Akhir Dari Sebuah Penantian

Akhir Dari Sebuah Penantian
Mungkin Belum Saatnya Kita di Pertemukan


__ADS_3

Di sisi lain seorang pria tampan tengah duduk sendirian di sebuah restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Penampilannya cukup rapi dengan kemeja biru dongker yang di gulungnya sampai batas lengan yang kemudian ia padukan dengan celana kain berwarna cream. Terlihat ia sedang menunggu kedatangan seseorang, terbukti dengan gerak-geriknya yang berulang kali terus melirik ke arah jam tangannya untuk memastikan bahwa apakah orang yang di tunggunya akan segera datang atau tidak. Tak lupa juga ia sesering mungkin mengecek ponselnya, mungkin saja orang tersebut akan mengirimkan sebuah pesan untuknya.


Sekarang tepat pukul 14:20, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa orang yang di tunggunya akan datang. Ia pun terlihat begitu gelisah dan panik, sebab yang ia tahu orang tersebut selalu tepat waktu jika dirinya memiliki janji dengan orang lain. Namun, kali ini sudah lebih 20 menit ia menunggu kedatangannya.


"Apa aku telfon saja?" gumamnya dalam hati.


"Ah lebih baik aku telfon saja daripada aku kepikiran terus."lanjutnya kemudian mencari kontak seseorang namun, belum sempat ia menekan tombol call tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan nama seseorang di layar ponselnya yang sejak tadi ia tunggu.


📞" Hallo, assalamualaikum ."ucap seseorang pada sambungan telfon yang tak lain adalah Hanin.


📞" Waalaikumsalam, kamu di mana sekarang?, kok belum datang?, kamu gak apa-apa kan?. Aku tuh dari tadi nungguin kamu tapi gak datang-datang padahal ini sudah lewat 20 menit dari jam kita janjian."sederet pertanyaan yang ia lontarkan tanpa memberi celah bagi lawan bicaranya, membuat seseorang di seberang sana mendengus kesal.


📞" Hufttt, jadi yang mana dulu nih yang aku jawab?" bukannya memberi jawaban hanin malah balik bertanya padanya.


📞"Semuanyalah. Aku itu dari tadi mengkhawatirkan kamu."ucapnya pada Hanin.


📞"Iya iya cerewet banget sih, macam emak-emak kompleks saja."balas Hanin.


📞" Sorry deh. Ya sudah jawab pertanyaan aku dulu."ucap lelaki itu sembari terkekeh mendengar omelan wanita tersebut. Ada perasaan lega saat mendengar suara itu dan juga ada rasa rindu serta tidak sabar untuk bertemu dengan wanita itu setelah dua tahun lamanya mereka tidak bertemu.


📞" Baiklah aku akan menjawabnya satu-satu. Pertama, aku mau bilang kalau sekarang aku lagi di jalan menuju ke kos. Kedua, aku juga mau minta maaf karena sepertinya hari ini kita tidak bisa bertemu karena ada hal mendesak yang harus aku selesaikan. Dan yang ketiga, alhamdulillah aku dalam kondisi sehat walafiat."


📞"Loh kok enggak bilang dari tadi sih, tau gitu kan aku bisa nyamperin kamu ke kampus atau ke kos." ucapnya dengan lesuh, ada sedikit kekecewaan dalam dirinya karena tidak bisa bertemu dengan wanita yang selama ini memenuhi pikirannya. Meskipun mereka tidak bertemu selama dua tahun terakhir namun, rasa itu masih tetap sama saat pertama kali ia mengenal Hanin. Gadis pujaannya yang selalu saja menggetarkan hatinya bila mengingat kebersamaan mereka sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke luar negeri.


📞"Maaf yah, tadi aku lupa untuk ngabarin kamu terlebih dahulu."ucap Hanin. Sebenarnya ia juga merasa tidak enak karena harus membatalkan pertemuan mereka secara tiba-tiba tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Namun, ia pun juga tidak siap untuk bertemu dengannya apalagi melihat keadaannya yang saat ini sangat tidak memungkinkan.


📞"Iya gak apa-apa, mungkin memang Tuhan belum mengizinkan kita untuk bertemu."ucapnya yang mencoba untuk tidak menunjukkan kekecewaannya. Meskipun dalam hatinya sangat bertolak belakang dengan apa yang ia katakan barusan. Namun, ia pun tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya terlebih diantara mereka tidak ada ikatan spesial selain kata teman lama, dan ia pun sadar diri akan hal itu.


📞"Baiklah, meybe next time yah kita meet upnya."kata Hanin.

__ADS_1


📞" Okehdeh, tapi lain kali kamu harus tepatin janji yah dan kalau ada apa-apa kamu harus bilang sama aku."katanya pada Hanin yang lebih tepatnya seperti sebuah perintah.


📞" Sip okeh bosquee. In shaa allah lain kali aku pasti tepatin janjiku."kata Hanin.


📞" Hemm, kalau begitu sudah dulu yah. Assalamualaikum."ucapnya yang lebih memilih untuk mengakhiri percakapannya dengan Hanin.


📞" Waalaikumsalam."balas Hanin.


" Mungkin belum saatnya kita di pertemukan."gumamnya dalam hati sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan bersiap-siap untuk kembali ke apartemennya.


🍁🍁🍁


Setelah sampai di kos, Hanin langsung masuk ke kamarnya dengan Intan yang sedari tadi mengekor di belakangnya seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.


