
Di rumah Mawar, tampak suami istri ini sedang menikmati makan malamnya. Mawar merasa geram saat melihat Arif suaminya makan sambil melihat ponsel.
"Mas...!" Panggil Mawar tapi tak di dengar oleh suaminya.
Mawar menghembuskan nafasnya kasar, wanita ini lalu menggebrak meja hingga membuat Arif kaget.
"Mawar...!" Sentak Arif.
"Apa, kenapa, gak terima, hah!" Ucap Mawar tak mau kalah.
"Ada apa dengan mu, hah!"
"Kamu itu loh mas, sibuk sama ponsel kamu sendiri. Aku ini istri kamu, kamu anggap patung. Kamu gak kangen apa sama aku. Padahal aku baru pulang...!"
"Apaan sih, Mawar. Jangan seperti anak kecil. Udah sana makan!" Ucap Arif yang tak memperdulikan istrinya.
Mawar kesal, wanita ini beranjak pergi menuju ke kamarnya tanpa menghabiskan makan malamnya. Arif tak peduli, pria ini masih sibuk makan sambil menonton video panas di ponselnya.
Mawar membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar, entah kenapa perasaan wanita ini begitu merindukan Dirga.
"Sial. Kenapa aku malah merindukan suami orang daripada suami ku sendiri." Gumam Mawar.
Pintu terbuka, masuklah Arif yang berjalan dengan dibantu oleh tongkat. Yah, Arif sudah lumayan sembuh dan kakinya pun sudah bisa berjalan walau masih terpincang-pincang.
Tanpa aba-aba, pria ini langsung menindih tubuh Mawar lalu menciuminya. Arif menanggalkan semua pakaiannya. Mawar yang melihat Arif tanpa sehelai benang pun hanya menunjukkan ekspresi wajah datar, apalagi saat ia melihat kejantanan milik suaminya, sama sekali tidak membuat Mawar bergairah.
Tanpa pemanasan yang lama, Arif langsung saja memasukan rudal miliknya ke dalam hutan rimbun milik Mawar. Baru beberapa kali hentakan, Arif sudah mengeluarkan cairannya di dalam sana hingga membuat Mawar kesal.
"Mas, kok cepet banget dah keluar?"
"Habisnya enak sih!" Ucap Arif yang merebahkan tubuhnya di samping Mawar.
"Tapi aku belum puas loh, mas!" Protes Mawar.
"Masa bodoh. Yang penting mas udah puas."
"Oh, jangan salahkan aku kalau mencari kepuasan dengan lelaki lain."
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Maw?"
"Kamu egois!"
"Egois bagaimana?"
"Bodoh!" Umpat Mawar. "Selama kita berhubungan badan, aku nggak pernah puas sama kamu...!"
"Kamu mau enaknya aja tanpa memikirkan perasaan aku..!"
"Jadi jangan salahkan aku kalau aku mencari kepuasan ke lelaki lain." Tegas Mawar.
"Mawar, kamu ngerti lah dengan keadaan ku seperti ini. Mana mungkin aku bisa memuaskan mu dengan waktu yang lama." Jelas Arif.
"Dasar pincang!" hina Mawar dalam hati.
Wanita ini pun kemudian beranjak dari kasur lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Didalam kamar mandi, Mawar bergumam dalam hati bahwa yang mampu memuaskan hasratnya ialah Dirga, bukan suaminya.
****
Selepas mandi dan sudah rapi dengan pakaian kantorku, Aku bergegas turun ke lantai bawah untuk mengganjal perut yang sudah terasa sangat lapar ini. Tapi saat di ruang makan, aku sama sekali tak melihat adanya makanan diatas meja.
Aku mengernyitkan dahi sambil mata ini berkeliling mencari istriku. Kemana Sania? Biasanya dia akan menyediakan sarapan untuk? Kenapa pagi ini tidak? Apakah dia masih ngambek padaku?
