
Tepat pukul 15:00 WIB, Kevin telah tiba di kosan Hanin. Ia pun langsung memarkirkan mobilnya dengan rapi di parkiran khusus tamu sebelum akhirnya menuju ke kamar Hanin.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar membuat garis yang sedang membenarkan hijabnya langsung menghentikan aktivitasnya kemudian beranjak ke arah sumber suara.
"Iya bentar."teriaknya dari dalam.
" Siap___"belum sempat ia melanjutkan ucapannya, namun tiba-tiba ia terpaku melihat sosok lelaki yang berdiri tegak di depan pintu dengan senyum manisnya.
"Assalamualaikum sayang."sapanya saat melihat gadis pujaannya sudah berada di depannya. Namun siapa sangka sang pemilik rumah sama sekali tidak menjawab salamnya. Matanya terus saja menatap tanpa kedip, membuat si lelaki menatap heran dengan dahi yang berkerut.
" Sayang"panggilnya sekali lagi yang masih saja tidak mendapat respon apapun.
" Sayang" panggilnya lagi dengan menepuk pelan pundak Hanin, membuat gadis di depannya itu terlonjak kaget.
"Astagfirullah kak. Hobby banget sih ngagetin orang."ucapnya dengan bibir yang sudah mengerucut sembari mengelus dadanya saking kagetnya.
" Ya allah sayang, makanya jangan ngelamun terus. Dari tadi aku disini loh, sudah ngucapin salam tapi gak di jawab mana si pemilik rumah gak nawarin masuk lagi. Kan pegal nih kaki berdiri terus." keluhnya.
"Ya ampun, maaf kak lupa. Hehehe" ucapnya dengan menepok jidatnya dan sedikit tertawa dengan tingkahnya sendiri yang menurutnya sangat memalukan. Meskipun tiap hari bertemu dengan lelaki itu, namun tetap saja ia selalu terpesona melihat Kevin dengan outfit santainya. Apalagi saat ini lelaki itu mengenakan baju kaos polos berlogo kuda yang agak ketat dan sedikit menunjukkan lekukan roti sobeknya yang kemudian ia padukan dengan celana jeans selutut di serta dengan sepatu sneakernya.
"Ayo masuk kak."ucapnya yang kemudian membuka pintu lebar-lebar agar tidak menimbulkan kecurigaan dari penghuni kos lainnya. Karena sudah menjadi peraturan dari pemilik kos ~bahwa setiap penghuni kos tidak di perkenankan menutup pintu di saat sedang menerima tamu laki-laki, apapun dan bagaimanapun alasannya. Jika penghuni kos melanggar peraturan maka ia akan di kenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang ada.~
Kevin pun langsung mendudukkan bokongnya pada sofa kecil yang berada di sudut ruangan. Sembari memperhatikan setiap gerak-gerik Hanin yang saat ini sedang menuju ke dapur untuk mengambilkan minuman untuknya.
"Minum dulu kak."saat ia sudah berada tepat di sebelah Kevin dengan nampan yang berisi segelas coklat panas dan sepiring puding coklat buatannya yang ia buat tadi siang.
__ADS_1
" Iya sayang."ucap Kevin dengan senyum ramahnya.
" Jadi jam berapa nih berangkatnya ?" lanjutnya sembari melirik jam di pergelangan tangannya.
" Sekarang juga boleh kak. Tapi habisin dulu makan dan minumnya."titahnya yang langsung di turut Kevin.
" Ayo sayang."kata Kevin sesaat setelah minuman buatan Hanin habis tanpa sisa.
" Bentar kak. Aku ambil tas dulu."kemudian berlalu mengambil tas selempangnya yang ia letakkan di pinggir kasur.
" Ayo kak."ucapnnya setelah memastikan pintu kamarnya ia kunci baik-baik. Tak lupa ia mengirim pesan pada sahabatnya dan mengatakan bahwa ia sedang keluar bersama Kevin.
" Kita kemana dulu sayang? "tanya Kevin saat mereka sudah berada di dalam mobil. Tampak Hanin sedang berpikir tempat mana yang akan ia kunjungi terlebih dahulu. Sebelum akhirnya ia bersuara.
" *Kayaknya kita ke tempat pameran buku dulu deh kak. Setelah itu baru nonton*."katanya dengan penuh semangat.
" Awww. Kebiasaan deh kak, sukanya nyubit-nyubit. Sakit tau."keluh Hanin dengan mengusap-usap pipinya yang sedikit memerah. Kevin memang sering mencubit pipinya di saat ia merasa kalau Hanin sangat menggemaskan. Hal tersebut seakan menjadi magnet yang menarik tangannya untuk mencubitnya dengan gemas.