Saat sudah berada di dalam kamar Hanin kemudian melempar tasnya ke sembarang arah dan merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Hal tersebut tak luput dari pandangan seseorang yang sejak tadi terus memperhatikannya.


"Kenapa sih?, kok kamu aneh banget Han?. Tiba-tiba jadi baperan gini."tanya Intan yang saat ini sedang duduk di pinggiran kasur.


" Aneh deh. Gak biasanya kamu gini."kata Intan yang merasa hari ini sahabatnya sedikit aneh tidak seperti Hanin yang selama ini ia kenal.


" Kamu tahu gak Han, tadi itu aku harus cari cara supaya Kevin merasa bersalah karena sudah mendiami mu saat di mobil."lanjutnya yang sontak membuat Hanin membuka matanya dan langsung ikut duduk di samping Intan.


" Serius?, memangnya kamu ngomong apa sama dia? "tanya Hanin yang begitu penasaran.


" Yah aku gak ngomong banyak-banyak sih. Aku cuma bilang kalau kamu itu tipe cewek yang gak bisa di cuekin."kata Intan.


" Yakin itu saja?, gak kamu tambah-tambahin kan?, maksudnya gak kamu lebih-lebihkan gitu."tanya Hanin yang saat ini sedang menatap Intan dengan serius.


" Ya enggaklah. Mana mungkin aku berani memancing amarah singa betina di samping ku ini, bisa-bisa aku di makannya hidup-hidup. Hahaha**." kata Intan yang di akhiri tawanya yang menggelegar.

__ADS_1


" Enak saja aku di katain singa betina."ucap Hanin sembari memukul pelan lengan sahabatnya dengan bantal yang sejak tadi ia pangku.


" Hehehe. Bercanda kok, tegang banget sih."kata Intan sembari cengengesan.


" Ohiya Han, bgaimana respon Rendi saat kamu menelfonnya dan mengatakan kalau kita gak jadi ketemu?"lanjutnya.


" Dia sih ngomongnya, kenapa kita gak bilang dari tadi kalau kita ada urusan mendadak. Kan kalau tahu bakal gak jadi, dia akan temuin kita di kampus atau mungkin datang kesini."


" Hem sepertinya dia agak kecewa sih karena tiba-tiba aku menelfon dan membatalkan pertemuan kita. Tapi yah mau gimana lagi, kamu tahu sendiri kan kalau aku gak mungkin ketemu dia dengan kondisi mata yang sembab dan memerah kayak gini. Bisa-bisa aku di introgasi olehnya."lanjut Hanin.


" Bukan sepertinya tapi itu sudah pasti. Kamu tahu kan alasan dia balik ke Indonesia cuma buat ngumpul bareng kita. Ehh maksud ku lebih tepatnya temuin kamu. Dan aku rasa perasaannya masih tetap sama seperti dulu sebelum akhirnya kita terpisah."ucap Intan. Ia tahu betul kalau sebenarnya sejak dulu Rendi menyukai Hanin. Meskipun sampai saat ini sama sekali Rendi belum pernah menyatakan perasaannya.


" Entahlah, rasanya saat ini aku berada dalam posisi yang sulit. Di sisi lain aku sudah terikat dengan Kevin dan aku takut kalau nantinya akan ada kesalahan pahaman di antara kami. Tapi kamu tahu juga kan kalau selama ini aku gak ada hubungan apa-apa dengan Rendi selain hubungan persahabatan di antara kita bertiga."


"Yah iyalah. Aku tahu, tapi Han sepertinya Kevin memang cemburu deh sama Rendi. Mungkin saja yah dia punya firasat kalau Rendi suka sama kamu."kata Intan.


" Gak mungkin deh Intan. Mereka saja gak pernah ketemu, gimana caranya coba Kevin tahu. Kamu ada-ada saja"kata Hanin, ia tidak sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Intan.


" Yah mungkin saja dong. Namanya juga kalau sudah dekat yah pasti ada rasa khawatir dan cemburu mendengar orang yang di sayanginya ingin bertemu temannya apalagi laki-laki. Kalau aku yang di posisinya Kevin pasti juga akan merasakan hal yang sama."


"Iya juga sih. Mungkin akunya saja yang kurang peka."kata Hanin yang akhirnya merasa bahwa ada benarnya juga apa yang di katakan oleh Intan.


" Nah tuh kan kamu sudah tahu. Makanya sekarang kamu itu harus lebih peka sama orang lain terlebih sama Kevin. Tapi bukan berarti aku ngelarang kamu buat ketemu sama Rendi, yang jelas kamu harus tahu batas kalau sekarang kamu tidak sendiri lagi. "kata Intan yang saat ini menasihati sahabatnya agar lebih peka terhadap orang-orang yang ada di sekelilingnya.


" Iya deh. Makasih yah Intan, kamu itu bagaikan cahaya rembulan yang selalu menerangiku di tengah kegelapan malam."ucap Hanin sembari memeluk Intan.


" Lebay banget sih ihhh."kata Intan sembari menggelengkan kepalanya.


" Kan aku selalu bilang ke kamu. Aku pasti akan selalu ada untuk kamu apapun dan bagaimanapun kondisi mu Han."lanjut Intan.

__ADS_1


" Uhh meleleh. Pokoknya kamu memang the best."ucap Hanin yang di akhiri dengan drama peluk-pelukan ala-ala teletubbies di antara keduanya.


__ADS_2