
Setelah memastikan Hanin duduk, Kevin pun juga mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang berada tepat di hadapan Hanin dan tak lama pelayan restoran datang membawa menu makanan dan minuman favorit yang sebelumnya telah di pesan oleh Kevin. Hanin sontak terbelalak melihat banyaknya makanan dan minuman yang di hidangkan. Ada Striploin steak, Farfalle carbonara, Spanish saffrone rissoto, Lamb chope, Red velvet crepes, Topped with strowberries and vanilla ice cream, Chocolate souffle, Speculoos spiced souffle, Cappuccino fredoo, dan Sweet camomile.
"Astaga banyak sekali."batinnya.
Hanin pun memberanikan diri untuk menatap Kevin seolah bertanya mengapa makanannya begitu banyak. Kevin yang mengerti akan tatapan Hanin pun lagi-lagi tidak ingin memberikan alasan, ia hanya tersenyum tampan pada wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Jangan hanya di lihatin saja. Ini untuk di makan bukan pameran. Ayo Han"kata Kevin yang mencoba menyadarkan Hanin dari rasa keterkejutannya.
" Orang tua kamu mana? Bukannya kita akan makan malam bersama mereka**? " tanya Hanin karena sejak tadi ia tidak melihat orang tua Kevin. Dan seingatnya tadi sore Kevin mengirim pesan bahwa mamanya yang mengajak Hanin untuk makan malam di restoran favoritnya.
" Sudah, ayo di makan dulu."bukannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Hanin, Kevin malah dengan santainya mengatakan " Sudah, ayo makan dulu".
"Tapi kevin" ucap Hanin yang terhenti. Sebenarnya ia merasa tidak enak jika harus makan terlebih dahulu tanpa menunggu orang yang telah mengundangnya makan malam. Menurutnya itu sangatlah tidak sopan.
"Sebenarnya memang mama yang mengundang kamu untuk kesini, dia juga yang telah merekomendasikan tempat ini untuk kita berdua. Jadi disini hanya kita berdua, mama dan papa gak ikut"ucap Kevin yang pada akhirnya memilih untuk menjelaskannya, ia merasa tidak enak membuat gadis di hadapannya ini terus-menerus menunggu orang tuanya yang sudah pasti tidak akan datang karena makan malamnya ini memang di peruntukkan bagi mereka berdua.
" Daripada dia gak makan dan terus-menerus nungguin mama dan papa, kan kasian." pikirnya.
Hanin pun terdiam, ia masih mencerna ucapan Kevin yang mengatakan bahwa makan malam ini memang untuk mereka berdua.
"Ayo Han, kita makan sekarang."kata Kevin sembari menyentuh tangan Hanin yang membuat sang pemilik tangan tersadar akan lamunannya.
__ADS_1
" Eh i-iya."ucapnya sedikit terbata.
Mereka pun menyantap makanan yang ada di hadapannya, tidak ada percakapan di antara keduanya hanya ada suara dentingan sendok yang bergesekan dengan piring, namun sesekali Kevin tersenyum melihat ke arah Hanin. Hanin yang merasa ada yang memperhatikannya pun mencoba untuk mendongakkan kepalanya yang sejak tadi menunduk dan fokus pada makanan yang ada di di depannya. Seketika pandangan mereka bertemu, dan lagi-lagi membuat jantung keduanya berpacu begitu cepat seakan ingin melompat dari tempatnya.
Deg.. Deg... Deg..
"Han."tiba-tiba Kevin membuka suara, mencoba untuk memecah keheningan di antara mereka.
" Iya." jawab Hanin.
" Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."ucap Kevin dengan nada yang lembut namun mengisyaratkan sebuah keseriusan akan ucapannya.
" Iya silahkan."kata Hanin yang kemudian menatap Kevin. Ia pun penasaran kira-kira apa yang akan di katakan oleh pria di hadapannya ini. Jika di lihat dari raut wajahnya, sepertinya ini sesuatu hal yang sangat penting.
Kevin berusaha untuk menarik napas dalam-dalam sebelum memulai apa yang akan di bicarakannya. Ia pun menggengam kedua tangan Hanin dan berkata..
