Akhir Dari Sebuah Penantian

Akhir Dari Sebuah Penantian
Takut Kehilangan Kamu


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakan Kevin tadi pagi, saat ini mereka bertiga berada di dalam mobil menuju salah satu pusat perbelanjaan di kota itu untuk bertemu dengan seseorang yang katanya teman lama Hanin dan Intan.


Dalam perjalanan hanya terdengar suara musik yang sengaja di putar oleh Kevin untuk sekedar menemani perjalanan mereka. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya sesekali Hanin melirik ke arah lelaki di sampingnya begitupun dengan Kevin. Mereka masih dalam mode pemikirannya masing-masing. Hanin yang bingung entah mengapa sejak tadi Kevin hanya terdiam saja tidak seperti biasanya. Hanin sempat berpikir apakah Kevin cemburu mendengar bahwa ia akan ketemu dengan teman lamanya seperti yang tadi dikatakan oleh Intan. Tapi masa iya, itukan hanya teman lamanya, lagian Intan juga ikut.


Namun berbeda dengan Kevin, ia merasa bahwa laki-laki yang akan ditemui oleh Hanin sepertinya memiliki perasaan terhadap calon istrinya. Entah darimana asalnya tiba-tiba ia merasa seperti itu atau mungkin itu hanya kekhawatirannya saja karena begitu takut kehilangan orang yang di cintainya.


Intan yang sejak tadi terus memperhatikan gerak-gerik dua orang yang berada di depannya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sepertinya ia tahu betul apa yang terjadi sekarang ini. Ia tahu bahwa Kevin benar-benar cemburu mendengar Hanin yang akan bertemu dengan temannya terlebih saat tahu yang akan mereka temui adalah laki-laki. Intan pun juga melihat gerak-gerik Hanin yang seolah merasa tidak nyaman melihat Kevin yang tiba-tiba jadi pendiam.


"Ehemmm... Sepi banget kayak kuburan saja. Disini ada dua orang lagi selain aku. Tapi kok aku merasa kayak kesepian yah."kata Intan secara tiba-tiba yang berhasil membuyarkan lamunan diantara sepasang manusia yang sedang saling diam-diaman.


" Udahan dong perang dinginnya. Jangan kayak anak kecil gitu yang lagi marahan. Terus diam-diaman seperti itu tapi juga diam-diam tetap memperhatikan satu sama lain."lanjutnya yang sontak membuat keduanya menoleh ke belakang mencari dimana pemilik suara itu. Mereka bahkan lupa kalau saat ini bukan hanya mereka berdua namun ternyata ada Intan yang sejak tadi menjadi saksi perang diantara keduanya.


" Hufttt."terdengar suara helaan nafas dari Hanin. Ia tidak tahu harus memulai dari mana, disaat melihat Kevin yang tetap saja terdiam dan tidak ada tanda-tanda akan berbicara padanya.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, ia pun mencoba untuk berbicara lebih dulu dan berharap Kevin bisa meresponnya.


"Kak."ucapnya pelan dengan nada yang lembut, namun masih bisa di dengarkan oleh Kevin.


" Hemmm."hanya suara deheman yang keluar dari mulut pria di sampingnya tanpa menoleh sedikitpun.


" Kak."panggilnya lagi yang masih saja di balas deheman oleh Kevin.

__ADS_1


"Kak Kevin kenapa?, kok dari tadi hanya diam saja?" tanyanya


"Enggak apa-apa."jawabnya jelas, singkat dan padat.


" Ternyata begini yah kalau laki-laki lagi ngambek."batin Hanin.


Hanin pun membalikkan tubuhnya melihat ke arah Intan, mencoba untuk meminta bantuan tentang apa yang seharusnya ia lakukan agar Kevin tidak diam terus seperti ini. Namun, Intan sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu sahabatnya, ia hanya diam dan menghendikkan bahunya sebagai tanda bahwa ia pun tidak tahu atau lebih tepatnya tidak memiliki ide untuk mengembalikan mood Kevin.


"Kak stop."teriak Hanin yang berhasil membuat Intan maupun Kevin terkejut dan seketika membuat Kevin menginjak rem secara tiba-tiba.


" Aku turun disini saja."ucapnya yang sudah membuka pintu mobil. Dan secepat kilat Kevin mencekal tangannya.


