Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
10. Hinaan dari Suami


__ADS_3

Hari sudah malam, sejak sore aku hanya diam saja duduk di sofa ruang keluarga menunggu kepulangan Mas Dirga. Padahal satu jam yang lalu mas Dirga mengirimi ku pesan dan mengatakan jika dirinya akan pulang larut malam, jadi dia menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu. Tapi entah kenapa, hati dan pikiranku menjadi tak tenang saat mengingat ucapan Wulan tadi siang.


Tak lama terdengarlah suara deru mobil dari arah luar. Aku yakin pasti itu adalah Mas Dirga yang sudah pulang. Dan benar saja, beberapa menit kemudian mas Dirga masuk dan menghampiri aku.


"Sayang, kamu belum tidur kenapa?"


"Hem nungguin kamu, mas."


"loh padahal kan mas sudah bilang kalau mas pulang larut malam ini, dan nyuruh kamu tidur duluan." Ucapnya.


"Ya sudah. Kalau begitu kamu bersih-bersih dulu." Titahku.


Mas Dirga menganggukkan kepalanya kemudian ia pamit pergi menuju ke kamar. Sementara aku mengekor di belakang.


Sesampainya di kamar, mas Dirga langsung melepas kemejanya lalu menaruhnya di keranjang khusus pakaian kotor. Ada sesuatu yang menarik perhatian ku yaitu sebuah tanda merah di dada bagian atas mas Dirga.


Aku mendekati mas Dirga lalu mengamati tanda merah itu.


"Kenapa?" Tanya Mas Dirga yang belum sadar.


"Ini apa?" Tanya ku yang terus memperhatikan tanda di dadanya.


Mas Dirga terkejut ia menutupi tanda tersebut dengan sebelah tangannya.


"Ini sangat gatal. Mas garuk-garuk terus makannya merah." Jawab Mas Dirga.


Aku menatap mas Dirga untuk beberapa saat, tapi dengan cepat mas Dirga memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Mas Dirga menunjukan gelagat aneh dan sepertinya memang ada sesuatu pada diri mas Dirga.


"Mas pengen makan sup ayam. Kamu siapin, gih!" Perintah Mas Dirga.


Aku mengangguk kemudian beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Pikiran ku melayang entah kemana. Mungkinkah mas Dirga bermain serong dibelakang ku?


POV Dirga


Jantung ku berpacu dengan cepat tak kala istriku menatap ke arah ku dengan serius. Aku mencoba tenang agar ia tidak curiga. Ah, sial ia berjalan menuju ke arah ku.


Aku juga sama terkejutnya saat Melihat ada tanda merah di dadaku. Sial, ini pasti kerjaan Mawar.


Aku mencoba tetap tenang sambil mencari-cari alasan yang masuk akal agar istriku tidak berpikiran macam-macam.

__ADS_1


Dan benar saja, istriku menanyakan tanda merah itu.


Untungnya aku bisa mencari alasan yang tepat tapi sepertinya ia kurang puas dengan jawaban ku.


Jadi untuk mengalihkan situasi yang seperti ini, aku langsung saja menyuruh istriku membuatkan ku sup ayam. Aku bernafas lega saat Sania mengiyakan. Ah... Hampir saja ketahuan.


Setelah kepergian istriku, aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah lengket akibat berkeringat bersama Mawar tadi siang. Aku kembali mengingat-ingat kejadian tadi, membuat ku tersenyum-senyum sendiri. Entahlah, aku juga bingung dengan perasaan ku sendiri. Bersama Mawar membuat hidup ku lebih berwarna, berbeda dengan Sania, aku sama sekali merasa hambar saat bersamanya. Tapi meskipun begitu, aku sangat lah mencintai Sania.


Setelah selesai memasak, Sania kembali ke kamarnya untuk memberitahukan Suaminya bahwa makanan yang ia masak telah siap.


Keduanya kini sudah berada di ruang makan, menikmati makan malam bersama. Hening, baik Sania dan Dirga tidak ada mengeluarkan suara, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring. Terlihat Sania terus saja memandangi suaminya dengan tatapan datar.


