Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
24. Keputusan


__ADS_3

"Untuk sementara waktu jangan pikiran masalah itu dulu, Sania. Pikirkan lah dulu perasaan kamu sendiri, jika kamu memilih untuk bertahan hanya karena alasan anak, maka mama pastikan tidak akan ada kebahagian didalam rumah tanggamu nanti." Jelas Widya dengan tegas.


Sania sekarang sangat bingung dan tak bisa berpikir dengan jernih. Satu sisi ucapan mama nya itu ada benarnya juga.


"Terus Sania harus bagaimana, Ma?" tanya Sania dengan mata berkaca-kaca.


"Lebih baik kamu bercerai saja dari Dirga, Sania. Mama tak ingin melihat kamu tersakiti. Cukuplah mama dulu yang disakiti papa mu. Masalah Lalita tidak usah khawatir, mama akan menjamin kehidupan dan semua kebutuhan kamu dan anakmu nanti." Ucap Widya.


"Mama serius?" Tanya Sania memastikan.


"Mama serius Sania, mama akan selalu ada disamping mu, ini semua mama lakukan untuk menebus masa lalu. Mama minta maaf karna dulu mama tidak ada disamping kamu,"


"Sekarang mama siap menjadi garda paling depan untukmu." Timpal Widya serius.


Sania mengangguk dan akhirnya ia pun menuruti apa kata mamanya, dia akan segera menceraikan Dirga.


"Mama akan bantu kamu untuk bercerai nanti," ujar Widya.


"Terimakasih, Ma."Ucap Sania kemudian memeluk mamanya.


"Sama-sama. Mama akan melakukan apapun untuk kamu dan anakku." Ucap Widya tak terasa ia menitikkan air mata.

__ADS_1


"Sudah lama sekali Sania tidak merasakan peluk hangat seorang ibu." Lirih Sania tersenyum lebar.


Hari terus berlalu, sepulang dari pengadilan untuk mengajukan gugatan perceraian, Sania dan Widya mampir terlebih dahulu ke butik baru yang akan menjadi milik Sania sebentar lagi.


Sania sangat merasa senang karena dia bisa mendirikan butik baru lagi dari hasil jerih payahnya sendiri tanpa bantuan dari suaminya.


Sania berencana akan mengadakan acara peresmian Butik barunya pada besok lusa. Dia juga meminta suaminya serta Mawar untuk datang saat acara peresmian nanti.


Dirga tentu saja mengiyakan ajakan istri tercintanya, dia juga merasa senang pada Sania karena baginya Sania adalah wanita cantik dan mandiri.


Sedangkan Mawar, dia merasa sangat iri kepada Sania atas kemandirian dan keberhasilan Sania.


Singkat cerita, acara pesta kecil-kecilan pun dimulai dengan diselenggarakan di Butik baru yang akan menjadi milik Sania.Tak banyak yang diundang, hanya orang-orang terdekat saja.


Acara berjalan sebagai mana mestinya, pujian demi pujian terus saja dilontarkan untuk Sania.


"Wah.. Kamu hebat ya Sania, umur baru 29 tahun tapi udah punya cabang butik aja." Puji salah satu tamu.


"Iya benar sekali, kamu juga makin cantik dan awet muda padahal udah punya anak." Sambung tamu lainnya.


"Pasti mas Dirga beruntung dapat istri kaya mbak Sania, udah cantik, pintar, kaya, bisa cari uang sendiri. Kalau aku jadi mas Dirga sih gak akan aku sia-siakan. Kalaupun disia-siakan, aku siap untuk menggantikan mas Dirga." Ucap Rendy sepupu Dirga.

__ADS_1


"Rendy...! Sania itu istri sepupu kamu, bisa-bisanya kamu mau mengantikan Dirga." Ucap Firda mama nya Dirga.


"Ih.. Rendy bercanda kali tan, Lagipula mana mungkin mas Dirga melepaskan berlian demi sebuah batu kerikil. Iya kan mas Dirga?" Ujar Rendy membuat Dirga gelagapan menjawabnya.


"I-iya.. iya benar kata Rendy. Istriku cantik dan mandiri, tidak mungkin aku menyia-nyiakan nya apalagi sampai mengkhianati." Ucap Dirga sambil merangkul pinggang istrinya. Mendengar penuturan Dirga rasanya membuat Sania ingin muntah.


"Iya sih cantik dan mandiri tapi sayangnya Sania itu pelit..!" Celetuk Nuri.


Semua tamu mengalihkan pandangannya pada Nuri. Mungkin dalam pikiran mereka bertanya-tanya mengapa Nuri mengatakan itu.


"Nuri, apa maksud kamu itu?" tanya Widya tak terima anaknya dikatai seperti itu.


"Widya, apa kamu gak tahu kalau winoto itu meninggalkan hutang yang sangat banyak. Bisa-bisanya Sania sebagai anak tidak mau membantu untuk melunasinya. Anak durhaka, pasti papa kamu itu tersiksa di akhirat sana karena hutang." Jelas Nuri.


Sania tersenyum menyeringai lalu berkata, "Bukannya tidak mau membantu, Lagipula uang itu digunakan untuk Mawar bukan untukku." Kata Sania.


"Kan dulu papa hanya ingin menguliahkan Mawar, tapi tidak dengan aku." Timpalnya.


"Sania, kenapa kamu jadi perhitungan seperti ini? Bukankah selama belasan tahun kamu hidup papa mu dan aku lah yang memberi mu makan?" Ungkit Nuri.


"Bukan perhitungan, tapi Sania berbicara fakta!"

__ADS_1


__ADS_2