
Saat tengah sibuk mengerjakan tugas dari dosen, tiba-tiba smartphone Hanin berbunyi tanda ada sms masuk.
Ping...
"Siapa sih?, ganggu orang saja." gerutunya namun tetap saja menoleh pada ponselnya.
"Nomor baru?" sembari mengerutkan dahinya. Awalnya dia tidak ingin membukanya sebab menurutnya mungkin ada orang iseng yang sengaja ingin mengerjainya atau mungkin orang salah kirim. Namun saat ia ingin meletakkan smartphonenya, benda itu kembali berbunyi. Mau tak mau dia pun membukanya.
Ping...
π© +6285xxxxxxxxx
Assalamualaikum Hanin.
Aku Kevin yang tadi minta nomor kamu di kantin.βΊοΈ
π© +6285xxxxxxxxx
Ngomong-ngomong kamu lagi apa sekarang? Ntar malam sibuk gak? Jalan yuk.
"Gak penting banget sih."gerutunya.
Tiba-tiba Intan datang dan masuk di kamar Hanin.
" Kenapa kamu ngomong sendiri kayak orang gila gitu Han?"tanya intan yang berhasil mengejutkan Hanin.
" ishh, intan kamu itu hobby banget yah ngangetin orang. Kayak jalangkung saja datang tak di panggil, pulang tak di antar."ucapnya yang menyamakan intan dengan jalangkung.
" Enak saja aku di samain dengan jalangkung. Orang cantik-cantik gini juga." protenya.
" Habisnya kamu sih, datang-datang bukannya ngucapin salam malah ngangetin orang."gerutunya.
"Iya iya deh. Maaf tuan putri. Aku reka ulang dulu."ucapnya yang kemudian menuju depan pintu.
Tok.. Tok.. Tok..
" Assalamualaikum Han." ucapnya yang kemudian membuat Hanin memutar bola mata malasnya.
" Waalaikumsalam."
"Tuh kan udah. Lagian kenapa sih sensi amat neng, lagi pms yah?"tanyanya yang sedikit heran melihat Hanin yang hari ini begitu sensitif. Padahal biasanya dia yang paling sabar dalam menghadapi intan yang begitu jahil.
" Aku lagi pusing ngerjain tugas dari pak Ahmad. Ehh tiba-tiba ada sms masuk dari cowok tadi."
"Cowok tadi, yang mana?" tanyanya dengan kening yang berkerut.
"Itu cowok yang tadi di kantin."
"Oh..sih Kevin itu. Kenapa emangnya?" ucapnya dengan sedikit kepo.
"Tuh liat aja sendiri." ucapnua yang kemudian kembali fokus pada tugasnya.
__ADS_1
"Wah Han dia ngajak kamu jalan tuh, terima aja tawarannya." ucap Intan dengan girangnya.
"Ogah ah. Mending kerjain tugasnya pak Ahmad."
"Udah deh Han, kamu pergi saja. Soal tugas gak usah khawatir biar kamu liat punya ku saja."
"Gak deh intan, lain kali saja." lagi-lagi Hanin menolak tapi bukan intan namanya kalau gak bisa ngerayu seorang Hanin.
"Ayolah Hanin ku sayang. Kapan lagi coba ada yang ngajakin jalan. Lagian kalau di liat-liat Kevin cakep juga kok, di jamin kamu gak bakalan malu jalan sama dia." ucapnya yang tetap mencoba merayu Hanin.
"Gini deh biar aku saja yang balas. Kamu tinggal jalanin saja."
"Ya sudah. Seterah kamu saja." ucapnya yang sudah pasrah.
"Okeh." kemudian membalas pesan dari Kevin.
π€ Me
Waalaikumsalam. Iya aku gak sibuk kok.
"Eh tunggu, sebelumnya kita tanya dulu, nanti kamu di ajak jalan kemana biar gak salah kostum. Nanti biar aku yang bantuin cari baju yang pas."ucapnya yang tidak di tanggapi oleh Hanin. Kemudian ia kembali mengetikkan sesuatu di smartphone Hanin.
π€Me
Ohiya.. Memangnya kita mau jalan kemana?
π© +6285xxxxxxxxx
π€ Me
Iya gak apa-apa kok.
π© +6285xxxxxxxxx
Okeh kirim lokasi kamu sekarang. Nanti sehabis maghrib aku jemput.
