
Tak lama kemudian sebuah mobil pajero sport berwarna hitam tiba di kosan Hanin yang tak lain adalah Kevin yang datang menjemputnya.
Ting.. Ting.. Ting..
Bunyi klakson dari sang pemilik menyadarkan Hanin dari lamunannya dan segera menemui Kevin saat mendapat pesan singkat dari pria itu.
Ping..
π© +6285xxxxxxxxx
Han aku sudah ada di depan kosan kamu.
π€ Me
Iya bentar.
π© +6285xxxxxxxxx
Okehdeh βΊοΈ
"Intan."ucapnya sembari terus mondar-mandir
"Hem. Apaan sih Han mondar-mandir terus dari tadi, kayak cacing kepanasan saja"
"Kevin sudah di depan."ucapnya dengan terus meremas jari-jarinya.
"Ya sudah samperin sana, kasian dia kalau kelamaan nungguin kamu."
"Tapi Intan. Aku malu."
"Sudah pergi sana." ucap Intan dengan sedikit mendorong Hanin menuju depan pagar.
"Hati-hati yah Han."kemudian di balas anggukan oleh Hanin.
" Kevin, aku titip Hanin yah, jaga dia baik-baik. Jangan sampai ada yang kurang seujung kuku pun."ucapnya yang mengingatkan saat melihat kevin turun dari mobilnya.
" Siap, aku berangkat yah."pamitnya kemudian membuka pintu untuk Hanin.
" Silahkan."lanjutnya.
"Terima kasih."ucap Hanin dengan senyum manisnya. Meskipun sebenarnya dia masih grogi karena ini adalah yang pertama kalinya Hanin keluar bersama laki-laki selain papa dan kakaknya.
Setelah itu Kevin sedikit berlari menuju arah kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil hanya ada keheningan, Hanin yang terus saja menatap ke arah jendela dan Kevin yang juga tengah serius mengemudikan mobil. Namun, sesekali matanya melirik ke arah wanita yang duduk di sebelahnya.
"Han."ucapnya yang mencoba memecah keheningan di antara mereka.
" Eh i-iya." ucap Hanin dengan terbata-bata.
"Kamu kenapa?, sakit?" tanya kevin dengan sedikit khawatir begitu mendapati Hanin yang terlihat grogi.
" Eh enggak kok, aku gak apa-apa."ucapnya dengan senyuman canggung.
" Syukurlah, aku kira kamu sakit soalnya dari tadi cuma diam saja."kemudian kembali fokus ke depan.
" Oh iya Han, kamu pernah ke pasar malam gak?"
"Pernah sih. Dulu waktu masih kecil aku selalu di ajak sama papa dan kakak ku."
__ADS_1
"Hem gitu yah. By the way, kamu asli mana?, soalnya kemarin kita belum ngobrol sampai ke situ."
"Aku asli Jakarta, kamu?" tanyanya balik di saat rasa groginya itu perlahan-lahan hilang.
"Aku juga asli Jakarta tapi lahir dan besarnya disini."
"Ohhh."
Kemudian tak ada lagi pembicaraan sampai akhirnya mereka tiba di pasar malam.
"Tunggu bentar, kamu Jangan turun dulu."ucapnya saat melihat Haninsudah memegang pintu.
" Kenapa?"tanya Hanin dengan bingungnya dan yang pastinya ada rasa was-was, takutnya nanti Kevin akan berniat buruk padanya. Namun, perasaan itu segera di tepisnya saat melihat Kevin turun dari mobil dan membukakan pintu sembari mengulurkan tangannya dan mempersilahkan Hanin keluar dari mobil.
" Terima kasih." ucapnya dengan senyum ramah kemudian membalas uluran tangan kevin. Dia tidak pernah menyangka bahwa Kevin akan memperlakukannya bak ratu di kerajaan.
"Kita mau naik apa dulu?" tanya Kevin saat mereka sudah masuk di dalam dimana terdapat begitu banyak permainan di sana.
"Naik itu saja."ucapnya dengan menunjuk wahana bianglala.
