
Semenjak kejadian itu dan karena nasihat dari Intan, kini Hanin menjadi sosok yang lebih peka, terlebih pada Kevin. Ia pun berusaha untuk selalu bisa menjaga perasaan seseorang yang saat ini telah membuatnya jatuh cinta setiap harinya. Apapun yang ia lakukan serta dimana pun ia berada pasti akan selalu ada Kevin yang menemaninya dan begitupun sebaliknya kecuali di antara mereka memiliki kesibukan yang sama sekali tidak bisa di tinggalkan.
Seperti saat ini, ia sedang menemani Kevin untuk melakukan olahraga rutin di salah satu pusat kebugaran yang biasa di kunjungi Kevin saat weekend. Ia dengan setianya menunggu lelaki itu sampai selesai berolahraga.
"Capek?, Nih kakak minum dulu."ucap Hanin dengan menyodorkan sebuah tumbler ukuran sedang yang biasa ia siapkan untuk Kevin.
" Terima kasih sayang."ucap Kevin sembari mengambil tumbler dari tangan Hanin dan meneguknya sampai setengah.
" Ternyata seperti ini rasanya punya seseorang yang selalu merhatiin hal-hal kecil dalam diri kita. Hemm,, rasanya sudah tidak sabar menjadikan mu istriku. Nanti pasti aku akan menjadi laki-laki yang paling beruntung memiliki istri yang tidak hanya memiliki paras yang cantik tapi juga perhatian dan penyayang."lanjutnya kemudian menatap Hanin dengan tatapan penuh cinta.
" Hahaha, kakak lebay banget sih. Masih pagi juga sudah ngasih gombalan receh."kata Hanin sembari tertawa kecil mendengar ucapan Kevin.
" Ini bukan gombalan sayang, aku serius loh. Sepertinya aku memang tidak salah karena memilih mu menjadi istriku."kata Kevin kemudian menggenggam erat tangan Hanin.
" Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan aku. Karena aku tidak akan pernah rela untuk kehilangan kamu. Jangankan kehilangan untuk membayangkannya saja aku tidak mampu apalagi kalau itu benar-benar terjadi."ucapnya lirih dengan mata yang masih menatap Hanin dengan intens. Entah apa yang ia rasakan saat ini, yang jelas rasa takut akan kehilangan selalu saja menghantui pikirannya.
" Aku tidak pernah berniat sedikit pun untuk meninggalkan kakak tapi aku juga tidak bisa berjanji untuk itu kak karena kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan selebihnya Allahlah yang menentukan apa yang terbaik untuk kita berdua. Kita hanya bisa berserah diri dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Dan berharap hanya kepada-Nya semoga apa yang sudah kita rencanakan di ridhoi oleh-Nya."
" Dan in shaa allah, kalau memang kita sudah di takdirkan untuk bersama, mau sejauh apapun aku pergi dan sekuat apapun aku menolak kehadiran kakak, Allah pasti akan tetap mempertemukan kita kak. Jadi kakak gak usah khawatir akan hal itu dan percaya pada Allah karena Dialah yang menentukan segalanya yang akan terjadi pada kita."ucap Hanin dengan senyum yang terus mengembangkan di bibir mungilnya.
" Iya sayang, semoga allah senantiasa merestui niat baik kita."balas Kevin tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Hanin.
Setelah menyelesaikan olahraganya, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatan selanjutnya yang telah mereka agendakan.
__ADS_1
🍁🍁🍁
" Aku pulang dulu yah sayang, nanti sekitaran jam 3 aku datang jemput kamu."kata Kevin ketika mereka sudah sampai tepat di depan kos Hanin.
" Iya kak. Kakak gak mau mampir dulu?"tanya Hanin.
" Gak usah sayang. Kan nanti aku juga akan datang lagi buat jemput kamu."tolaknya dengan halus.
" Atau kamu gak rela yah jauh-jauh dari aku."lanjut Kevin dengan senyuman menggodanya di sertai dengan gerakan alisnya yang ia naik turunkan.
" Ya udah sana kakak pulang saja."kata Hanin dengan memalingkan wajahnya ke arah jendela untuk menutupi rona merah pada wajahnya. Kevin pun hanya tersenyum sembari mengusap kepala Hanin.
" Bercanda kok sayang, kamu ngegemesin banget sih apalagi saat wajah kamu memerah kayak gitu."ucap Kevin yang saat ini tangannya tak lepas dari pipi Hanin dan mencubitnya dengan gemas.