π€ Me
Pondok Amanah. Jalan Singasari nomor 5
π© +6285xxxxxxxxx
Okeh sampai ketemu Han. βΊοΈ
" Okey. Done. Sekarang kita pilih baju buat kamu Han. Soalnya dia ngajak kamu pe pasar malam."
"Han kamu dengarin aku ngomong gak sih?" tanyanya yang sedikit kesal, pasalnya orang yang di ajak bicara sama sekali tidak meresponnya.
"Iya iya aku dengar. Kamu pilih saja aku bakalan nurut sama emak." balasnya dengan sedikit candaan.
Dengan perasaan yang masih kesal Intan menuju lemari Hanin untuk mencari baju yang pas untuk temannya itu. Mungkin bisa di bilang persahabatan mereka berdua itu aneh, meskipun sering berbeda pendapat, namun persahabatan mereka tetap awet karena di antara mereka tidak ada yang mementingkan egonya masing-masing. Pasti ada salah satu di antaranya yang akan mengalah, sehingga tidak terjadi perdebatan yang bisa saja meretakkan hubungan mereka.
__ADS_1
Perbedaan memang sering kali mengajarkan kita untuk bisa menghargai pendapat orang lain meskipun itu sangat bertentangan dengan pendapat kita sendiri. Namun demi menjaga hubungan baik, kita akan sedikit menurunkan ego. Dan seperti itulah persahabatan antara Hanin dan Intan.
"Kayaknya ini cocok untuk oufit ke pasar malam. Pokoknya kamu harus tampil cantik dan elegan." ucap Intan saat sudah menemukan baju yang pas untuk Hanin.
"Sudah kamu mandi sana, bau acem tahu." lanjutnya dengan menutup hidungnya kemudian mendorong Hanin menuju kamar mandi.
"Yeee, siapa bilang aku bau. Gini yah aku tuh gak bakalan bau meskipun gak mandi setahun." ucapnya yang sudah memanyunkan bibirnya ke depan.
"Iya deh, gak usah ngambek dong anak mama. Entar cantiknya hilang." ucap Intan lalu keduanya pun saling menertawakan kelebaiannya.
"Hahaha."
"Aku mandi dulu yah. Tungguin."ucap Hanin kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
" Sipp." dengan mengangkat kedua jempolnya.
1 jam kemudian, Hanin keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan yang sudah segar bugar.
" Lama banget sih neng, ngapain aja di dalam, tidur? " tanya Intan yang cukup kesal karena harus menunggu Hanin yang begitu lama.
"Hehehe maaf, lupa kalau ada yang nungguin."
"Eh shalat maghrib dulu Yuk. Tuh sudah azan di masjid." ucap Hanin saat mendengar suara azan yang berkumandang di masjid yang tak jauh dari kos-kosan mereka.
"Kamu saja. Aku lagi libur, nitip doa sja yah"
" Di kira absen apa yang bisa di titip. Ada-ada saja." kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. Nanti ku doakan semoga kamu bisa jadian sama si dodit itu." ucapnya yang kemudian mendapat lemparan bantal dari Intan. Sebenarnya Dodit itu orangnya cakep tapi entah mengapa setiap mendengar nama itu selalu saja membuat darah Intan mendidih.
"Hanin." teriak Intan
"Ampun ndoro." ucapnya yang kemudian bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat maghrib.
Selepas shalat maghrib Hanin kemudian bersiap-siap yang di bantu oleh sahabatnya itu. Intan tampak begitu fokus memoles wajah Hanin dengan make up yang tipis-tipis agar tidak terkesan terlalu menor. Namun tetap terlihat cantik dan elegan dengan balutan make up yang simple.
"Selesai, tuh kan cantik banget sih." ucap Intan sambil meletakkan tangannya di pipi Hanin dan mencubitnya dengan gemas.
"Terima kasih Intan ku sayang, sudah di buat secantik ini." ucapnya ketika melihat pantulan dirinya di depan cermin.
"Tapi" ucapnya yang sedikit menggantung.
"Tapi apa?" tanya Intan dengan kening yang sudah berkerut.
"Tapi kok aku gugup yah?, kayak orang mau lamaran saja."
"Memangnya kamu pernah di lamar?" tanya Intan yang begitu penasaran.
"Yah enggak sih. Hehehe." ucapnya yang berhasil membuat intan bernafas lega.
"Ya sudah. Enggak usah grogi gitu. Pokoknya rilex saja. Okeh. Good job." ucap Intan yang memberi semangat padanya.
__ADS_1