Kevin lalu membeli 2 tiket untuk mereka dan menunggu giliran untuk naik di wahana tersebut. Karena kebetulan ini adalah malam minggu, jadi pengunjung di pasar malam begitu ramai.
"Ayo, sekarang giliran kita."ajaknya
Mereka akhirnya naik ke atas. Hanin tampak begitu senang menikmati indahnya pemandangan di malam hari dari ketinggian kurang lebih 30 meter. Dulu waktu kecil hampir setiap malam Hanin, papa dan kakaknya selalu pergi ke pasar malam. Namun setelah memasuki usia remaja dia tak lagi mengunjungi tempat itu, sebab papa dan kakaknya sudah di sibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Kevin yang melihat pancaran senyuman dari wajah Hanin hanya bisa ikut tersenyum sembari terus memperhatikan wanita yang ada di sebelahnya. Ternyata cukup mudah untuk membuat wanita ini tersenyum, berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini dekat dengannya yang hanya bisa menghamburkan uang untuk hal yang tidak terlalu penting.
Hanin yang menyadari jika Kevin memperhatikannya sejak tadi pun mencoba menoleh untuk memastikan feeling nya. Dan mendapati pria itu tersenyum sendiri.
"Kevin." panggilnya dengan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kevin, namun si pemilik nama tak kunjung tersadarkan dari lamunannya.
"Kevin."panggilnya lagi yang kali ini memberanikan diri untuk memegang pundak Kevin.
" I-iya."jawab kevin dengan terbata-bata karena sedikit syok di saat Hanin yang tiba-tiba menyentuh pundaknya.
" Oh tidak, aku hanya heran dengan mu."
"Heran dengan ku?, kenapa?" tanyanya dengan kening yang sedikit berkerut.
"Apa maksudnya?" batinnya.
"Iya, aku heran ternyata masih ada saja wanita yang mau di ajak ke tempat yang seperti ini, dan dia juga begitu menikmatinya. Biasanya kan wanita jaman sekarang paling hobby jalan-jalan ke mall atau gak kemana gitu yang penting bisa shopping."
"Hehehe, gak semuanya juga kali. Setiap orang itu berbeda, mereka punya hobby dan kebiasaannya masing-masing. Kalau aku sih kan emang dari kecil biasa main ke tempat yang seperti ini. Jadi wajarlah kalau aku suka." ucap Hanin sembari tertawa renyah.
"Ya sudah, ayo kita turun."lanjutnya.
" Sekarang kita mau coba wahana apa lagi? "tanya Kevin saat mereka sudah berada turun dari bianglala.
" Kita coba rumah hantu yuk."ajak Hanin.
" Boleh. Tapi memangnya kamu gak takut?"tanya Kevin sedikit ragu karena setahunya kebanyakan wanita takut dengan hal yang berbau mistis atau horor.
" Gak kok, aku berani."ucap Hanin dengan mantap.
" Kalau begitu ayo kita coba."ucapnya kemudian menarik tangan Hanin masuk ke dalam rumah hantu.
Di dalam sana, suasana tampak begitu mengerikan. Mereka masuk melewati lorong-lorong yang gelap di tambah dengan suara musik yang membuat suasana semakin mencekam. Mereka juga di keliling oleh hantu jadi-jadian. Meskipun demikian tetap saja mereka merasa kaget dan ketakutan, apalagi jika tiba-tiba hantu itu ada di depan mereka.
"Akhhhhh."teriak Hanin saat tiba-tiba ada kuntilanak yang berdiri di depannya dan tanpa sadar ia pun langsung melompat dan memeluk Kevin dengan sangat erat. Kevin yang juga kaget dengan teriakan Hanin juga langsung membalas pelukan Hanin. Jantung keduanya berpacu dengan begitu kencang di saat posisi mereka yang begitu dekat. Hanin yang kemudian sadar akan hal itu, langsung melepaskan pelukannya dari Kevin.
