Akhir Dari Sebuah Penantian

Akhir Dari Sebuah Penantian
Gara-gara Drama Korea


__ADS_3

Weekend biasanya menjadi hari yang paling di nanti-nantikan oleh semua orang. Termasuk kaum rebahan seperti Hanin dan Intan. Kalau sebagian orang pasti akan keluar untuk sekedar cuci mata, namun berbeda dengan mereka yang lebih memilih untuk tinggal di kosan. Menurutnya kos adalah tempat ternyaman untuk melepaskan penat akibat dari kegiatan-kegiatannya yang kemarin. Sehari rasanya sudah cukup untuk membayar keletihan mereka selama 5 hari terakhir.


"Bagusnya ngapain yah?" ucap Hanin pada dirinya sendiri.


"Ahha."seperti mendapat ide cemerlang di otaknya.


" Nonton drakor saja deh."kemudian mengambil laptopnya dan cemilan kentang kesukaannya.


" Untung masih ada kamu yang bisa nemenin aku nonton."ucapnya saat mengambil 3 bungkusan cemilan kentang dan 1 botol minuman rasa buah kesukaannya.


Ia kemudian memutar drama korea favoritnya yang berjudul "A Gentleman's Dignity". Entah sudah yang ke berapa kalinya ia menontonnya namun tetap saja selalu membuatnya menangis dan terkadang juga tertawa sendiri seperti orang gila.


Intan yang baru saja datang, di kagetkan dengan kondisi sahabatnya yang begitu memprihatinkan mata yang sembab dan memerah serta tissue yang sudah berserakan di mana-mana.


"Ya Allah Han kamu kenapa?" pekiknya saat mendapati kamar sahabatnya yang di penuhi tissue bekas. Hanin kemudian menoleh ke arahnya dengan tangis yang masih sesegukan.


"Hiks hiks hiks. Intan sedih banget tahu."ucapnya di sela-sela tangisnya.


" Kenapa sih Han? "tanya Intan yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya.


" Kasian banget si kamu, hiks hiks hiks."ucapnya lagi tanpa menjawab pertanyaan Intan.


" Kenapa sih nih anak, aneh banget deh. Di tanya juga bukannya ngejawab malah tambah nangis."ucapnya di saat sama sekali tidak mendapat jawaban dari sahabatnya.


" Kenapa sih han?, jawab dong. Kesel deh dari tadi di kacangin mulu."ucapnya lagi.


" Tuh liat deh Intan, kasian banget kan si ahjussi itu cintanya bertepuk sebelah tangan. Hiks hiks hiks kalau aku yang ada di posisi itu pasti gak bakalan kuat deh."kata Hanin masih dengan drama tangisnya yang tiada henti.


"Yah mana sih Han?" tanya Intan yang masih belum memperhatikan laptop yang ada di hadapan Hanin.

__ADS_1


"Tuh, si Do jin kan naksir sama Yi so. Eh tau-taunya Yi so naksirnya sama Tae san sahabatnya Do jin kan nyesek Tan."ucap Hanin sembari menunjuk laptop yang ada di hadapannya. Intan kemudian mengikuti arah jari telunjuk Hanin yang pada akhirnya membuat ia geleng-geleng kepala.


" Ya ampun Hanin jadi dari tadi kamu nangis-nangis gak jelas gitu gara-gara drama korea?"tanya Intan dengan mata yang sudah membelalak. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya akan semenyedihkan itu hanya karena drama korea.


" Iyalah. Dari tadi tuh aku nonton ini, sedih banget tahu hiks hiks hiks. Feel nya dapet banget. Bikin gak kuat buat nahan tangis."ucapnya yang kembali menangis. Intan yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya.


Inilah sisi perbedaan antara ia dan Hanin. Kalau Hanin suka dengan drama korea, maka berbeda dengannya yang lebih suka menonton film action atau gak film horor.


" Udahan deh Han drama nangisnya, mending kita masak-masak yuk. Aku laper nih."ucapnya yang kemudian menyambar cemilan kentang yang ada di tangan Hanin dan memakannya tanpa tersisa sedikit pun.


