Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
15.Acuh


__ADS_3

"Ya sudah, nanti aja mama tanya lagi, kalau kamu udah tenang." Ucap mama.


"Hem....mama kok dirumah? Terus papa dirumah sakit sama siapa?" Tanya Mawar.


"Ada Sania yang jagain. Ini kebetulan mama mau kembali lagi ke rumah sakit. Kamu mau ikut?"


"Mba Sania sama mas Dirga?"


"Enggak, dia datang sendiri."


"Hem....kirain ada mas Dirga...." Ucap Mawar keceplosan.


"Hah, maksud kamu apa Mawar?" Tanya Mama yang tak paham.


"Hah, maksud Mawar em....gak papa kok mah!" Ujar Mawar terbata-bata.


"Memangnya kenapa kalau ada Dirga? Kamu kayanya.....?" Sang mama menyipitkan matanya.


"Gak mah, jangan berpikir yang bukan-bukan." Kata Mawar berusaha menutupi.


"Ya sudah, jadi kamu mau ikut apa tidak?"


"Iya....iya Mawar ikut saja, daripada suntuk dirumah!"


Akhirnya mereka pun pergi ke rumah sakit dan setelah sampai di rumah sakit, Mawar langsung saja menyapa kakaknya.


"Ka Sania....." Sapa Mawar dengan senyum ramah. Namun Sania hanya diam tak memperdulikan sapaan dari Mawar.


Melihat kakaknya hanya diam seperti itu, Mawar langsung bergumam dalam hati. "Aneh, tidak seperti biasanya dia mendiamkan ku begini. Bahkan ku sapa saja dia hanya diam."


"Ma, Sania pamit pulang dulu!" Seru Sania.


"Ya silahkan!" Balas sang mama.


Kemudian Sania berlalu begitu saja tanpa sedikit pun menatap ke arah Mawar.


Nuri, mama tiri dari Sania pun merasa heran tak kala melihat sikap dingin Sania terhadap Mawar. Terlebih saat ia melihat Sania tak membalas sapaan dari Mawar.


"Kalian kenapa?" Tanya Nuri.

__ADS_1


"Apanya yang kenapa, ma?" Tanya balik Mawar.


"Kalian berdua ada masalah? Atau bertengkar? Kok Mama perhatikan Sania cuek begitu sama kamu?"


Mawar mengedikkan kedua bahunya. "Nggak tahulah ma, kami gak bertengkar, kami baik-baik saja. Mungkin moodnya yang kurang bagus hari ini." Ucap Mawar.


"Hem, ada-ada saja itu anak!" Cibir Nuri.


Sementara dilain tempat, disebuah rumah megah bergaya Eropa klasik, terdapat seorang wanita setengah baya yang kini sedang duduk dikursi kebesaran sambil menyilangkan kaki.


Wanita itu bernama Widya, ia baru saja mengalami duka yang mendalam akibat ditinggal mati oleh sang suami.


Setelah kematian sang suami, hari demi hari yang ia lewati pun terasa sangat sunyi dan sepi. Bukan tak punya anak, hanya saja Widya tak tahu dimana keberadaan anaknya sekarang. Pasalnya semenjak perceraian ia dengan mantan suami dulu, anak yang baru saja ia lahiran beberapa hari itu dibawa paksa oleh sang suami dan juga jala*Ng suaminya.


Selama ini sudah berbagai cara Widya lakukan untuk bisa menemukan anaknya, akan tetapi hasilnya nihil. Suami dan selingkuhan suaminya serta anaknya hilang begitu saja bak ditelan bumi.


Hingga akhirnya Widya mendapatkan satu informasi dari orang suruhannya bahwa mantan suaminya itu tinggal disalah satu kota B. Tak hanya itu, orang suruhannya itu juga memberikan sebuah alamat yang ia dapat dari orang lain.


Widya tanpa banyak cingcong, ia langsung saja bersiap-siap untuk pergi ke kota B. Dia ingin mendatangi alamat yang diberikan orang suruhannya itu. Sepanjang jalan, senyum ceria tak henti-hentinya terukir diwajah Widya. Dalam hati dia merasa sangat senang. Bagaimana tidak? Sebantar lagi ia akan bertemu dengan anaknya, anak yang sudah terpisah darinya selama belasan tahun.