"Han mungkin menurut mu ini terlalu cepat, apalagi pertemuan kita ini terbilang singkat, kita belum lama ini saling kenal. Aku tidak tahu pasti seperti apa dirimu dan begitu pun sebaliknya. Namun, jujur sejak pertama melihatmu aku merasa ada yang berbeda, ada getaran di hati ku di saat aku melihat mu. Sebelumnya aku tidak yakin dengan perasaan yang ku miliki, awalnya ku kira ini hanya sebatas rasa kagum ku kepadamu namun semakin kesini aku merasa bahwa memang aku telah jatuh cinta kepada mu."ucap Kevin yang terhenti. Ia mencoba untuk menghirup udara sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
" *Han izinkan aku untuk menjadi seseorang yang penting bagimu, izinkan aku untuk menjadi orang yang setiap saat bisa menikmati indahnya senyuman yang terpancar di bibir indah mu itu. Dan izinkan aku untuk menjadi tempat mu bersandar di kala kau merasa lelah akan keadaan."
"Hanin Raihana Syahira.. Maukah kau menjadi istriku?, menjadi ibu dari anak-anak ku yang kelak akan selalu berada di samping ku, berjalan beriringan dengan ku untuk menjalani bahtera rumah tangga menuju sakinah mawaddah warahma*."tanya Kevin sembari mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, kemudian dengan perlahan membuka kotak itu yang ternyata berisikan cincin berlian yang simple namun tetap terlihat elegan.
__ADS_1
Hanin hanya bisa mematung mendengar apa yang barusan di katakan oleh Kevin. Ia masih berusaha untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. Ia ingin memastikan apakah ini nyata atau hanya sekedar halusinasinya saja.
"Apakah ini benar-benar nyata atau aku hanya bermimpi?" bisiknya dalam hati dan tak terasa bulir-bulir bening yang tadinya menggenang di pelupuk matanya kini perlahan-lahan menetes. Secepat mungkin ia menghapus air matanya ia tidak ingin Kevin melihatnya, namun siapa sangka bahwa lelaki itu sejak tadi memperhatikannya dan ia juga melihat Hanin yang meneteskan air mata.
"Kenapa nangis Han? Apakah aku salah ngomong atau aku menyinggung perasaan mu?" tanya Kevin sedikit panik saat mendapati Hanin yang tiba-tiba meneteskan air mata. Namun bukan jawaban yang di dapatnya, sebab wanita di hadapannya itu menjawabnya dengan pertanyaan juga.
"Apakah ini nyata atau aku hanya bermimpi saja?" akhirnya pertanyaan yang sejak tadi bersarang di pikirannya lolos begitu saja. Ahh entah apa yang ada di otak wanita cantik itu. Kenapa ia tiba-tiba menjadi lambat loading begini.
"Ini bukan mimpi Han, ini nyata. Benar-benar nyata dan aku serius ingin menjadikan mu pendamping hidupku. Apakah kamu bersedia?" tanya Kevin yang kembali mengulang pertanyaannya sambil mengusap lembut tangan wanita itu.
Hanin mencoba untuk menatap mata elang lelaki yang ada di hadapannya itu. Mencoba mencari kebohongan yang ada disana, namun nihil ia sama sekali tidak menemukannya yang ada hanyalah sorotan mata yang mengisyaratkan sebuah kejujuran.
Perlahan Hanin menganggukkan kepalanya tanda ia menerima lamaran dari Kevin dan berkata
"I-iya, aku bersedia."dengan sedikit terbata ia menjawabnya. Bukan apanya ia masih sedikit syok dengan Kevin yang melamarnya secara tiba-tiba. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki itu mempunyai cukup keberanian untuk mengungkapkannya sekarang.
Setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut Hanin, Kevin pun langsung meraih tangan kiri Hanin dan memasangkan sebuah cincin di jari manis wanitanya itu.
"Kevin." panggil Hanin.
"Iya sayang."jawab Kevin dan seketika membuat Hanin mematung. Ini baru pertama kalinya ada laki-laki yang memanggilnya seperti itu selain papa dan kakaknya.
__ADS_1
" Hemm."sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu namun ia pun juga masih ragu.
"Kamu gak usah khawatir, setelah ini aku dan orang tuaku akan menemui orang tuamu dan melamar mu secara resmi."ucap Kevin yang seakan mengerti dengan apa yang akan di bicarakan Hanin. Hanin pun hanya bisa mengangguk sambil memperlihatkan senyum manisnya pada lelaki yang baru beberapa menit yang lalu melamarnya.