Akhir Dari Sebuah Penantian

Akhir Dari Sebuah Penantian
Perasaan Apa Ini???


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 18:00 Wib, itu berarti sekitar satu jam lagi Kevin akan datang menjemput Hanin di kosannya. Setelah tadi ia sempat mengabari gadis itu bahwa ia akan segera menjemputnya.


📩 Kevin


" Han, mama ngajak kamu buat makan malam di sebuah restoran favoritnya ba'dah isya, nanti aku yang akan jemput kamu di kosan yah. Gak usah dandan karena bagiku kamu akan tetap cantik meskipun tanpa balutan make up sedikitpun. See u my Queen."


Seperti itulah pesan singkat yang tadi di kirimkan oleh Kevin, meskipun cuma pesan singkat namun mampu membuat wajah gadis itu memerah. Ahh untung saja sekarang ini gak ada Kevin.


" Ngapain senyum-senyum kayak orang gila gitu?"tanya Intan yang sejak tadi terus memperhatikan gerak-gerik sahabatnya.


" Enggak apa-apa kok." kata Hanin.


" Atau jangan-jangan, kamu sudah gak sabaran ketemu Kevin yah?, hayooo ngaku."ledek Intan.


" Apaan sih, orang biasa aja kok."lagi-lagi Hanin menyangkal semua tuduhan Intan, padahal semua yang di katakan sahabatnya itu sangat sesuai dengan apa yang di rasakannya saat ini. Ada perasaan senang, gugup semua terasa campur aduk. Senang karena bisa bertemu lagi dengan Kevin, gugup karena ia bukan hanya akan bertemu Kevin melainkan mama, papa, atau bahkan ia bisa saja bertemu dengan saudara Kevin. Namun, ia tidak ingin mengiyakannya begitu saja.


"Sudah ketahuan juga, tapi gak mau ngaku. Hahaha."lagi-lagi Intan masih saja meledek sahabatnya itu.


" Ketahuan apa? "tanya Hanin.


" Ya ketahuan senyum-senyum sendiri. Tapi pas di tanya gak mau ngaku. Padahal sudah keliatan banget lagi. Sampai-sampai mukanya sudah memerah kayak tomatnya mang ujang yang tukang sayur itu. Hihihi."kata Intan sembari cekikikan. Ia merasa geli sendiri melihat sahabatnya itu yang sama sekali tidak mau mengaku padahal sudah ketahuan. Intan memang sudah yakin kalau sahabatnya ini sebenarnya juga menyukai Kevin, namun hanya saja ia belum menyadarinya.


" Ihh Intan, ngeselin banget deh."kata Hanin yang kemudian melempar Intan dengan bantal.


" Hahaha, kamu sih gak mau ngaku. Kan aku yang jadi greget." kata Intan masih dengan tawanya.

__ADS_1


" Iya iya aku ngaku. Puas kan? "tanya Hanin yang sudah dalam mode on ngambek.


" Ulu uluu. Anak gadis jangan ngambek dong, nanti mukanya jelek terus aa Kevin nya cari gadis lain lagi."kata Intan yang masih saja menggoda sahabatnya itu. Hanin yang mendengarnya hanya bisa memanyunkan bibirnya sembari memalingkan wajahnya.


" Bukannya di bujuk malah tambah di godain, untung sahabat kalau enggak sudah ku tuker sama ikan asin."gerutu Hanin.


"Ih jahat banget sih sama sahabat sendiri, masa mau di tuker sama ikan asin."kata Intan.


" Siapa suruh dari tadi ledekin aku terus. Wlekkk." kata Hanin dengan menjulurkan lidahnya.


" Iya deh, aku ngalah." ucap Intan.


" Hem, aku mandi dulu yah."kata Hanin.


" Iya sana pergi. Cepet yah, soalnya sebentar lagi pangeran berkuda putih mu datang."


30 menit kemudian Hanin sudah siap dan sekarang sedang menunggu kedatangan Kevin. Sesuai dengan pesan Kevin tadi sore Hanin hanya memoleskan wajahnya dengan bedak tipis dan sedikit memakai liptint agar bibirnya tidak terlihat pucat. Namun penampilannya tetap saja seperti cinderella apalagi di dukung oleh postur tubuh yang tinggi dan langsing serta kulit yang putih membuatnya semakin terlihat mengagumkan.


