Aishiteru, Taka!

Aishiteru, Taka!
Chapter 22


__ADS_3

Shinoda dan para personel lain sudah bisa meninggalkan kantor polisi sedangkan aku dan Taka masih tetap menjalani pemeriksaan. Selama di sini, ada sesuatu yang mengganggu pikiran dan membuatku ingin bertanya pada Taka. Namun sayangnya, kami belum diijinkan untuk saling berbicara oleh petugas kepolisian. Di kantor polisi, aku menjadi tau jika pemberitaan tentang kasus ini sudah menyebar di masyarakat. Beberapa surat kabar dan media elektronik mengangkat judul tentang seorang vokalis grup band ternama Jepang yang ditemukan tidak sadarkan diri karena obat-obatan."


***


Setelah sehari semalam tinggal di kantor polisi, kami diijinkan untuk pulang. Polisi berkata jika Taka lalai karena meminum obat tidak sesuai dosis sehingga membuatnya kehilangan kesadaran. Hal ini bisa dimaklumi oleh pihak mereka karena Taka baru pertama kali meminum obat tersebut. Taka dianggap tidak tau persis dosis obat, karena pernyataannya yang menyebutkan bahwa ia mengkonsumsi obat tersebut sebanyak lima kali, padahal dosis umumnya hanya tiga kali dalam waktu 24 jam.


Para petugas mengucapkan terima kasih banyak atas tindakan kooperatif yang kami lakukan.


Saat akan pergi, aku yang masih penasaran akan satu hal, bertanya pada petugas itu. "Bisakah saya tau siapa yang melaporkan kejadian ini ke polisi?"


Polisi itu terdiam sejenak sebelum menjawab, "Saya tidak bisa memberitahu anda tentang identitas pelapor. Tapi saya bisa sebutkan jika pelapor adalah seorang wanita. Dia sendiri sudah diperiksa di ruangan lain kemarin malam, dan sudah diijinkan pulang."


Aku mengucapkan terima kasih dan menggenggam tangan Taka, keluar dari kantor polisi.


***


Shinoda dan yang lainnya menyambut kami di lobby hotel dan meminta kami untuk beristirahat. Aku yang sudah sangat mengantuk, ingin secepatnya merebahkan badan di kasur.


"Terima kasih banyak," ucap Taka lirih dan memelukku dari belakang saat kami baru saja masuk ke kamar. "Terima kasih sudah membantuku."

__ADS_1


Aku berbalik dan memeluknya dengan erat. "Aku ingin bertanya banyak hal padamu, tapi badanku sangat lelah. Mandi lalu kemudian tidur akan menjadi hal yang sangat menyenangkan."


Taka tertawa dan melepaskan pelukannya. "Ide itu terdengar bagus."


Aku menaruh tas dan bergegas ke arah kamar mandi.


***


"Apa yang terjadi?" tanyaku penasaran.


Shinoda dan yang lain sudah berada di kamarku dan Taka setelah kami mandi dan juga tidur cukup lama. Mereka membawakan banyak makanan untuk kami.


"Ya, setelah makan malam, aku melihat Taka berpamitan untuk tidur sebentar dan minta untuk dibangunkan saat tiba gilirannya untuk rekaman ulang," tambah Shinoda.


Aku menoleh menatap Taka dan menunggu gilirannya bercerita. "Aku meminum obat setelah makan malam karena Rinai berpesan seperti itu. Saat akan menuju kamar, aku bertemu dengan Mina-ssi dan juga temannya."


Nafasku tercekat dan tiba-tiba aku merasa sesak.


"Mereka mengajakku untuk minum di sebuah klub malam tidak jauh dari studio, namun aku menolaknya. Aku bilang, aku tidak minum. Lagi pula aku baru saja minum obat dan akan berbahaya jika minum alkohol setelahnya.

__ADS_1


Aku masuk ke kamar dan tidur sampai akhirnya seseorang terdengar berteriak dan aku merasa di bawa ke suatu tempat. Aku ingin bangun namun entah kenapa rasa kantuk yang amat sangat kembali menarikku agar tidur. Aku baru sadar sepenuhnya saat sudah berada di kantor polisi," jelas Taka.


Kamarku menjadi hening karena tidak ada yang bersuara setelah Taka selesai bercerita.


"Apakah kalian tau siapa yang sudah menelepon polisi?" tanyaku yang direspon gelengan oleh mereka semua.


"Aku sudah bertanya pada orang-orang di studio rekaman, namun mereka bilang bukan pihak mereka yang melaporkan," jawab Toru.


Aku mengangguk pelan, "Sebelum meninggalkan kantor polisi, aku sempat bertanya pada salah seorang petugas tentang sosok yang melaporkan kejadian ini. Pihak kepolisian merahasiakan identitas pelapor, namun petugas itu memberitahukan satu hal bahwa pelapor adalah seorang wanita yang juga sempat diperiksa bersama dengan kalian di ruang yang berbeda."


"Hanya Mina-ssi dan temannya, satu-satunya wanita di studio rekaman, Rinai-san," kata Shinoda. "Kita bisa bertanya padanya, kenapa dia melakukan hal ini. Langsung melaporkan hal tersebut ke polisi tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi akan menjadi sangat fatal seperti saat ini.


Pemberitaan negatif sudah muncul, padahal Taka hanya mengkonsumsi obat flu. Kita harus membuat konverensi pers secepatnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada masyarakat. Tapi, kita juga harus tetap bertanya pada Mina-ssi. Tidak bijaksana jika tidak bertanya, karena namanya akan disebut pada saat konverensi pers. Jika tidak, masyarakat dan media akan mencari tau sendiri siapa pelapor itu, dan saat mereka menemukan fakta yang sebenarnya, Mina-ssi akan menjadi sasaran kemarahan publik karena sudah membuat gaduh."


Semua terlihat mengangguk setuju.


"Shinoda-san benar. Aku ingin tau kenapa gadis itu dengan gegabah langsung melapor pada polisi, padahal obat yang suamiku konsumsi hanyalah obat flu," tambahku seraya menghembuskan nafas panjang.


Shinoda menatapku sesaat, "Kita semua akan menemuinya Rinai-san. Pemberitaan ini merugikan kita sehingga jadwal rekaman ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Setelah bertemu dengan Mina-ssi, konverensi pers dari pihak kita akan dilakukan sembari menunggu konverensi pers dari pihak Mina-ssi untuk klarifikasi."

__ADS_1


__ADS_2