" Maaf sayang. Lagian tadinya mau aku cium tapi kan belum mahram makanya hanya bisa nyubit."ucapnya dengan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
" Kita nikah besok saja yuk."ajaknya secara tiba tiba yang berhasil membuat Hanin membulatkan matanya saat mendengar apa yang di katakan Kevin.
" Menikah?, besok?, yang benar saja. Ngelamar secara resmi saja belum. Eh langsung mau nikah besok."gumamnya dalam hati.
" Hehehe."Hanin hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Kevin.
" Loh kok ketawa sih sayang?, memangnya apa yang lucu?"tanya Kevin dengan kening yang sudah berkerut karena merasa heran saat Hanin menanggapi ucapannya dengan tawa.
__ADS_1
" Kakak tuh lucu banget sih kalau lagi ngelawak, Hehehe."kata Hanin yang terus saja tertawa. Sebenarnya ia merasa sedikit gugup mendengar Kevin yang tiba-tiba saja mengajaknya nikah. Oleh karena itu, untuk menutupi rasa gugupnya dan karena sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menanggapi ucapan Kevin, Hanin pun berusaha untuk tetap tertawa meskipun kedengarannya tawanya seakan di buat-buat.
"Siapa yang ngelawak sih sayang. Aku serius ngajak kamu nikah besok."ucap Kevin yang kemudian menggenggam tangan Hanin.
Hanin yang saat ini tangannya di genggam oleh Kevin, semakin merasa gugup. Terbukti dengan tangannya yang terasa dingin dan sedikit bergetar. Bibirnya sudah tidak mampu lagi untuk berkata apa-apa, lidahnya pun terasa keluh. Syok bukan main, lelaki di hadapannya ini selalu saja berhasil membuat ia terkejut dengan apa yang ia katakan.
Setelah berperang dengan pikirannya sendiri, dan juga usai menarik nafas dalam-dalam akhirnya Hanin memberanikan diri untuk menanggapi ucapan lelaki yang ada di hadapannya yang sejak tadi dengan setianya menunggu jawabannya.
"Bismillah, semoga saja ia bisa mengerti dan tidak merasa tersinggung dengan apa yang akan aku katakan padanya."batin Hanin.
" Kak."
" Iya sayang."balas Kevin. Matanya tidak pernah berhenti menatap manik mata Hanin yang terlihat sangat jelas bahwa mata elang itu menatap Hanin dengan tatapan penuh rasa cinta bahkan Hanin pun kini bisa merasakannya.
" Apa gak sebaiknya kita bicarakan itu nanti saja di saat kedua keluarga sudah berkumpul kak?, karena aku pun juga menginginkan pernikahan ini segera di laksanakan hanya saja sebelum itu kita harus mempertimbangkannya dengan baik bukan? dan aku rasa kita tidak perlu terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan kak."kata Hanin yang saat ini ikut membalas genggaman Kevin dan matanya yang juga menatap dalam mata elang Kevin.
" Aku tahu kekhawatiran yang kakak rasakan karena aku pun juga merasa demikian. Tapi bukankah tadi sudah ku katakan bahwa serahkan semuanya kepada Allah. Karena hanya dialah sang pengatur skenario terbaik untuk kita, untuk masa depan kita selanjutnya."lanjutnya dengan senyuman manisnya. Ia sangat berharap agar Kevin bisa mengerti dengan apa yang ia katakan.
Pernikahan itu bukanlah sebuah permainan, pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral. Dan menikah bukan hanya sekedar sahnya saja tapi apa yang akan kita lakukan setelah menikah sebab menikah adalah ibadah yang terpanjang. Jadi kita tidak bisa terburu-buru dalam mengambil keputusan yang memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Jangan sampai nantinya kita salah jalan dan akan berakibat pada rumah tangga kita kelak.
Kevin hanya bisa terdiam mencerna setiap kata-kata yang keluar dari bibir mungil Hanin. Ia tersadar bahwa apa yang di katakan oleh Hanin ada benarnya. Menikah bukanlah sesuatu yang mudah seperti yang di bayangkan oleh semua orang. Sebab pertanggungjawabannya itu dunia akhirat.
"Baiklah sayang, nanti kita akan bicarakan lagi bersama keluarga kita."ucapnya kemudian yang di balas senyuman oleh Hanin. Ada rasa lega dalam diri Hanin setelah mendengar respon dari Kevin. Dan setelah itu Kevin pun pamit untuk kembali ke apartemennya.
__ADS_1