
Tepat pukul 08:00 Wib, terdengar suara deru mobil yang tak asing lagi bagi mereka berdua yang di duga berasal dari halaman depan. Keduanya pun secepat kilat menghabiskan sarapannya sebelum menemui orang tersebut.
"Eh, kayaknya Kevin sudah datang, buruan yuk kan kasian kalau dianya nungguin kita."kata intan.
" Kamu duluan saja temuin Kevin, nanti aku nyusul setelah membereskan ini semua."ucap Hanin sembari menunjuk piring kotor bekas makanan mereka.
" Kok aku sih, kan kamu calon istrinya."ucap Intan sembari menarik turunkan alisnya.
" Ih apasih Intan, jangan mulai deh. Buruan sana nanti dia kesini lagi."kata Hanin sembari mendorong pelan tubuh Intan.
" Baiklah aku tunggu di depan yah."kata Intan kemudian beranjak menemui Kevin.
Hanin pun mulai membereskan meja makan kemudian beranjak mengambil tas selempangnya dan peralatan kampus lainnya sebelum menyusul Intan ke depan.
" Hanin mana? "tanya Kevin saat melihat Intan yang datang tanpa Hanin.
" Oh itu, dia ada perlu sebentar. Nanti juga nyusul kok."kata Intan.
" Ohh. Kalau begitu kamu masuk duluan ke dalam mobil" kata Kevin kemudian Intan pun akhirnya menyetujuinya dan lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Dan tak lama Hanin menghampiri mereka yang sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu.
" Eh, maaf yah. Sudah membuat kamu menunggu ku."kata Hanin yang merasa tidak enak membuat orang lain menunggunya.
" Gak apa-apa kok sayang. Ayo masuk."kata Kevin sembari membukakan pintu mobil untuk Hanin.
" Ciee.. cieee.. Sekarang panggilannya sudah pakai sayang-sayangan yah. Duhh so sweet banget sih. Bikin yang jomblo jadi iri saja."ledek Intan pada Hanin sembari meletakkan kedua tangannya di pipinya.
" Apasih Intan."kata Hanin dengan muka yang sudah memerah bak kepiting rebus.
" Hahaha baiklah, silahkan di lanjutkan adegan mesra-mesraannya, nanti aku bakal pura-pura gak dengar kok."kata Intan yang lagi-lagi sengaja menggoda sahabatnya.
__ADS_1
Hanin pun tak mampu lagi untuk berkata-kata. Ia hanya memberikan lirikan tajam pada sahabatnya, yang disambut cekikikan oleh Intan. Kevin yang melihatnya hanya bisa tersenyum akan tingkah kedua wanita itu yang menurutnya sangat lucu.
"Ohiya sayang, apakah kamu sudah memberikan kabar kepada orang tuamu perihal rencana ku untuk menemui mereka?" tanya Kevin sembari sedikit menoleh ke arah Hanin yang berada tepat di sampingnya.
"Sudah kok."jawab Hanin.
" Terus apa katanya sayang?"
" Mama bilang akan menunggu kedatangan kalian."
"Oh kalau begitu nanti aku akan bicara lagi sama papa dan mama sayang." kata Kevin yang di balas anggukan kepala oleh Hanin.
10 menit kemudian mobil yang di kemudian oleh Kevin tiba di parkiran kampus. Sebelum turun dari mobil, tak lupa Kevin mengatakan pada Hanin untuk menunggunya di parkiran apabila kuliahnya telah selesai.
"Ohiya sayang. Nanti kalau kamu sudah selesai, tungguin aku disini yah. Kita pulangnya barengan"kata Kevin saat Hanin sudah membuka pintu mobil.
" Kayaknya gak usah deh kak. Soalnya aku sama Intan ada urusan di luar kampus."kata Hanin yang saat ini sudah mengubah nama panggilan Kevin dengan kak, mengingat bahwa sebentar lagi laki-laki itu akan menjadi suaminya. Jadi ia harus memanggilnya dengan lebih sopan.
" Mau kemana, bukannya setelah ini kamu gak ada kegiatan yah**?"tanya Kevin dengan memicingkan matanya, sebab semalam ia memang sudah menanyakan perihal kegiatan Hanin hari ini. Hanin yang di tatap seperti itu menjadi sedikit gelagapan untuk menjawabnya.
" Kami ada perlu sebentar di mall, sekalian ketemu sama teman lama."kata Intan.
" Ketemu teman lama?, siapa? Laki-laki atau perempuan?"sederet pertanyaan pun Kevin ajukan kepada keduanya dan terkhusus pada wanita yang sebentar lagi menjadi pendamping hidupnya. Oleh karenanya, ia merasa apapun tentang Hanin wajib untuk ia ketahui.