Tak berselang lama, sebuah mobil pajero sport berwarna hitam telah terparkir rapi di depan kosannya. Hanin yang mendengar suara klakson mobil sudah yakin bahwa pemilik mobil itu adalah Kevin. Ia pun bergegas memasukkan smartphonenya ke dalam hand bag yang akan di kenakannya. Tak lupa ia menutup dan mengunci pintu kamarnya. Kemudian ia pun menuju ke kamar Intan untuk sekedar berpamitan.


Tok.. Tok.. Tok...


"Eh Kevin nya sudah datang?" belum sempat Hanin berpamitan, namun Intan terlebih dulu bertanya apakah Kevin sudah datang atau belum.


"Iya, dia sudah nungguin di depan. Aku hanya ingin berpamitan." kata Hanin.

__ADS_1


"Ya sudah. Kamu hati-hati yah. Ingat pesan ku yang tadi. Jaga sikap, jangan sampai kesan pertama mu bertemu dengan keluarganya Kevin tidak baik."ucap Intan yang mengingatkan Hanin untuk selalu menjaga sikapnya.


" Sip okeh deh. Aku berangkat yah."pamit Hanin yang di tanggapi dengan acungan jempol oleh Intan.


Sesampainya di depan pagar, Kevin yang memang sudah sampai beberapa menit yang lalu dengan sengaja menunggunya di samping mobil sembari bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dada.


" Maaf sudah membuat mu menunggu lama."ucao Hanin yang merasa tidak enak telah membuat pria itu menunggunya.


" Iya gak apa-apa kok. Ayo silahkan masuk."ucapnya dengan senyum yang mengembang sembari membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Hanin masuk ke dalam mobil.


" Terima kasih."ucap Hanin dengan senyum yang tak kalah manisnya dari madu dan mampu membuat siapapun bisa meleleh karenanya.


Dalam perjalanan menuju ke restoran, keduanya tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hanin yang memang lebih banyak melihat ke arah jendela sembari terus memperhatikan lampu kerlap-kerlip yang menghiasi pinggir jalan sedangkan Kevin yang tengah fokus mengendarai mobilnya, namun sesekali melirik ke arah gadis yang duduk di sebelahnya.


"Kenapa kok dari tadi cuma diam saja?" tanya Kevin seraya memecah keheningan di antara mereka.


"Gak apa-apa kok, cuma gak tahu saja mau ngomong apa."kata Hanin sembari menunjukkan senyuman manisnya.


" Oh gitu ya."ucap Kevin. Kemudian tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Sampai akhirnya mobil yang mereka kendarai memasuki sebuah restoran mewah berbintang lima yaitu salah satu restoran Perancis dengan interior design khas Eropa.


Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun masuk ke dalam restoran dengan Kevin yang sejak tadi terus menggengam tangan Hanin. Seketika membuat wanita itu semakin gugup, apalagi ia juga akan bertemu dengan keluarga Kevin. Kevin yang merasa bahwa tangan Hanin sangat dingin malah semakin menggengamnya erat, kemudian menuju salah satu ruangan VIP yang sebelumnya telah ia booking.


Hanin yang merasa sedikit aneh di karenakan restoran yang mewah ini tampak begitu sepi. Namun, ia tidak mempunyai keberanian untuk bertanya kepada laki-laki yang ada di sebelahnya. Kevin yang menyadari kebingungan Hanin pun sedikit menyunggingkan senyumnya, ia sama sekali tidak berniat untuk menjelaskannya dan membiarkan gadis itu dengan pemikirannya sendiri.


Saat tiba di ruangan, Kevin kemudian menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Hanin untuk duduk. Lagi-lagi Hanin merasa takjub dengan dekorasi ruangan yang telah di sulap menjadi sangat romantis, dengan meja yang di hiasi dengan lilin dan bunga, di tambah pemandangan kota di malam hari yang bisa di lihat dari jendela kaca restoran yang semakin menambah kesan romantis. Hanin yang merasa di perlakukan begitu istimewa oleh Kevin seketika membuat jantungnya berpacu begitu cepat.

__ADS_1


Deg.. Deg.. Deg..


"Perasaan apa ini?" batinnya yang terus bertanya-tanya.


__ADS_2