𝙋𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙩𝙖-𝙠𝙖𝙩𝙖


𝙋𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖-𝙠𝙖𝙩𝙖𝙢𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙣𝙙𝙖𝙠𝙖𝙣


𝙋𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙣𝙙𝙖𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣


𝙋𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙖𝙠𝙩𝙚𝙧𝙢𝙪


𝘿𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙖𝙠𝙩𝙚𝙧𝙢𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙠𝙙𝙞𝙧𝙢𝙪."


Aku terdiam mendengar penjelasan Taka. Satu kalimat yang bisa kuungkapkan adalah, aku menyukai tato yang satu ini!


***


Aku, Taka, Shinoda, Toru dan istrinya tiba di tempat Taka dan Mina akan bertemu, satu jam sebelum waktu janjian tiba. Kami berada di salah satu kafe kecil yang menyediakan roti segar yang baru saja matang dan juga kopi. Shinoda meminta ijin pada pemilik kafe agar kami bisa menempati ruangan di belakang kafe. Untungnya, pemilik yang baik hati itu mengijinkannya. Bahkan, ia mengantar pesanan kami dengan sangat ramah.


"Sebaiknya aku menunggu di depan," Taka berkata dan bangkit berdiri. "Aku tidak mau Mina curiga jika ia melihatku keluar dari sini."


Kami semua mengangguk dan kembali fokus pada pembicaraan. Aku sudah menaruh ponselku di saku hoodie yang Taka pakai.


Setengah jam berlalu, Taka berbisik jika ia sudah melihat Mina yang sedang berjalan menuju ke kafe tempat di mana kami sudah menunggunya.

__ADS_1


***


"Sepertinya kamu sangat merindukanku, Taka-san. Sampai-sampai kamu sudah tiba di sini sebelum jam yang kita sepakati," sapa Mina yang dengan cepat duduk di kursi depan Taka.


"Kenapa kamu melakukan itu, Mina-ssi? Kenapa kamu berbohong dan berkata seperti itu di depan media? Apa yang kamu ucapkan itu bohong."


"Siapa yang tidak akan percaya padaku, Taka-san? Aku memiliki banyak penggemar yang mendukungku. Buktinya, sekarang mereka percaya jika kamu memang melakukan pelecehan pada malam itu," Mina tersenyum.


"Wanita ular," maki Taka pelan.


Di depannya, Mina menyandarkan punggung ke kursi dan bersedekap. "Aku tidak peduli Taka-san. Jujur saja, aku senang melakukan ini untuk membalas kesombonganmu. Aku puas mereka mulai mencacimu di dunia maya."


"Kamu benar-benar berbahaya, Mina-ssi! Tolong katakan, di bagian 'kesombonganku' yang mana yang membuatmu melakukan hal serendah ini?"


"Kamu menolakku Taka-san! Di saat para pria di negeri ini terpesona olehku, kamu malah menolakku! Kenapa? Apa karena kamu menyimpan perasaan pada asistenmu itu? Aku melihat kalian saat mengantar Bobby ke hotel untuk memberikan sebuah hadiah untuk asistenmu. Aku melihat bagaimana kamu cemburu dan menarik tangan asistenmu keras!"


"Wanita ular si*alan!" maki Taka lagi.


Mina tertawa, "Jangan marah. Aku datang ke sini untuk menawarkan jalan keluar." Gadis itu memajukan tubuhnya mendekati Taka.


Aku dan yang lain mengamati mereka berdua dalam diam. Emosiku sendiri sudah hampir mencapai level tertinggi. Aku sudah membayangkan untuk menghampiri meja mereka secepatnya dan menghan*tam gadis itu dengan kursi.


"Jalan keluar?" tanya Taka penasaran.


"Ya. Bagaimana jika kejadian ini kita jadikan kesempatan? Jalinlah hubungan dekat denganku, dan aku akan pastikan jika semua pemberitaan negatif tentang dirimu akan menghilang," Mina melakukan penawaran.


"Jika aku tidak mau?" tantang Taka.


"Bersiaplah menghadapi kemarahan publik. Aku memiliki bukti alat kontra*sepsi yang kamu tinggalkan," ucap Mina tersenyum.


Cukup sudah! Aku mu*ak dengan gadis itu. Aku berniat menghampiri meja mereka sebelum menatap Shinoda yang di luar dugaan menganggukkan kepalanya.


"Alat kontra*sepsi apa yang kamu maksud, Nona Mina?" Suaraku mengejutkan mereka berdua. Taka langsung berdiri melihatku. Dengan perlahan, aku menarik kursi dan ikut duduk. "Alat kontrasepsi yang kamu sediakan sendiri kah? Atau kamu memesannya dari suatu tempat? Aku memperkirakan jika kamu memesan benda itu dari Jepang, supaya publik semakin percaya jika Taka memang melecehkanmu."


"Tidak ada yang mengundangmu ke sini, asisten! Pergilah cepat sebelum kesabaranku habis." Mina menatapku tajam dan aku membalasnya dengan tersenyum sinis.


"Apa yang kamu lakukan sangat fatal. Menjebak seseorang yang datang dari negara lain dengan harapan orang tersebut tidak akan banyak mendapat dukungan di negara ini."


"Jangan merasa tau segalanya! Kamu tidak tau apa-apa. Kamu tidak tau rasanya dilecehkan lalu dicampakkan!" Suara Mina mulai meninggi.


"Pelecehan apa? Sama sekali tidak ada pelecehan di sini. Bukti yang kamu jadikan kartu As adalah sebuah alat kontra*sepsi bukan? Sayangnya itu mustahil. Kamu tidak akan bisa mendapatkan keinginanmu."


"Aku akan membawa alat kontra*sepsi itu ke media sepulangnya dari sini!" bentaknya.


Aku tertawa kencang. Kepalaku sudah penuh dengan kalimat-kalimat makian namun mau tidak mau aku harus bersikap tenang atau semuanya akan kacau. "Biarkan aku bertanya satu hal saja."


"Apa?!"


"Benarkah Taka-san melecehkanmu dan meninggalkan alat kontra*sepsinya?" tanyaku serius.


"Iya! Dia melecehkanku dengan menggunakan alat kontra*sepsi! Dia bahkan membawa beberapa lagi sebagai stok dan menjatuhkan satu saat sudah selesai menghancurkan hidupku!"


Aku menghembuskan napas panjang dan mengalihkan pandangan ke arah pemilik kafe yang sedang memotong roti. Rasa-rasanya aku ingin berlari dan merebut pisau itu, lalu menu*suk kepala Mina kuat-kuat karena sudah memikirkan hal men*jijikan bersama suamiku.


"Baiklah kalau begitu," ucapku pada akhirnya. "Pergilah dari sini dan bawalah barang buktimu pada media. Ah tidak, tidak cuma media. Bawa sekalian barang buktimu ke kantor polisi dan buatlah laporan resmi."


"Apa?!" Mina tidak bisa menutupi keterkejutannya.

__ADS_1


"Ya, laporkan saja ke mana pun kamu mau," ucapku pendek.


Taka mengerutkan keningnya dan aku masih menatap tajam tepat ke arah kedua mata Mina.


__ADS_2