
"Ingin berendam? Kita bisa menginap di penginapan yang memiliki fasilitas Onsen."
Kami sudah selesai berjalan-jalan di sekitar Persimpangan Shibuya dan sedang berada di mobil saat Taka bertanya. Aku yang kerepotan membawa beberapa plastik berisi makanan ringan, hanya bisa diam. Taka menatapku dan mengusap kepalaku lembut.
"Rinai? Apakah kamu ingin mencoba berendam di Onsen?" tanyanya lagi.
Onsen adalah istilah bahasa Jepang untuk sumber air panas dan tempat mandi berendam dengan air panas yang keluar dari perut bumi. Penginapan yang memiliki tempat pemandian air panas disebut Onsen Yado.
Selain Onsen, Jepang juga terkenal akan Sento. Sento adalah pemandian umum yang banyak digunakan warga lokal yang disebut juga Kenkou Land (health spa) yang bisa membuat tubuh lebih rileks.
Aku, yang baru saja fokus pada pertanyaan Taka, sontak mengangkat wajah. "Aku mau!" ucapku cepat. "Kita akan ke penginapan mana?"
Taka terlihat berpikir sejenak. "Karena kamu tadi bertanya tentang rumah Doraemon, maka aku akan membawamu ke Nerima. Di sana ada penginapan dengan Onsen yang memungkinkanmu menggunakan baju renang."
__ADS_1
Aku menatapnya tidak mengerti. Seolah tau kebingunganku, Taka kembali menjelaskan. "Hampir semua Onsen memiliki peraturan untuk pengunjung yang akan berendam. Salah satunya, tidak diperbolehkan untuk menggunakan pakaian sama sekali. Untuk Onsen yang terdapat di penginapan, ada juga fasilitas Kashkiri, atau Onsen yang disewakan secara privat. Biasanya yang menggunakan fasilitas ini adalah pasangan suami istri atau keluarga."
Aku membelalakan mata.
"Tapi tidak semua Onsen seperti itu. Yang akan kita kunjungi adalah Onsen yang ramah pengunjung. Pengunjung bisa tetap menggunakan pakaian saat berendam," Taka berkata cepat sebelum aku sempat bersuara.
"Baiklah kalau begitu," ucapku lega. Sesuatu melintas di pikiran dan membuatku menatap Taka lama. "Kamu sering mengunjungi Onsen?"
"Hanya beberapa kali."
"Pada umumnya, Onsen memang dipisah antara bagian laki-laki dan perempuan. Namun, ada juga —walaupun tidak banyak— Onsen Konyoku di mana pengunjung pria dan wanita dijadikan satu."
Aku merasakan emosi yang mulai naik seiring dengan pikiran yang tidak dapat kukendalikan. "Kamu pernah mencoba Onsen Konyoku?"
__ADS_1
Taka mengangguk pelan, wajahnya mulai gelisah. Sepertinya dia tau ke mana arah pembicaraanku.
"Ada sesuatu yang kamu lihat di sana?"
"Ya..., semua yang datang ke Onsen Konyoku dapat melihat 'apapun'," jawabnya pelan.
Aku memajukan tubuh mendekatinya, mencengkram rambutnya dengan kedua tangan lalu mengguncangnya, "Apa yang kamu lakukan?! Tidakkah kamu berpikir pada saat mengunjungi Onsen Konyoku bahwa di masa depan mungkin istrimu akan kaget dengan apa yang kamu lakukan?!'
"Rinai-chan, maaf! Tapi di Jepang, itu adalah hal yang biasa," lirihnya. "Lagipula, walaupun aku mengunjungi Onsen Konyoku, aku selalu pergi dengan teman-teman bandku. Itu pun saat sudah tengah malam atau dini hari, jadi tidak ada pengunjung wanita satu pun," Taka menjelaskan.
Sontak, aku melepaskan cengkramanku. "Seharusnya kamu menjelaskan itu dari awal, jadi aku tidak perlu bersikap bar-bar. Maafkan aku," ucapku menaruh kedua tangan di perut dan membungkuk.
Taka masih mengusap rambutnya yang sudah berantakan dan aku tersenyum lebar melihatnya.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang?" tanyaku pelan.
Taka mengangguk dan mendekatiku. Sesaat, aku merasa jika ia akan membalas perlakuanku padanya. Namun ternyata, dia memasangkan sabuk pengaman dan mengecup dahiku lembut.