" Kenapa turun disini?, bukannya tempatnya masih ada beberapa meter lagi."ucap Kevin dengan tangannya yang masih memegang tangan Hanin.


Intan yang melihat situasi yang seperti ini hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa saat ini Hanin pasti sedang menangis, terlihat dari matanya yang sudah berkaca-kaca dengan suara yang sedikit bergetar menandakan bahwa ia sedang menahan tangisnya. Akhirnya ia pun juga ikut turun dari mobil dan berusaha untuk mengejar Hanin. Namun, sebelum itu ia sempat mengatakan sesuatu pada Kevin.


"Vin, Hanin itu memang cewek yang selalu ceria dan terlihat tegar dari luar, namun yang namanya perempuan pasti ada sisi lemahnya. Ia merupakan tipe orang yang gak bisa di diemin dan di cuekin kayak gini. Pasti sekarang dia lagi nangis."


"Yah sudah aku susul dia dulu."lanjutnya.


" Aku juga ikut."kata Kevin yang juga ikut turun dari mobil.

__ADS_1


Berkali-kali Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa ia jadi bodoh seperti ini, ia bahkan lupa bahwa perempuan itu sangatlah sensitif jika di singgung atau pun di cuekin seperti itu. Berulang kali pula ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya agar tetap bersikap biasa-biasa saja. Rasa cemburunya yang begitu mendominasi membuatnya tidak bisa berfikir dengan lebih baik. Sehingga tadinya ia lebih memilih untuk terdiam saja, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun di luar dugaan, ternyata keputusannya untuk lebih memilih terdiam bukankah hal yang tepat. Justru karena itu, masalah baru muncul lagi. Ia tidak tahu bahwa dampak dari diamnya akan jadi seperti ini.


"Hanin sayang, tunggu dulu."panggilnya sembari mencekal tangan Hanin di saat ia sudah berada tepat di sampingnya.


Hanin sama sekali tidak memperdulikannya, ia tetap berusaha untuk melepas cekalan tangan Kevin. Namun Kevin tiba-tiba memeluknya dengan erat dan berhasil membuat Hanin mematung ditempatnya.


"*Maafkan aku Hanin, maafkan aku sayang karena telah mendiami mu. Hanya saja aku terlalu takut kehilangan kamu." ucapnya yang masih memeluk Hanin dengan erat dan membenamkan kepala gadis itu pada dada bidangnya. Isakan tangis dari bibir mungil Hanin pun kian terdengar dengan jelas. Yah Hanin menangis saat mendengar alasan kenapa Kevin mendiaminya, hanya dengan lima kata " Aku terlalu takut kehilangan kamu*." pun mampu membuatnya menangis tersedu-sedu. Ia merasa terharu dengan apa yang dikatakan Kevin.


"Kakak gak perlu khawatir, aku tau batasan ku kak. Lagian aku, dia dan Intan hanya sekedar teman gak lebih dari itu."ucapnya di sela-sela suara tangisnya.


" Maafkan aku sayang, maafkan keegoisanku yang telah membuat mu merasa tidak nyaman." balas Kevin yang kembali mengucapkan kata maaf. Hanin hanya bisa menganggukkan kepalanya.


" Kalau begitu ayo ku antar untuk bertemu dengannya."lanjut Kevin di saat ia merasa Hanin sudah tenang.


" Gak perlu kak, lain kali saja. Aku juga tidak mungkin menemuinya dengan kondisi yang seperti ini."tolak Hanin. Mata yang sembab serta hidung yang sudah memerah. Itu sangat tidak memungkinkan bagi dia untuk tetap bertemu dengan temannya terlebih tempatnya berada di sebuah pusat perbelanjaan. Apa kata orang jika melihatnya dengan penampilan seperti itu.


"Baiklah, kalau begitu aku antar pulang yah sayang."ucap Kevin.


" Iya kak."


"Nah gitu dong, kan kalau gini jadi adem ngeliatnya."kata Intan yang memang sejak tadi berada di dekat mereka namun dia hanya menjadi pendengar setia, membiarkan kedua insan itu menyelesaikan permasalahnya.

__ADS_1


Hanin dan Kevin pun hanya tersenyum menanggapi perkataan Intan. Kemudian mereka bergegas menuju mobil yang terparkir sembarangan tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


__ADS_2