Akhir Dari Sebuah Penantian

Akhir Dari Sebuah Penantian
I Love You Calon Makmum Ku.


__ADS_3

Setelah acara makan malam romantis, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali. Dengan Kevin yang sejak tadi tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Sesekali ia melirik wajah cantik Hanin kemudian tersenyum bahagia ketika mengingat saat dimana Hanin menerima lamarannya. Mungkin dialah pria yang paling beruntung telah berhasil mendapatkan hati wanita yang berada tepat di sampingnya.


"Terima kasih sayang."ucapnya dengan senyum yang tidak pernah pudar dari wajahnya. Hanin pun mengeryit heran dengan apa yang barusan di dengarnya.


" Terima kasih untuk apa vin**?" tanyanya sedikit bingung.


" Terima kasih karena kamu sudah mau menerima ku sayang."ucap Kevin dengan senyum tulusnya.


" Seharusnya aku yang bilang terima kasih karena kamu telah memilih ku, padahal di luar sana masih banyak wanita yang sangat jauh lebih baik dari ku."ucap Hanin sembari membalas genggaman Kevin.


" Mungkin di luar sana masih banyak tapi hati ku sudah terpaut padamu. Aku mencintai mu karena diri mu bukan karena yang lain. Bagi ku kamu adalah wanita yang teristimewa setelah mama. Karena kesederhanaan mu itu membuat ku semakin jatuh hati. I love you calon makmum ku."ucap kevin


" I love you too calon imam ku."balas Hanin dengan senyum manisnya. Tidak ada lagi keraguan dalam dirinya, tidak ada lagi kekhawatiran akan Kevin yang hanya menganggapnya sebagai teman, sebab lelaki itu sudah membuktikan keseriusannya dengan melamarnya.


Masih terngiang bagaimana cara kevin memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya. Sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bahwa hubungannya dengan Kevin akan sampai sejauh ini, mengingat selama ini mereka hanya sekedar jalan-jalan dan itu pun hanya sekali saja di saat pertama kali Kevin mengajaknya keluar.


🍁🍁🍁


Sampai saat mobil yang di kendarainya memasuki pakaran kosan yang di tempati Hanin,dengan sigap Kevin turun dari mobilnya dan membukakan pintu sembari meraih tangan wanitanya itu.


"Ayo aku antar ke dalam."kata Kevin yang saat ini sudah menggandeng tangan Hanin.

__ADS_1


" Gak usah vin, aku bisa sendiri. Kamu pulang saja, ini sudah sangat larut."tolak Hanin secara halus. Sebab sekarang memang sudah pukul 23:30 wib, ia juga tidak ingin Kevin pulang terlambat karena harus menunggui dirinya.


" Tidak sayang. Aku harus memastikan sendiri kamu baik-baik saja."ucap Kevin tulus sembari menatap Hanin. Ia mulai menampilkan sisi overprotektifnya pada wanita itu.


" Ya sudah." kata Hanin yang sudah pasrah. Ia tidak lagi menolak kemauan Kevin dan membiarkan lelaki itu mengantarnya masuk ke dalam.


Sebenarnya ini adalah yang pertama kalinya Hanin memperbolehkan laki-laki lain masuk ke dalam kamarnya selain papa dan kakaknya. Begitupun dengan Kevin yang baru pertama kali ini masuk ke kamar Hanin. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi ruangan. Ruangan yang cukup luas dengan segala fasilitas yang lengkap, semua tersusun secara rapi. Ia tersenyum bangga, merasa beruntung memiliki calon istri yang begitu sederhana padahal bisa di lihat dari barang-barang yang di milikinya, dia bukanlah orang sembarangan. Itu membuatnya semakin yakin bahwa Hanin adalah pilihan yang tepat. Wanita yang memang pantas menjadi pendampingnya, menjadi ibu dari anak-anaknya dan sangat wajib untuk ia lindungi dan bahagiakan.


