
Dua hari berlalu, sikap Sania semakin hari semakin dingin dan acuh terhadap suaminya. Sehingga membuat Dirga benar-benar merasa keheranan.
Sania, wanita itu hanya bicara seperlunya saja dengan sang suami.
"Aku tidak akan sarapan dirumah," Ucap Dirga dan Sania hanya mengangguk tanpa sepatah kata.
Lagi, Dirga termangu. Biasanya kalimat itu akan menjadi pertanyaan yang panjang bagi Sania. Tapi kenapa kali ini Sania hanya bersikap bodo amat?
Dirga memperhatikan Sania yang sedang menata makanan di kotak makan, hal itu sudah Sania lakukan semenjak sang papa dirawat di rumah sakit. Sania selalu memasak makanan dan membawanya ke rumah sakit.
"Aku akan mengantar kamu," Ucap Dirga.
"Tak perlu, aku bawa mobil sendiri." Tolak Sania tanpa menatap ke arah Dirga.
Dirga mendengus kesal, kenapa Sania begitu acuh?
"Kamu kenapa?" Tanya Dirga.
"Apanya yang kenapa?" Sania malah bertanya balik.
"Sikap mu, kenapa sikapmu jadi aneh dan berbeda begini?"
"Tidak ada yang aneh!" Ucap Sania melenggang begitu saja dari hadapan Dirga.
Dirga menghela nafas panjang, istrinya itu benar-benar berubah drastis.
Kini Sania telah tiba di rumah sakit, terlihat mamanya sedang tertidur pulas, mungkin efek kelelahan menunggu papanya dari kemarin.
"Ma....bangun!" Seru Sania.
Mama nya pun bangun dan sedikit kaget saat melihat ke Sania.
"Eh kamu, kapan kamu datang?" Tanyanya.
"Baru saja,"
"Hem, baiklah. Kalau begitu kamu jaga dulu papa mu, mama mau pulang sebentar ke rumah." Ucapnya dan Sania mengangguk tanda mengiyakan.
Setelah sang mama pergi, Sania mendudukkan pantatnya dikursi samping ranjang rumah sakit. Lalu Sania menatap sedih papa nya yang sedang terbaring lemah itu sambil menggenggam tangan keriput papanya.
"Pa, semoga papa cepat sembuh!" Ucap Sania mencium tangan papanya. Kedua matanya yang sedari tadi berkaca-kaca, kini meneteskan air mata. Dia sungguh tidak sanggup melihat papanya terbaring lemah seperti ini.
__ADS_1
"Kalau papa sudah sembuh, mungkin Sania akan langsung menceraikan mas Dirga." Lirihnya sambil menyeka air mata.
Yah, Sania ingin menceraikan Dirga, akan tetapi saat melihat situasi yang seperti ini, Sania pun mau tidak mau harus mengurungkan niatnya. Menurutnya untuk bercerai dari Dirga, dia harus mencari waktu yang pas. Sekaligus dia ingin membongkar kebusukan suami dan adik tirinya.
Sementara di kediaman Mawar dan sang suami.
Arif baru saja pulang dari rumah orangtuanya yang kebetulan tak jauh dari rumahnya. Tapi baru saja akan masuk ke rumah, terdengar suara cekikikan Mawar dari dalam kamar. Merasa penasaran, Arif pun mengendap-endap dekat jendela dan tampak jelas Mawar sedang bertelepon dengan seorang lelaki dengan Kalimat sayang-sayangan dan cinta-cintaan.
Panas hati Arif mendengarnya, Arif pun langsung berlari ke dalam sembari menendang pintu kamar dan merebut ponsel android milik Mawar. Mawar pun kaget dan pucat meskipun ia sempat mengunci ponselnya.
"Kurang ajar kamu......begitu ya rupanya kamu dibelakang aku?" Berang Arif.
"Jangan salah paham, itu tidak seperti yang kamu dengar, Mas." Kilah Mawar membela diri dan bersikeras tidak selingkuh.
Pertengkaran hebat pun terjadi, Arif yang sudah terbakar emosi pun sama sekali tak mempercayai omongan Mawar.
"Kalau kamu merasa tidak selingkuh, cepat buka ponselmu!" Pinta Arif setengah berteriak.