" Laki-laki."kata Hanin yang memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Kevin.
" Oh, kalau begitu aku ikut, aku akan mengantarkan kalian kesana."ucap Kevin tiba-tiba. Entah mengapa ia merasa sedikit waspada terlebih Hanin merupakan salah satu perempuan yang banyak di kagumi oleh kaum adam.
" Tapi kak___"kata Hanin yang mencoba untuk bernegosiasi namun sebelum menyelesaikannya Kevin lebih dulu memotong pembicaraannya.
" Tidak ada tapi-tapian Hanin sayang. Kamu lebih pilih ditemanin sama aku atau tidak jadi pergi."kata Kevin yang sengaja menekankan setiap kata-katanya. Ia tetap kekeh untuk mengantarkan kemanapun Hanin pergi, agar semua orang tahu bahwa Hanin sebentar lagi akan menjadi miliknya jadi tidak ada lagi kesempatan bagi lelaki lain untuk mendekati Hanin.
__ADS_1
" Baiklah kak." kata Hanin yang kemudian lebih memilih untuk mengalah daripada nantinya Kevin curiga atau apalah yang mungkin saja bisa menyebabkan kesalah pahaman diantara keduanya.
"Okeh sayang, jadi nanti tunggal kabarin aku saja."
"Iya kak, kalau begitu aku dan Intan masuk duluan yah kak."pamit Hanin kemudian turun dari mobil yang diikuti oleh Kevin dan Intan yang juga ikut turun.
" Iya sayang." kata Kevin sembari mengusap pucuk kepala Hanin yang tertutupi oleh hijab.
"Ehemmm sudah yah drama paginya, tidak kasihan apa mesra-mesraan di depan jomblo kayak gitu. Kan jadi pengen."kata Intan dengan wajah yang memelas.
" Kenapa gak suruh abang Dodit aja."kata Hanin yang sontak membuat Intan memanyunkan bibirnya.
" Apasih Intan, mending aku jomblo seumur hidup daripada harus jadian sama si dodot-dodot itu."katanya sembari memutar bola mata jengahnya.
" Husss, gak boleh gitu tahu. Nanti kamu lagi yang jadi bucin terus ngejar-ngejar dia."kata Hanin mengingatkan Intan untuk tidak sembarangan berbicara.
" Iya iya deh. Kamu sih pake sebut nama dia segala."ucapnya dengan nada sedikit kesal.
" Kan kamu duluan yang ngeledekin."
"Hufff, kan cuma bercanda doang."kata Intan yang lagi-lagi memanyunkan bibirnya.
" Iya deh, aku juga cuma bercanda kok."kata Hanin sembari merangkul pundak sahabatnya. Kevin yang masih jadi penonton setia hanya bisa tersenyum melihat keduanya.
" Kita masuk sekarang yuk."ajak Hanin.
" Okelah."kemudian mereka kembali berpamitan kepada Kevin sebelum melangkahkan kakinya menuju ke kelas.
" Eh Han, kayaknya Kevin cinta banget deh sama kamu."kata Intan saat mereka sudah berada dalam ruangan.
" Ah. Masa sih?" tanya Hanin.
__ADS_1
" Iya bener, kamu gak lihat apa dari sorot matanya, cara dia memandang kamu, cara bicaranya bahkan dari sikapnya itu terlihat sangat jelas. Apalagi tadi saat kamu bilang kalau teman lama kita itu laki-laki. Terlihat sangat jelas loh raut wajahnya yang cemburu, seakan gak mau kehilangan kamu sampai dia memaksa untuk nganterin kita kesana."kata Intan yang menjelaskan apa yang ia lihat dari sikap dan cara Kevin memperlakukan Hanin.
" Hmmm. Bisa jadi sih, tapi entahlah. Aku juga gak mau terlalu berlebihan dalam menanggapinya."kata Hanin. Sebenarnya ia juga merasa bahwa Kevin betul-betul mencintainya dengan melihat sikap Kevin kepadanya yang sedikit-sedikit mulai memunculkan sikap posesifnya. Namun, ia selalu berusaha untuk tidak terlalu berlebihan ataupun terlalu berharap agar nantinya tidak merasakan kekecewaan disaat apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataan. Meskipun tidak bisa dipungkiri, yang namanya perasaan kita tidak akan pernah tahu kedepannya akan bagaimana dan seperti apa. Kita hanya bisa mengikuti alur, dan membiarkan takdir yang menentukan segala sesuatunya. Entah akan happy ending ataupun sad ending, hanya Tuhan lah yang mengetahui segalanya.