"Kamu kok ngelihatin aku begitu, emangnya ada apa?" tanya Dirga.


"Aku mau tanya sesuatu sama kamu, Mas." Ucap Sania.


"Ya ampun, nanya mah tinggal nanya..."


Sania menghela nafas panjang.


"Temenku bilang katanya dia pernah lihat kamu lagi dihotel mesra banget sama Mawar. Bahkan bukan dihotel saja, tapi ada yang lihat juga kamu pergi ke mall sama Mawar." Ucap Sania.


"Gak usah fitnah begitu. Kemarin memang ada meeting di hotel sama klien. Kamu tahu sendiri kan mas sama Mawar itu rekan kerja."


"Rekan kerja tapi kenapa mesra?" tanya Sania.


"Kata siapa? Kamu nggak usah pikiran yang macam-macam deh!"


"Kok kamu ngegas, kan aku cuma nanya nggak nuduh."


"Bilang aja nuduh. Kamu jadi orang nggak usah percaya sama omongan orang lain. Bisa saja dia ingin melihat rumah tangga kita hancur dengan mengiring opini yang buruk." Jelas Dirga.


"Ya udah. Jangan di perpanjang!" Seru Sania.


Dirga mendengus kesal, hampir saja ia terbakar api emosi.


"Mas, nanti malam bikinin adik buat Lalita yuk!" Ajak Sania mengalihkan obrolan yang sempat panas.


"kamu mau hamil lagi, mending nggak usah deh!"


"Kok gitu?"

__ADS_1


"Kamu baru hamil anak pertama aja badan mu dah melar gitu." Ucapan tak berperasaan itu keluar begitu saja dari mulut Dirga yang selama ini sudah ia tahan-tahan.


"Mas......." Lirih Sania menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya itu.


"Coba kamu lihat adik tirimu mu, Mawar. Padahal udah menikah tapi tubuhnya masih ramping gitu, gak kaya kamu!" Hina Dirga tanpa sadar.


Kedua mata Sania kini memerah dan berkaca-kaca, dia merasa sesak saat mendengar hinaan dari suaminya sendiri. Selamat sepuluh tahun menikah, baru inilah suaminya berkata seperti itu. Dan tanpa sepatah katapun, Sania bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja tanpa menghabiskan sisa makannya.


"Sania....kamu kemana?" panggil Dirga tapi tak dihiraukan.


Dirga mematung sejak dan beberapa detik kemudian dia menepuk jidatnya sendiri.


"Astaga bodohnya aku, kenapa aku berbicara seperti itu?" tanya Dirga yang baru saja sadar akan ucapannya.


Dengan sigap Dirga pun beranjak pergi menyusul sang istri yang pergi menuju ke kamar.


Saat masuk ke dalam kamar, Dirga melihat Sania yang tengah duduk di tepi ranjang sambil menangis menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Sayang, maafkan aku. Aku....aku benar-benar minta maaf. Percayalah, aku mengatakan itu tanpa sadar." Ucapku panik karena melihat istriku yang terus berderai air mata.


"Jahat kamu, Mas! Baru kali ini ucapanmu membuat hatiku bagai teriris pisau."


"Sayang.....maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti kamu dengan ucapku." Ucapku sambil menyeka air matanya.


"Mawar itu kan belum punya anak, Jadi wajarlah tubuhnya masih ramping." Ujar Sania.


"Iya sayang....iya mas minta maaf. Jangan dibahas lagi, intinya kan mas sudah minta maaf." Kataku berusaha menenangkan Sania lalu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku.


Cukup lama ia menangis dalam pelukanku, hingga beberapa saat dia mulai melepas pelukanku.


"Udah jangan nangis lagi," Kataku dengan memasang wajah bersalah.


Sania menghembuskan nafas kasarnya lalu bangkit dari duduknya ingin melangkah pergi. Sontak aku pun juga ikut bangkit dari dudukku.


"Kamu mau kemana?" tanyaku.


"Malam ini aku tidur sama Lalita aja," ucap istriku tanpa menatap ke arahku.


"Loh, kenapa?" tanyaku lagi.


Tak menjawab, istriku berlalu begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2