Mawar yang sempat begitu ketakutan melihat sang suami marah besar, akhirnya ia membuka kunci ponsel tersebut. Mulai terkuaklah isi ponsel tersebut bahwa Mawar sempat bertukar foto bugilnya kepada lelaki lain yang namanya tertera jelas yaitu Mas Dirga.
Akhirnya mau tidak mau Mawar pun mengakui bahwa dirinya memang benar berselingkuh dari suaminya.
"Tega kamu, Mawar!" Bentak Arif.
"Jangan bilang, itu Dirga suami kakak kamu?" Tanya Arif membelalakkan kedua matanya.
Mawar menitihkan air mata, lalu ia pun mengangguk membenarkan apa yang diduga oleh sang Suami.
"Apa! Kamu selingkuh sama suami kakak kamu sendiri?" Benar-benar diluar angkasa, Arif tak menyangka jika Mawar akan seperti itu.
"Maafin aku, Mas. Aku khilaf, aku melakukannya diluar kesadaran. Mas Dirga lah yang dulu menggodaku." Ujar Mawar berbohong.
Arif menggelengkan kepalanya, Mawar sama sekali tidak punya hati kenapa dia harus berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri?
"Dia itu suami kakak kamu sendiri, Mawar! Kenapa kamu Setega itu!" Pekik Arif.
Mawar yang tak tahan dengan marahnya Arif pun langsung saja mengusap kasar air matanya seraya menatap Arif dengan tegas.
"Terus mau mu gimana sekarang? Mau cerai? Yaudah ayo silahkan!" Seru Mawar.
Arif mengernyitkan dahi, ia semakin tak mengerti dengan Mawar yang berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu, kenapa kamu malah bilang seperti itu, hah?"
"Sudahlah kita cerai saja, lagian aku rasa kita sudah gak cocok." Ucap Mawar.
"Tidak ada kata cerai diantar kita, Mawar!"
"Tapi aku sudah tidak mencintai kamu, Mas. Kamu juga jadi suami gak berguna. Gak bisa memuaskan, jadi jangan salahkan aku dong kalau aku selingkuh!" Kritik Mawar.
"Mawar!!" Teriak Arif dengan nada penuh amarah.
"Aku sudah muak sama kamu, Mas. Aku ingin kita pisah saja!" Dalih Mawar.
Akhirnya wanita itu pun berlalu mengambil koper yang berada di atas lemari dan segera ia mengemasi seluruh pakaiannya.
"Kamu mau kemana, Mawar?" Tanya Arif meraih lengannya.
"Aku mau pergi, aku gak mau lagi tinggal sama kamu!" Jawab Mawar.
"Mawar, tolong jangan seperti ini. Tolong jangan tinggalin mas sendirian!" Pinta Arif memohon.
"Argh.....udahlah, aku gak peduli!"
Setelah mengemasi pakaiannya didalam koper, Mawar langsung saja berlalu. Akan tetapi Arif terus saja menghentikan langkahnya dan memohon-mohon agar Mawar tak meninggalkan dirinya.
"Tunggu, Mawar! Kamu jangan seperti ini dong!" Kata Arif.
"Apalagi sih mas? Aku itu udah gak bisa tinggal sama lelaki yang kaya kamu! Lelaki yang sama sekali gak berguna!" Hina Mawar mendorong tubuh Arif kemudian ia pergi begitu saja.
"Mawar!!" Teriak Arif tapi tak dihiraukan. Arif tak bisa berbuat banyak, ingin mengejar sang istri tapi kaki pincangnya ini masih terasa sangat sakit.
Beberapa saat kemudian, Mawar telah tiba dikediaman rumah orangtuanya. Dia mengetuk-ngetuk pintu dan tak lama keluarlah mama nya. Mamanya sedikit terkejut ketika melihat Mawar datang dengan membawa sebuah koper.
"Mawar, ada apa nak?" Tanya sang mama.
"Mulai dari hari ini, Mawar akan tinggal disini." Ucap Mawar kemudian menerobos masuk.
"Apa? Kamu kenapa? Ada masalahnya apa sama suami kamu?"
"Mawar gak tahan sama mas Arif. Jadi Mawar minta cerai." Ucap Mawar dengan santai.
"Hah, cerai? Memangnya ada masalah apa?"
__ADS_1
"Sudahlah ma, jangan banyak tanya. Mawar lagi emosi sekarang." Tukas Mawar.