" Hehehe. Maaf yah sayang. Kamu sih ngegemesin banget. Kan sayang kalau di anggurin."balasnya dengan tawa renyahnya. Dapat di pastikan bahwa gadis di sebelahnya ini akan merajuk sepanjang jalan. Ia akan menunjukkan sisi lainnya yang lebih tepatnya jurus diam tanpa kata. Melihat hal itu, Kevin berusaha untuk mengembalikan mood wanita di sampingnya. Sebab ia tidak akan mampu jika di diami seperti itu oleh Hanin. Ia lebih memilih wanita di sebelahnya mengoceh tidak jelas ketimbang harus terdiam seperti itu
"Sayang, maafin aku yah."ucapnya memelas menampilkan wajah sok imutnya, berharap Hanin akan memaafkannya dan kembali ke mode on ceria. Namun usahanya sia-sia, Hanin masih tetap tidak bergeming. Ia masih betah mendiami lelaki di sampingnya.
" Emang enak kak di cuekin. Hihihi rasain tuh kak, kamu sih suka banget nyubit pipi aku."gumamnya dalam hati sembari sedikit tersenyum puas telah mngerjai Kevin.
" Baiklah kak. Kita nikmati saja dulu drama sore ini. Wkwkwk."lagi-lagi ia menertawakan Kevin secara diam-diam lebih tepatnya tertawa dalam hati. Menurutnya Kevin sangatlah lucu, jika dalam kondisi panik dan menegangkan. Hahaha dasar bucinš¤£
" Sayang jangan gini dong. Aku harus bgaimana lagi?"tanyanya dengan nada memelas. Ia sangat frustrasi memikirkan bgaimana cara agar Hanin kembali berbicara dengannya. Hanin pun tak henti-hentinya tertawa dalam hati.
__ADS_1
Tak mau masalahnya semakin besar, kevin pun berinisiatif untuk mengajak Hanin ke sebuah taman. Sesampainya disana ia segera menepikan mobilnya dan mencari tempat yang cocok untuk mereka berdua. Berharap suasana disana bisa membantunya untuk mengembalikan mood Hanin.
"Ayo sayang kita duduk disana." ajaknya dengan menarik tangan Hanin menuju ke sebuah kursi panjang yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Ia terus memperhatikan Hanin yang sejak tadi masih betah dalam mode diamnya namun terus mengikutinya kemana pun ia membawanya.
Saat ini Kevin masih berusaha untuk menyusun kata-kata agar tak semakin membuat gadis di sampingnya merajuk. Berbeda dengan Hanin yang sejak tadi berusaha untuk menahan diri agar tidak tertawa. Sebenarnya ia merasa kasihan melihat Kevin yang memohon-mohon padanya. Namun ia juga ingin memberi efek jera agar Kevin tak lagi menjahilinya.
"Sayang. Aku__" kata Kevin yang memulai pembicaraan setelah mereka berdiam beberapa menit. Namun, belum selesai ia berbicara tiba-tiba Hanin tertawa keras.
"Hahahaha."tawanya sembari memegang perutnya yang sakit karena sejak tadi menahan tawa.
" Kenapa sayang?, kamu sehat kan**?" tanya Kevin dengan dahi yang berkerut dan menatap Hanin dengan aneh karena tiba-tiba saja tertawa keras. Tak lupa ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Hanin.
"Enggak kak. Aku cuma mau bilang. Selamat kak kamu kena prank. Hahaha" ucapnya lagi dengan tawa yang semakin menjadi-jadi.
"Ha. Maksudnya gimana sih sayang?" tanya Kevin yang masih belum bisa mencerna baik-baik apa yang di katakan oleh Hanin.
"Haha aku itu gak ngambek sama kakak. Cuma pura-pura doang."katanya
"Ya ampun sayang. Jadi dari tadi itu kamu ngerjain aku yah."kata Kevin. Ia tidak habis pikir ternyata Hanin bisa sejail ini kepadanya.
" Awas yah. Aku gelitikin nih."ucapnya dengan kedua tangannya yang sudah siap untuk menggelitiki Hanin.
" Jangan dong kak. Aku kan cuma bercanda doang."kata Hanin.
" Enggak. Pokoknya kamu harus di hukum."kata Kevin yang kemudian menggelitiki Hanin.
Hanin pun tak tinggal diam, ia berusaha menghindar dari Kevin. Dan akhirnya mereka kejar-kejaran di tengah taman seperti anak kecil yang sedang berebut mainan. Sampai-sampai melupakan agenda yang telah mereka susun tadi pagi.
__ADS_1