"Duduk dulu vin. Aku ke kemari mandi dulu." ucapnya kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


"Iya sayang."ucap Kevin. Kini ia tidak lagi memanggil Hanin dengan namanya, melainkan menggantinya dengan panggilan sayang.


Setelah mengganti bajunya dengan pakaian santai, Hanin beranjak ke dapur membuatkan minuman untuk Kevin dan tak lupa ia juga menyediakan cemilan.


Beberapa menit kemudian, ia kembali dari dapur dengan nampan yang berisi minuman dan cemilan. Kevin yang melihat Hanin datang dari arah dapur pun tersenyum hangat.


"Ayo di minum dulu."kata Hanin mempersilahkan Kevin menikmati suguhannya.


" Terima kasih sayang."ucap Kevin sembari meneguk segelas minuman yang ada di hadapannya.


" Ohiya sayang, besok kamu bisa kan hubungin orang tua kamu, menanyakan kapan mereka punya waktu luang. Karena sebelumnya aku sudah bicara sama papa dan mama kalau kamu sudah menerima lamaran ku, rencananya libur semester ini kami akan ke rumah orang tuamu."ucap Kevin begitu serius.

__ADS_1


" Iya, besok aku akan hubungi mama dan papa untuk menanyakannya."balas Hanin dengan senyumnya.


" Kalau begitu aku balik dulu yah sayang, setelah ini kamu tidur dan jangan begadang."pamit Kevin sembari mengusap pucuk kepala Hanin yang tertutupi dengan hijabnya.


" Iya, kamu hati-hati yah."kemudian mengantarkan Kevin sampai ke depan pintu.


" satu lagi sayang, besok aku jemput kamu yah. Jadi kita berangkat ke kampusnya barengan."ucap Kevin lagi seraya membalikkan badannya menghadap Hanin.


" Gak usah vin, aku sudah terbiasa berjalan kaki ke kampus. Lagian jarak kampus dari sini juga dekat dan aku juga berangkatnya sama Intan."lagi-lagi Hanin menolaknya secara halus, ia tidak ingin merepotkan Kevin meskipun sekarang ini keadaannya sudah berbeda, Kevin adalah calon suaminya. Namun tetap saja perasaan tidak enaknya itu lebih mendominasi.


" Gak ada penolakan Hanin sayang, pokoknya besok kita berangkatnya barengan sama Intan juga."ucap Kevin dengan tegas. Hanin hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa agar Kevin menyetujuinya.


" Ya sudah aku nurut saja. Kamu pulanglah nanti orang tua mu nyariin."kata Hanin.


" Iya sayang, aku pulang sekarang yah. Good night."ucap Kevin kemudian bergegas menuju mobilnya. Tak lupa ia menurunkan kaca mobilnya dan membunyikan klakson sebelum meninggalkan kosan Hanin.


" Good night too."ucap Hanin dengan senyum manisnya sembari melambaikan tangannya. Ia menatap mobil Kevin yang sudah melaju sampai tidak lagi terlihat olehnya. Kemudian ia masuk kembali dan mengunci pintu kamarnya.


Ia membaringkat tubuhnya di atas kasur empuknya dengan menatap langit-langit kamarnya sembari terus tersenyum mengingat apa yang telah di laluinya hari ini.


"Ternyata seperti ini yah rasanya ada orang yang memperhatikan dan mengkhawatirkan kita selain keluarga dan sahabat."bisiknya dalam hati dengan senyum yang sejak tadi tidak pernah luntur. Sungguh ia merasa sangat bahagia, bahagia yang tak hanya cukup jika di ungkapkan melalui kata-kata. Sekarang orang yang menyayanginya sudah bertambah lagi. Meskipun jauh dari keluarga namun ia bisa merasakan kehangatan layaknya kasih sayang keluarga intinya dari orang-orang yang ada di sekitarnya termasuk Kevin dan Intan.

__ADS_1


__ADS_2