
Setelah shalat subuh, Hanin kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya, karena kebetulan hari ini adalah hari minggu dan ia pun tidak memiliki jadwal kuliah. Namun rencananya gagal total di saat ada yang menggedor-gedor pintu kamarnya. Dan ia sangat hapal siapa yang begitu berani membangunkannya dari tidur nyenyaknya. Siapa lagi kalau bukan si ratu heboh sejagat raya itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Bunyi ketukan pintu yang begitu jelas berhasil membangunkannya dari mimpi indahnya.
"Ishhh, siapa sih yang pagi-pagi begini sudah datang bertamu, ganggu orang tidur saja."gerutunya, namun tetap tidak beranjak dari kasur ia malah menyelimuti seluruh tubuhnya dan menutup telinganya dengan bantal.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu kembali terdengar dengan sangat jelas.
" Hanin, aku tahu kamu dengar aku, ayo bangun dan buka pintunya."teriak Intan dari luar.
" Ngapain sih tuh anak pagi-pagi begini teriak-teriak di depan kamar orang."omelnya kemudian bergegas membukakan pintu untuk tamu tak di undangnya.
" Iya iya bentar."sahutnya dari dalam.
" Lama banget sih bukain pintunya, tangan dan kaki aku pegel nih dari tadi berdiri di depan pintu kamar mu."omel Intan sambil melangkah kakinya masuk ke kamar Hanin.
" Kamu sih gangguin orang lagi tidur."sahut Hanin kemudian kembali merebahkan tubuhnya.
" Eh eh mau ngapain kamu**?"tanya Intan saat melihat Hanin kembali merebahkan dirinya.
" Mau tidurlah, mau apalagi coba."jawab Hanin yang sudah mulai memejamkan matanya.
" Yah gak bisa gitu dong. Ayo bangun. "cegah Intan sembari menarik tangan Hanin.
" Intan apaan sih, aku masih ngantuk."rengek Hanin sembari mengucek-ngucek matanya.
" Pokoknya enggak boleh, ayo bangun terus mandi dan kita keluar."
"Mau kemana sih?, aku lagi males keluar."
"Udah deh buruan mandi, anak gadis kok bangunnya kesiangan. Entar jodoh mu di patok ayam loh."omelnya pada Hanin.
" Iya iya deh. Macam emak-emak aja ngomel mulu pagi-pagi begini."ucap Hanin sembari meraih handuk dan menuju ke kamar mandi.
" Buruan yah, jangan pake lama."teriak Intan.
" Iya bawel."sahut Hanin.
__ADS_1
Tak seperti biasanya, jika weekend Hanin yang bahkan bisa sampai 1 jam berada di dalam kamar mandi. Namun kali ini ia hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk menyelesaikan mandinya, kalau tidak Intan akan mengomel sepanjang hari jika harus menunggu Hanin keluar dari kamar mandi.
"Jangan lama yah, aku tunggu di depan."kata intan saat melihat Hanin keluar dari kamar mandi. Ia pun segera keluar dan menunggu Hanin di depan.
" Iya."jawabnya singkat. Sebenarnya ia paling malas jika harus keluar di hari minggu, apalagi pagi-pagi begini sudah pasti banyak orang yang berlalung lalang di depan kompleks. Tapi apa boleh buat sahabatnya yang satu itu suka sekali memaksa.
" Kita mau kemana sih?" tanyanya saat keluar dari kamarnya.
"Jalan sekalian cari makan."balas Intan.
" Lah cuma mau cari makan doang, kan bisa mesen online. Punya handphone canggih, jaman juga sudah canggih. Kenapa gak di Manfaatin saja tuh teknologi."gerutu Hanin.
" Ya kan kalau makan di tempatnya dapat chemistry nya plus dapat view nya juga."ucap Intan dengan santainya.
" Dasar, bilang saja mau ngeliat abang Dion yang tetangga depan kompleks kan. Pake alasan segala lagi."tebak Hanin.
" Hehehe tahu aja kamu."ucap Intan sambil cengengesan.
Benar kata Hanin cari makan hanya alasannya saja, sebenarnya tujuannya mengajak Hanin keluar supaya bisa melihat abang Dion, laki-laki tergagah di kompleks mereka. Abang Dion memang selalu melakukan olahraga pagi apalagi kalau weekend seperti ini dan itulah yang jadi motivasi buat Intan untuk selalu bangun pagi, agar bisa melihat pemandangan gratis yang menyejukkan mata di pagi hari.
