Aishiteru, Taka!

Aishiteru, Taka!
Chapter 8


__ADS_3

[Rinai, apa kabar? Kakakmu bilang kalau kamu sudah menikah. Kenapa tidak memberitahukan apa-apa pada Mbak?]


Sebuah pesan dari Mbak Aga kuterima saat sedang mencuci, sedangkan Taka beberapa waktu lalu pergi ke studio untuk latihan. Aku terdiam beberapa saat untuk menimbang apakah perlu atau tidak membalas pesan Mbak Aga. Walaupun masih kesal, pada akhirnya aku memutuskan untuk membalas pesannya. Toh, aku dan Taka sudah menikah sekarang.


[Kabar baik, Mbak. Maaf tidak memberitahu Mbak. Aku cukup sibuk karena harus mempersiapkan pernikahan dan pernikahan kami hanya dilangsungkan secara sederhana saja]


Melihat jika Mbak Aga sedang offline, aku menaruh ponselku dan melanjutkan kegiatan mencuci.


***


Ponselku berdering tanda ada panggilan video masuk yang ternyata berasal dari nomor papa. Dalam sekejap, terlihat wajah mama dan papa di layar ponsel.


"Pengantin baru! Sedang apa?" tanya papa tertawa. Di sebelahnya mama menatap dengan berkaca-kaca.


"Baru selesai mencuci, Pa," jawabku tersenyum lebar.


Beberapa saat kemudian kami habiskan dengan membicarakan kabar dan juga kegiatan sehari-hari.


"Nak, awal bulan depan Papa dan Mama akan berkunjung ke sana. Kakak dan Kak Putra juga berencana ikut untuk kembali mengunjungi rumah sakit. Apakah suamimu bisa meluangkan waktu?" tanya mama. Keluargaku tau jika aku menikah dengan seorang vokalis grup band yang cukup terkenal.


"Seingat Rinai, sampai akhir bulan depan, suamiku masih belum ada jadwal, Ma."


Mama terlihat mengangguk. Setelah kembali berbincang ringan, mama pamit dan memutuskan sambungan.


***


"Orang tuaku akan berkunjung ke sini awal bulan depan." Kami baru saja selesai makan malam dan Taka sedang membantuku membereskan piring kotor.


"Tidak masalah. Keluargamu akan menginap di mana?"

__ADS_1


"Mungkin di apartemen yang kusewa kemarin. Kakak dan Putra juga akan ikut untuk kembali memeriksakan diri ke rumah sakit," jelasku.


Taka hanya mengangguk. "Buatlah sebuah acara makan bersama, aku akan memesan sesuatu nanti."


Aku menoleh menatap matanya, "Mbak Aga tadi pagi mengirimkan aku sebuah pesan. Dia bertanya kenapa aku tidak memberitahukan kabar pernikahan kita."


"Bagaimana jika sekalian mengundangnya untuk makan malam?" tanya Taka. Sudah berkali-kali ia berkata jika tidak mempermasalahkan kejadian tempo hari di mana kami sempat berjauhan satu sama lain karena perbuatan Mbak Aga.


"Baiklah, aku akan mengirimnya pesan untuk ke sini. Bagaimana latihanmu tadi?"


"Kami sudah masuk ke materi lagu sebelum pada akhirnya rekaman. Sesuai jadwal, setelah bulan depan, kami akan ke luar negeri untuk rekaman dan juga syuting video klip."


"Aku bisa ikut denganmu 'kan?" tanyaku penuh harap.


"Tentu saja, kamu harus ikut." Taka mengeringkan tangannya dengan menggunakan lap. "Shinoda —manajer band— sudah berpesan padaku agar kamu ikut. Dia tidak ingin aku nekat dan memutuskan pulang ke Jepang karena sekedar ingin bertemu denganmu."


"Apakah akan aman?" tanyaku lagi penasaran.


"Apa?"


"Jadilah asisten pribadiku," jawab Taka.


Sepertinya tanpa sadar aku sudah melotot karena Taka tidak bisa menahan tawa melihat wajahku.


"Kamu serius? Aku? Seorang asisten pribadi?" suaraku meninggi.


"Kamu tidak menyukainya?" Taka sudah berhenti tertawa sepenuhnya dan wajahnya mulai terlihat cemas.


"Kata siapa? Itu ide terbaik yang pernah kudengar. Dengan begitu aku bisa memastikan jika tidak ada seorang pun yang bisa mengganggumu. Kamu milikku," ucapku santai.

__ADS_1


Wajah Taka terlihat kaget untuk sejenak sebelum akhirnya tertawa lepas, "Ya, Rinai-chan. Aku milikmu."


"Negara apa yang akan kita datangi pertama kali?"


"Korea Selatan," jawab Taka.


"Benarkah?! Apakah kamu akan bertemu dengan artis-artis dari negara itu?"


"Aku rasa iya," Taka mulai menatapku aneh.


"Apakah asisten pribadimu harus selalu mendampingimu?"


"Iya."


"Kemana pun kamu pergi?"


"Betul, ada apa Rinai?" tanya Taka.


"Sebentar. Itu artinya aku bisa menemanimu saat kamu berjumpa dengan artis-artis Korea?"


"Iya Rinai. Katakan ada apa?" Taka terlihat tidak sabar.


"Itu berarti aku bisa bertemu dengan artis Korea juga? Berfoto dan meminta tanda tangan?"


"Iya! Kamu akan bertemu dengan siapa pun yang juga bertemu denganku," wajah Taka sudah sepenuhnya kesal.


"Bagus! Aku selalu mengidolakan artis-artis Korea yang bermain dalam drama!" ucapku girang.


Taka menepuk dahinya pelan dan memandangku sebal, "Kamu bisa bertemu dengan mereka Nyonya Taka. Tapi, pastikan untuk tidak bersikap berlebihan atau aku akan memulangkanmu langsung ke Jepang saat itu juga."

__ADS_1


Mendengar ia menekankan kata 'Nyonya Taka' membuatku tidak bisa mengendalikan tawa.


__ADS_2