Aishiteru, Taka!

Aishiteru, Taka!
Chapter 9


__ADS_3

Aku dan Taka sedang bersiap-siap untuk pergi ke Tokyo Camii. Taka akan mengikuti kelas panduan sholat sedangkan aku akan mengikuti kelas mengaji. Sudah lama aku tidak pernah mengaji lagi setelah khatam Al-Quran bertahun-tahun yang lalu.


Aku baru mengetahui jika suamiku memiliki sebuah mobil yang sayangnya jarang digunakan dan hanya menggunakannya untuk keperluan-keperluan tertentu saja. Kebanyakan, orang Jepang menggunakan transportasi publik seperti kereta, bis atau taksi karena biaya yang harus dikeluarkan jauh lebih murah.


Berjalan di muka umum dengan seorang idola yang terkenal membuatku was-was —walaupun Taka selalu menggunakan masker dan topi—. Namun, suamiku itu menjelaskan jika di Jepang, para artis dan juga idola masyarakat masih bisa berpergian ke manapun dengan tenang. Tidak seperti di negara lain, di Jepang penggemar bisa dijatuhkan sangsi yang berat jika bertindak di luar batas, semisal untuk mengambil foto.


Di sini tidak diperkenankan untuk mengambil foto seseorang tanpa ijin. Hal itu dianggap melanggar privasi, dan jika dilanggar, sangsi yang akan dijatuhkan tidak main-main. Orang Jepang juga pada umumnya menjunjung tinggi tata krama. Tidak ada histeria berlebih saat bertemu idola. Para penggemar hanya akan menghampiri dan meminta ijin secara langsung untuk sekedar berjabat tangan atau berfoto bersama.


Kami menghabiskan waktu sampai sehabis dhuhur di Tokyo Camii sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang kami makan siang di salah satu restoran kecil di dekat stasiun.


***


Rutinitas sehari-hariku masih saja sama. Mengurus rumah dan memastikan jika bahan makanan selalu tersedia. Jadwal Taka yang masih belum terlalu padat membuatnya lebih sering berada di rumah dan menghabiskan waktu untuk belajar agama. Selain dari buku, ia juga mengikuti kelas online yang diadakan Tokyo Camii tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan islam.


"Aku akan ke luar untuk membeli beberapa bahan makanan," ucapku pada Taka yang sedang duduk menghadap layar komputer.

__ADS_1


Ia bangkit dan menawarkan diri untuk menemaniku tapi aku menolaknya. Aku tidak ingin kegiatan belajarnya terganggu. Dengan berjalan kaki, aku menuju ke sebuah supermarket yang terletak di kawasan Marunouchi.


***


Kekuargaku sudah tiba di Tokyo beberapa saat lalu. Mereka mengabarkan jika akan menuju ke lokasi apartemen yang sebelumnya ku sewa untuk tinggal selama beberapa saat di sana. Aku memberitahukan mereka jika akan segera ke apartemen tersebut, setelah mereka datang. Sayangnya, Taka sedang sibuk di studio beberapa hari terakhir ini sehingga dia tidak bisa menemaniku. Ia memintaku untuk mengadakan makan malam keluarga dan juga mengundang Mbak Aga.


Kedatangan keluargaku kali ini membuatku merasa was-was. Bukan apa-apa, kakak dan Putra juga ikut berkunjung ke sini. Terakhir kali mereka datang, masalah besar terjadi di antara aku dan Taka dengan Mbak Aga sebagai perantaranya.


Sampai saat ini, kakakku mungkin belum tau jika Mbak Aga sudah mengaku padaku bahwa yang memintanya untuk mengacaukan hubunganku dengan Taka adalah dia. Aku sudah membicarakan hal ini dengan suamiku itu tapi ia hanya berkata untuk tidak perlu memikirkan hal ini. Walau bagaimana pun, sekarang kami berdua sudah terikat pernikahan dan tidak ada hal yang perlu dicemaskan.


***


Aku baru saja duduk di sofa saat bel berbunyi dan mereka semua datang. Taka sedang berada di studio dan berjanji akan membawa sesuatu saat ia pulang nanti.


"Apartemen kamu bagus banget, Dek," ucap kakak sembari melihat-lihat. "Kakak baru tau kalo jadi artis di sini penghasilannya bisa lumayan."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan lebih memilih mengobrol dengan mama dan papa. Putra sendiri hanya banyak diam, dia duduk di meja makan dan sibuk dengan ponselnya.


"Mana sih dek, suami kamu? Sok sibuk banget deh. Padahal tau keluarga istrinya mau datang, kok ya ngga ngeluangin waktu," ketus kakakku. Ia ikut duduk di sofa setelah sebelumnya mengambil sebuah apel di meja.


Aku menghembuskan nafas panjang dan merasa jika sikap kakakku itu semakin menyebalkan.


***


Ekspresi yang ditunjukkan kakakku dan Mbak Aga cukup membuatku merasa yakin jika ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Mbak Aga yang terlihat lebih banyak diam dan kakak yang sesekali melontarkan ucapan pedas membuatku mengerutkan kening. Mbak Aga menatapku beberapa kali seolah minta diselamatkan dari situasi ini.


Tidak lama setelah Mbak Aga datang, Taka pulang. Aku hampir tidak bisa menahan tawa saat melihatnya memperkenalkan diri secara resmi pada mama, papa dan Putra. Pada Mbak Aga, ia menyapa dengan tersenyum dan menanyakan kabar. Kakakku baru ke luar dari kamar mandi saat suamiku masih berbincang dengan mama dan papa. Saat Taka berbalik dan melihat kakakku, keduanya terpaku untuk sesaat.


"Hiro?" ucap kakakku dengan ekspresi terkejut.


Ekspresi yang sama juga ditunjukkan oleh Taka. "Apa kabar, Rindu?"

__ADS_1


Aku mengerutkan kening dan melempar pada pandang pada Mbak Aga yang terlihat membuang muka. Hal itu membuatku terkejut setelah sebelumnya cukup kaget atas sikap kakak dan Taka. Dengan menundukkan wajah, aku semakin merasa jika kekhawatiranku semakin besar saat menyadari jika Taka dan kakakku sudah saling mengenal satu sama lain.


__ADS_2