"Ya sudah ayo, aku juga lapar."kata Hanin.
"Kan jadi lapar gara-gara kamu."
"Loh kok aku yang disalahin sih." ucapnya yang tidak terima atas perkataan Hanin.
"Aduh udah deh Intan, entar abang Dion mu udah lewat lagi."
"Iya, ayo."ucap Intan dengan begitu semangatnya.
Mereka akhirnya berjalan keliling kompleks sekalian mencari-cari makanan yang pas untuk mereka makan di pagi hari.
" Han, kita makan bubur di situ yuk. Sambil nungguin bang Dion lewat. Hehehe." ucapnya dengan menunjuk sebuah gerobak bubur ayam yang ramai pengunjung. Namun masih tersisa tiga bangku yang kosong.
"Ayo."
"Mang bubur ayamnya satu tapi gak pakai ayam yah."ucap Intan pada mamang pejual bubur yang sontak membuat semua orang menatapnya heran.
" Waduh neng, di mana-mana yang namanya bubur ayam yah pasti ada ayamnya neng."ucap si mamang yang begitu heran dengan customernya yang satu ini. Pesan bubur ayam tapi gak pakai ayam, bagaimana ceritanya coba.
" Astaga Intan."kemudian menepok jidatnya sembari mengeleng-gelengkan kepalanya. Entah apa yang merasuki sahabatnya ini.
__ADS_1
" Pokoknya bubur ayam yang gak ada ayamnya mang."ucap Intan yang tidak mau kalah.
" Ya ampun Intan, kalau kamu pesan bubur ayam, pasti ada ayamnya lah. Kan namanya juga bubur ayam. Kecuali kalau kamu pesan bubur kacang hijau itu baru gak ada ayamnya**."ucap Hanin dengan sengaja menekan kata Bubur Ayam. Berhadapan dengan seorang Intan memang harus punya kesabaran ekstra kalau tidak bisa-bisa mati mendadak karena syok dengan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.
" Ya sudah gini aja mang. Saya pesan buburnya satu gak usah di kasih ayam dan satunya lagi bubur ayam yang pake ayam."ucap Hanin yang mencoba untuk menyelesaikan persoalan bubur ayam. Dan juga dengan sengaja menyindir orang di sebelahnya namun sayangnya orang itu tidak juga merasa tersindir.
" Okeh siap neng."ucap si mamang.
Tak lama kemudian pesanan mereka sudah ada di depan mata. Mereka kemudian menghabiskan makanannya tanpa tersisa.
" Nah ini nih yang aku maksud, bubur ayam yang gak pake ayam."kata Intan saat mulai menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.
Hanin yang mendengarkan ucapan Intan pun tidak menanggapinya sama sekali, ia lebih memilih fokus pada makanan yang ada di depannya. Daripada harus berdebat dengan Intan mengenai bubur ayam, bisa-bisa gak akan ada habisnya.
"Hemm, punya teman kok aneh begini yah."batin Hanin yang kemudian melanjutkan sarapan buburnya.
" Han."
"Hem."
"Abang Dion kok belum lewat yah, biasanya juga jam segini sudah lari-lari sampe di taman dekat gor."ucapnya dengan terus memperhatikan jam tangan yang di kenakannya.
" Mana aku tahu, aku kan bukan emaknya." balas Hanin dengan terus mengunyah makanannya.
" Yee kan aku cuma nanya doang."ucap Intan dengan bibir yang sudah maju ke depan.
" kan aku udah jawab."
"Yang ikhlas dong."
"Iya iya, mungkin saja abang Dion mu itu lagi sibuk atau apalah. Aku juga gak tahu. Ya sudah ayo kita pulang."ajak Hanin kemudian membayar makanan mereka pada si mamang penjual bubur.
" Ya sudahlah."jawabnya dengan tidak semangat.
" Gak usah cemberut gitu, nanti cantiknya hilang loh. Lagian kan besok-besok kamu masih bisa lihat. Entar aku temani lagi deh."ucap Hanin yang mencoba membujuk sahabatnya.
" Serius yah gak pake bohong."ucapnya untuk memastikan kembali.
" Iya Intan ku sayang, mari kita pulang."kata Hanin.
Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kosan untuk melakukan aktivitas selanjutnya.
__ADS_1