Akhir Dari Sebuah Penantian

Akhir Dari Sebuah Penantian
Luka lama


__ADS_3

Hanin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin jika sesuatu yang buruk terjadi padanya hanya karena dirinya yang tak berhati-hati dalam berkendara.


Dia memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, dia kemudian membelokkan mobilnya menuju arah pantai. Mungkin pantai adalah tempat yang cocok untuknya saat ini, tempat dimana dia bisa mengeluarkan segala kekesalan, amarah, kekecewaan yang sudah bercampur aduk menjadi satu.


Sepanjang perjalanan dia tak henti-hentinya menitikkan air mata. Air mata yang sudah tidak dapat terbendung lagi. Rasa sakit yang teramat sakit. Hatinya begitu remuk bagaikan tertusuk ribuan jarum. Dadanya terasa sesak seakan tak mampu lagi untuk bernafas.


🍁🍁🍁


Di tengah kesunyian malam, seorang gadis tampak duduk termenung ditemani riuhnya desiran ombak di lautan. Hembusan angin malam seakan menambah suasana yang semakin mencekam. Cuaca yang mendung dan udara malam yang dingin tak dapat lagi di rasakanya, semua seakan mati rasa. Tatapannya kosong seakan tak ada lagi kehidupan disana. Sesekali ia menyeka air matanya yang sejak tadi terus saja mengalir tanpa henti. Tubuhnya terasa kaku, seketika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


Ahh mengapa dia menjadi selemah ini? Hanya karena pertemuan singkat itu lantas membuatnya menjadi bodoh seperti ini.


Apakah rasa cinta itu masih begitu besar untuknya?


Jika iya, mengapa masih saja terasa begitu sakit walau hanya dengan melihatnya?


Bukankah jika kita mencintai seseorang, itu akan membuat kita bahagia bukan menderita seperti ini?


Lalu sampai kapan rasa itu akan terus bersemayam di hatinya?


Tidakkah dia bosan menjadi penghuni tetap disana?


"Arkhhhhhhh." teriakannya begitu menggema di seluruh penjuru pantai. Tak ada siapapun disana, hanya ada dia seorang diri. Sejenak dia merebahkan tubuhnya di atas hemparan pasir putih, menatap langit-langit yang gelap. Tak ada bintang disana, semua tertutupi oleh awan yang menghitam. Dia pun mencoba untuk memejamkan matanya berharap rasa sakit itu sedikit berkurang. Namun semakin dia mencobanya, rasa itu semakin berkecamuk. Semakin menghantam relung hatinya.


"Luka yang telah kau goreskan belum sepenuhnya sembuh, dan kini kau datang kembali disaat aku sudah bersusah payah untuk menyembuhkannya. Entah apa maksudmu? Entah apa rencanamu?. Kau telah membuka luka lama yang hampir saja mengering." ucapnya lirih. Suaranya sudah cukup serak akibat terus-terusan menangis.


Karena hari semakin larut dan sepertinya hujan sebentar lagi akan turun, mau tidak mau hal tersebut mengharuskannya untuk balik ke rumah.


🍁🍁🍁


Tepat pukul 23:00 Wib Hanin tiba di rumahnya dalam keadaan yang cukup memprihatikan, mata yang sembab dan baju yang tidak lagi serapih tadi. Kejadian hari ini sungguh membuatnya begitu lelah, bukan hanya fisiknya saja namun hati dan pikirannya pun juga terusik.


Akhirnya dia melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua dimana kamarnya berada. Perlahan dia membuka pintu kamar dan masuk ke kamar mandi, untuk sejenak membersihkan diri sebelum menuju ke pembaringan. Dia mulai menyalakan keran dan menuangkan sedikit sabun yang beraroma therapy, yang di yakini ampuh untuk menghilangkan rasa lelah. Cukup lama ia berendam sampai akhirnya beranjak dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Kurang lebih satu setengah jam dia menyelesaikan mandinya. Dan bergegas merebahkan tubuhnya di atas kasur Queen size nya. Berulang kali dia mencoba untuk memejamkan matanya, namun pikirannya terus saja terbayang-bayang oleh kenyataan pahit yang harus di alaminya. Namun seketika lamunannya terhenti di saat poselnya berdering.


Drett.. Drett.. Drett..

__ADS_1


Dia mencoba melirik, untuk mengetahui siapa yang meneleponnya tengah malam begini.


"Assalamualaikum Han, kamu dimana? Kamu gak apa-apa kan?" ucap intan dengan sederet pertanyaan yang di ajukannya kepada Hanin.


"Waalaikumsalam, aku lagi di rumah. Dan aku juga baik-baik aja kok."


"Alhamdulillah kalau begitu. Soalnya dari tadi aku nelfon kamu tapi gak aktif-aktif." ucapnya dengan sedikit lega.


"Oh ini, ponsel ku tadi lowbat. Makanya gak bisa di hubungin." ucap Hanin yang terpaksa untuk berbohong. Sebenarnya selepas mengantarkan intan tadi, ia memang sengaja untuk menonaktifkan ponselnya agar tidak ada yang bisa mengganggunya.


"Makasih yah tan. Kamu udah ngekhawatirin aku sampai segitunya." lanjutnya.


"Iya Hanin ku sayang. Jelaslah aku ngekhawatirin kamu. Kita ini udah hidup bersama-sama di perantauan selama bertahun-tahun Han. Kamu adalah saudara ku. Luka mu adalah luka ku dan kebahagiaan mu adalah Kebahagiaan ku juga. Jadi kamu gak perlu sungkan kalau lagi ada masalah karena aku akan selalu ada dan siap sedia menjadi pendengar yang baik untuk mu." ucap intan dengan tulus.