__ADS_1
"Maaf, aku kaget."ucap Hanin sembari terus memegang dadanya karena merasakan jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
" Aku kenapa yah?, kenapa jantung ini berdetak lebih kencang?, apa aku punya penyakit jantung?. Ahh sepertinya, setelah ini aku harus ke dokter untuk memastikannya."batin Hanin yang terus bertanya-tanya.
" Ohiya gak apa-apa kok."balas Kevin. Ia pun merasakan hal yang sama seperti Hanin, jantungnya yang berdetak lebih kencang seakan ingin melompat dari tempatnya.
Mereka akhirnya keluar dari rumah hantu masih dengan perasaan yang sama. Sedikit syok, deg-degan dan ada rasa bahagia.
"Kita duduk di sini saja yah, aku kesana dulu dan jangan kemana-mana."ucapnya pada Hanin kemudian beranjak ke suatu tempat. Hanin hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bertanya sedikit pun.
Tak berselang lama Kevin datang dengan dua bungkus permen kapas beserta minuman dingin di tangannya. Hanin yang melihat kedatangan Kevin pun tersenyum pasalnya ia memang merasa sangat haus. Masuk ke wahana rumah hantu bukan hanya menguji adrenalinnya saja namun juga menguras tenaga dan keringat sehingga dapat menimbulkan dehidrasi jika tidak segera meminum air putih.
"Terima kasih."ucapnya di saat Kevin menyodorkan sebuah botol minuman yang sudah terlebih dulu di buka oleh kevin.
" Kamu suka makan permen kapas?"tanya kevin saat melihat Hanin yang begitu asyiknya mengunyah permen kapasnya.
" Iya."jawabnya singkat sembari sedikit menoleh pada Kevin.
" Pantesan senyum kamu manis banget, ternyata karena permen kapas ini."gombalnya.
" Hahaha."lagi-lagi Hanin tertawa mendengar ucapannya.
" Tapi jangan banyak-banyak yah."katanya yang berhasil membuat Hanin menatap penuh tanya pada Kevin.
" Kenapa?"
" Soalnya kamu kan udah manis, kalau kebanyakan nanti bisa diabetes."
" Hahaha kamu bisa gombal juga yah."ucap Hanin yang terus saja menertawakan Kevin.
" Aku serius Han, ini bukan gombal."ucapnya.
"Hahaha terserah kamu saja deh."
"Kita pulang aja yuk, sudah jam 10. Nanti pagarnya di gembok, dan kita gak bisa masuk. Soalnya aku juga lupa bawa kunci."lanjut Hanin yang di balas anggukan oleh Kevin.
Kevin akhirnya mengantarkan Hanin sampai di depan gerbang kos-kosannya. Dan lagi-lagi Kevin memperlakukanya seperti ratu.
" Terima kasih sudah di ajak jalan-jalan."ucapnya saat sudah turun dari mobil.
" Gak usah bilang makasih. Seharusnya aku yang bilang gitu, karena kamu sudah mau meluangkan waktu untuk ku."
"Iya deh."kata Hanin.
" Kalau begitu aku pamit yah."kemudian melajukan mobilnya.
"Iya hati-hati vin. "ucap Hanin dengan melambai-lambaikan tangannya.
Hanin pun segera masuk ke kamarnya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Membayangkan momen di saat mereka berada di pasar malam tadi.
" Sepertinya ada yang bahagia nih**" ucap Intan yang tiba-tiba datang menghampiri Hanin.
"Yah gitu deh."balasnya.
" Cerita dong Han. Kamu ngapain aja disana." desak intan dengan begitu keponya.
" Besok saja yah, aku ngantuk nih."kata Hanin kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
" Ya udah deh. Tapi janji yah."ucap intan dengan pasrah, kemudian kembali ke kamarnya.
__ADS_1
" Iya janji." teriak Hanin dari dalam kamar mandi.
Setelah menyelesaikan segala urusannya, Hanin pun segera membaringkan tubuhnya yang lelah di kasur empuk miliknya kemudian menuju ke alam mimpi.