Perjalanan cukup memakan waktu yang lumayan lama, hingga hari mulai beranjak ke sore.


Pak Supir mengangguk, lalu menghentikan mobil mewah tersebut tepat di depan supermarket.


Widya lalu turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam supermaket. Saat Widya sudah memilih minuman, tiba-tiba seorang wanita tak sengaja menabrak dirinya hingga membuat minuman kaleng yang Widya pegang jatuh.


"Ah....maaf Bu, maaf....." Ucap Wanita itu seraya mengambil minuman yang jatuh.


"Iya tidak apa-apa!" Ujar Widya tapi tatapannya seketika membeku saat melihat Wanita di hadapannya.


"Bu, ini minumannya!" Kata Wanita itu yang tak lain adalah Sania. Yah, kebetulan Sania memang pergi ke supermarket karena ada kebutuhan yang harus dibeli.


"Bu....ibu kenapa malah melamun?" Tanya Sania, merasa heran melihat ibu-ibu yang ada didepannya malah diam mematung.


"Ah....iya nak!" Widya tersadar dari lamunannya.


"Maaf ya, Bu. Saya tidak sengaja!"


"Iya nak, tidak apa-apa!" Seru Widya.

__ADS_1


Sania tersenyum, kemudian berlalu begitu saja.


Sedangkan Widya masih diam ditempat sembari dalam hati bergumam. "Kenapa wajah wanita itu seperti tak asing bagiku?" Tanya Widya. Dia merasakan ada sesuatu yang berbeda saat melihat wanita tadi. Seperti ada ikatan batin yang kuat. Sebaliknya dengan Sania, dia merasakan hal yang sama juga.


Kini Widya telah kembali ke dalam mobilnya. Dia membuka minuman yang ia beli lalu langsung meneguknya. Dan seketika membuat tenggorokannya merasa sangat segar.


"Ayo pak, kita lanjut!" Titah Widya.


Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Widya kini telah sampai disalah satu perdesaan pinggir kota. Widya yang tak sabaran langsung saja bergegas turun dan bejalan kaki menuju ke sebuah gang kecil.


Langkah Widya terhenti saat berada didepan rumah kecil. Widya lalu melihat kembali alamat yang tertulis di kertas dan setelah mencermati dengan seksama, memang benar ini inilah rumah mantan suaminya.


Widya menghela nafas panjang, lalu menghabiskannya secara perlahan. Ia lalu mengangkat satu tangannya untuk mengetuk pintu.


Satu dua ketukan pintu tak kunjung terbuka, hingga tiga ketukan berulah pintu terbuka. Tapi yang membuat Widya heran, orang yang keluar dari rumah tersebut bukan lah mantan suami maupun selingkuhan semuanya.


"Maaf, anda cari siapa?" Tanya lelaki dengan suara serak.


"Hah, saya kesini mencari yang namanya Winoto, apa benar ini rumahnya?" Tanya Widya.


Lelaki itu mengerutkan dahinya.


"Winoto? memang benar ini rumahnya Winoto, tapi itu dulu sekarang tidak. Winoto sudah pindah dari rumah ini, sudah empat tahun yang lalu." Jelasnya.


Wajah Widya seketika berubah menjadi datar tak kala ia mendengar jawaban dari pemilik rumah tersebut. Ternyata mantan suaminya itu sudah lama pindah.


Semangat dirinya untuk bertemu dengan sang anak pun seketika juga hilang.


Dia merasa kecewa karena usahanya datang jauh-jauh kali ini gagal.


"Apakah bapak tahu alamat Winoto dimana?" Tanya Widya dengan wajah penuh harap.


"Hem, maaf tapi saya kurang tahu. Yang saya tahu hanyalah pak Winoto katanya dulu mau pindah ke kota."


Lagi, Widya menghela nafas panjang. Mana mungkin dia akan menemukannya sementara kota saja begitu luas.


"Hem.....kalau tidak cari saja ke tempat kerjaannya. Terakhir yang saya tau, pak Winoto itu bekerja disalah satu perusahaan ternama. Kalau gak salah perusahaan *****" tuturnya.


Mendengar penuturan yang seperti itu , semangat Widya pun kembali lagi.

__ADS_1


__ADS_2