" Thank you so much intan. You are the best. Semoga persahabatan kita bisa langgeng sampai di akhirat yah."


" Aamiin allahumma aamiin. Ya sudah kamu istirahatlah dan jangan begadang lagi. Good night princess."


" Iya Queen. Night too."


Tak jauh dari kediaman Hanin, lelaki yang sejak tadi mengikuti kemana dia pergi pun memutuskan untuk pulang setelah memastikan wanita itu tiba di rumah dengan keadaan selamat mengingat bagaimana kondisinya tadi saat meninggalkan pantai.


🍁🍁🍁


Hari ini dia akan menghadiri acara pernikahan teman seangkatannya sekaligus reuni kecil-kecilan. Dia begitu merindukan sahabatnya dan wanita yang begitu di cintanya. Dia sangat yakin wanita itu akan hadir disana, terlebih dia adalah sosok wanita yang humble dan memiliki banyak teman.


🍁🍁🍁


Saat balik dari toilet, terdengar suara riuh dari semua tamu undangan yang sedang memuji kecantikan seorang wanita yang baru saja memasuki ruangan. Diapun mengikuti arah pandangan semua orang dan ternyata wanita itulah yang selama ini di rindukannya.


"Kamu masih saja seperti dulu Han, selalu tampil cantik dengan kesederhanaan mu." bisiknya dalam hati.


"Dan senyuman itu, senyuman yang selalu menyejukkan hatiku. Namun, apakah senyum itu akan terus mengembang di saat kamu melihat ku lagi?" lanjutnya yang terus saja memperhatikan Hanin.


"Hey bro. Sudah lama sekali kita tidak bertemu setelah acara wisuda dua tahun yang lalu." ucap salah satu temannya yang juga hadir di pernikahan mita. Dia adalah andre yang kala itu menjabat sebagai presiden mahasiswa di kampusnya.


"Hey, iya yah itu sudah sangat lama sekali." ucapnya yang menanggapi sapaan dari teman kuliahnya dulu.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulilah, seperti yang kamu lihat hari ini. Aku sehat walafiat."


"Dia sehatnya secara fisik saja tapi hatinya sedang terluka." ucap salah satu temannya yang entah darimana tiba-tiba datang dan ikut menimpali percakapan keduanya.


"Benarkah? Apakah kau belum bisa move on dari dia?"


"Entahlah. Hanya aku dan Allah yang tahu ." balasnya. Namun seketika pandangannya mengarah pada sosok wanita yang tiba-tiba berjalan menuju arah toilet dengan mata yang berkaca-kaca. Dia pun bergegas mengikutinya dari belakang.


"Bro, aku ke toilet dulu yah." pamitnya pada teman-temannya yang hanya di acungi jempol.


Dia berusaha untuk berjalan dengan pelan agar wanita itu tidak menyadari kehadirannya.


Dia kemudian merapatkan telinganya ke tempok dan memasang pendengaran untuk mengetahui apa yang di lakukan wanita itu.


"Kenapa?, kenapa dia harus muncul lagi di saat aku sudah benar-benar berusaha untuk melupakannya?" suaranya begitu parau dan sangat jelas jika saat ini dia sedang menangis.


"Aku sudah berusaha untuk menghindar darinya, tapi kenapa kau mempertemukan ku kembali dengannya?" isakannya semakin terdengar.


"Bertahun-tahun aku berusaha untuk menghilangkan rasa ini, tapi semuanya sia-sia di saat aku kembali melihat mu."


"Apakah mencintaimu harus sesakit ini?" bisiknya namun masih bisa di dengar oleh pria tadi. Suaranya tercekat seperti menahan sesak di dadanya.


Tak lama terdengar suara gemercik air dan terlihat wanita itu keluar dan meninggalkan toilet melalui pintu samping. Pria yang sejak tadi sedang menguping kemudian berusaha untuk bersembunyi dan terus mengikutinya dari belakang.


"Mau kemana dia?" bisiknya dalam hati dan masih saja memantaunya dari kejauhan.


Tiba-tiba datang seorang wanita yang tak asing baginya, dia begitu mengenalnya dan terlihat wanita itu masuk ke dalam mobil Hanin dan mengambil alih kemudi.


"Aku harus mengikutinya".


Dia terus saja mengikuti kemana mobil Hanin bahkan di saat Hanin memutar balik kendaraannya menuju arah pantai.


"Ini kan bukan arah ke rumahnya, mau apa dia ke pantai malam-malam begini?" tanyanya dalam hati.


Saat di pantai dia berada agak jauh dari tempat Hanin, dia sengaja bersembunyi di balik pepohonan sehingga wanita itu tidak melihatnya. Dia pun tak mampu lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Hanin sebab suara ombak dan angin yang kencang serta jarak diantaranya. Hanya saja dia bisa menebak bahwa wanita itu begitu terpukul terlihat dia memukul-mukul dadanya sembari terus menyeka air matanya. Sampai pada akhirnya wanita itu beranjak dari duduknya dan meninggalkan pantai. Tak berhenti disitu, dia tetap saja mengikuti Hanin sampai kembali ke rumahnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Han, maafkan aku yang sampai saat ini belum bisa berkata yang sejujurnya." ucapnya. Terlihat dia juga menitikkan air mata. Dan setelah memastikan semua aman, dia pun bergegas balik ke apartemennya.


__ADS_2