" Laper atau doyan?"tanya Hanin yang melihat Intan begitu lahapnya memakan cemilan itu.


" Dua-duanya."jawabnya dengan mulut yang masih di penuhi makanan.


" Ya udah, ayo kita masak."ucap Hanin kemudian mematikan laptopnya dan menyimpannya kembali ke tempatnya.


" Ya ampun, aku lupa tan kita kan belum belanja bulanan. Gak ada yang bisa di masak nih."lanjutnya saat mereka sudah berada di dapur.


" Okehdeh, aku ganti baju dulu." kemudian mengganti pakaiannya dengan baju kaos berwarna hitam di padukan dengan celana jeans biru serta pasmina dengan warna yang senada.


" Eitssss tunggu deh Han, kamu yakin mau ke supermarket dengan mata sembab seperti itu?" tanya Intan.


" Upssss. Iya yah. Kalau begitu tungguin sebentar." kata Hanin kemudian tampak mencari-cari sesuatu di dalam laci.


"Cari apasih Han?, buruan deh aku sudah lapar banget nih."kata Intan.


" Nah ini dia."ucapnya sembari menunjukkan kacamata hitamnya.


" Hahaha, kamu kalau pake kacamata itu, kayak mirip mbak-mbak yang tukang jamu itu."kata Intan yang terus menertawai Hanin.

__ADS_1


" Terus gimana dong? "


" Ya siapa suruh nonton drakor sampai nangis-nangis gak jelas gitu."


"Kan sedih jadi ke bawa perasaan gitu."


"Ya sudah gak apa-apa kamu pake itu saja. Disana juga gak bakal ada yang ngenalin kamu."


Mereka pun menuju ke supermarket dengan mengendarai sepeda motor matic milik Hanin. Hanin memang memiliki motor begitu pun dengan Intan. Namun karena jarak antara kampus dan kosan mereka dekat, akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja sekaligus berolahraga.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di supermarket dan bergegas memarkirkan motornya. Lalu mereka masuk ke dalam, Intan bertugas untuk mendorong troli sementara Hanin bertugas untuk memilih-milih makanan untuk kebutuhan mereka sampai satu bulan ke depan. Mereka memang sering berbelanja maupun memasak bersama. Meskipun Intan sendiri juga bisa memasak namun ia lebih sering ke kamar Hanin karena bisa di bilang sahabatnya itu sangat lihai dalam masak-memasak dan soal rasa tidak perlu di ragukan lagi.


Saat mereka sedang memilih-milih makanan, tiba-tiba saja ada yang mengenali mereka, lebih tepatnya mengenal Hanin dan memanggil namanya.


"Hanin."panggil orang tersebut namun Hanin belum meresponnya karena takutnya ia hanya salah dengar.


" Hanin."untuk kedua kalinya orang itu memanggil namanya.


" Kayak ada yang manggil nama ku, tapi siapa yah? "batinnya. Kemudian ia menoleh pada Intan yang berada tepat di sebelahnya untuk menanyakan apakah Intan juga mendengar orang tersebut memanggil namanya atau kah hanya dia saja yang merasa bahwa ada yang memanggilnya.


" Intan, kamu dengar gak ada yang manggil nama ku? "tanyanya pada Intan.


" Manggil kamu?, enggak tuh. Kamu salah dengar kali. Lagian siapa yang bisa ngenalin kamu, apalagi dengan kacamata hitam mu itu. "kata Intan karena ia merasa tak mendengar apapun dari tadi.


" Ih masa sih tan, aku dengar dua kali loh. Masa iya aku bisa salah dengar."kata Hanin yang sangat yakin jika ada yang memanggil namanya.


" Ya mungkin saja kamu memang salah dengar, buktinya kan aku gak dengar sama sekali."


"Adduh kok jadi merinding gini yah."kata Hanin sambil bergidik ngeri.

__ADS_1


" Buruan yuk, biar kita bisa cepat pulang."lanjutnya yang kemudian di setujui oleh Intan.


__ADS_2