Aku membuang nafas kasar, melangkahkan kaki mencari keberadaan istriku. Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba istriku dan anakku muncul.
"San, kamu gak masak hari ini?" Tanyaku.
"Gak, kamu hari ini sarapan diluar aja dulu." Jawabnya datar.
"Lah kenapa?" Tanyaku lagi.
"Males masak." Jawabnya begitu singkat.
"Gak biasanya kamu seperti ini." Kataku heran.
__ADS_1
"Itu matamu sembab, kamu menangis lagi?" Tanyaku.
"Lalita, ayo mama antar. Nanti kamu terlambat Lo!" Ucap istriku kemudian berlalu begitu saja tanpa menghiraukan pertanyaanku.
Aku termangu dan dengan sigap langsung saja meraih lengannya. Aku ingin meminta penjelasan kepadanya mengapa pagi ini dia nampak acuh padaku.
"Kamu kenapa?"
"Apanya yang kenapa?"
Sania malah bertanya balik padaku.
Belum sempat aku bertanya lagi, Sania malah melepaskan genggaman tanganku dan melenggang pergi begitu saja bersama anakku.
"Biar aku yang nganterin Lalita ke sekolah!" Ucapku mengekor dibelakang mereka.
"Gak usah," tolak istriku kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu begitu saja.
Aku membuang nafas kasar, lalu mengedikkan kedua bahuku. Pikirku apa lagi yang salah? Padahal tadi malam aku sudah meminta maaf padanya.
POV Sania.
Cairan bening terus saja keluar dari sudut mataku, meskipun aku sudah menahannya agar tidak terlihat oleh anakku. Sekarang hatiku benar-benar sakit bahkan sakit sekali, bagai ditusuk tombak berkarat. Pasalnya saat pagi tadi, saat aku bangun aku langsung saja beranjak pergi dari kamar Lalita untuk menyiapkan pakaian kerja mas Dirga. Terlihat mas Dirga masih tertidur lelap tanpa dosa.
Aku yang sedang mengambil pakaian kerja di lemari, tiba-tiba mataku di fokuskan oleh benda pipih yang berada diatas nakas. Entah kenapa ingin sekali diriku membuka dan mengecek ponsel mas Dirga. Padahal selama kami menikah, aku sama sekali tak pernah membuka maupun mengecek ponselnya.
Naluri ku berkata bahwa ada sesuatu yang mencurigakan di ponsel mas Dirga yang tidak aku ketahui. Akhirnya karena rasa penasaran yang cukup dalam, aku pun memberanikan diri untuk membuka ponsel mas Dirga.
Aku tak tahu sandi ponselnya apa, tapi aku teringat saat beberapa waktu yang lalu, aku sekilas melihat mas Dirga memasukan sandi di ponselnya.
Lalu aku mencoba dan untungnya berhasil.
Dan Akhirnya kecurigaanku terjawab saat aku mendapati sebuah pesan WhatsApp atas nama Mawar syg dengan emoticon hati.
Tanganku seketika langsung gemetar saat membaca isi pesan yang bertuliskan "Mas, Mawar rindu. Rindu orangnya sama rindu dedeknya yang dalem celana." Aku terperangah, tak menyangka jika suami dan adik tiriku main serong dibelakang ku. Bahkan isi pesan yang jorok seperti itu sungguh membuat aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku melirik tajam ke arah mas Dirga yang tidur dengan mulut terbuka, rasanya ingin sekali aku melemparkan benda pipih ini ke kepalanya. Tapi aku tak bisa melakukannya.
Hanya pesan itu saja yang ku baca, tak ada yang lain. Mungkin pesan sebelumnya sudah dihapus oleh mas Dirga. Merasa belum puas, aku pun membuka galeri miliknya dan betapa sakit dan panasnya hati ini saat mendapati jumlah foto yang lumayan banyak di ponsel miliknya. Foto yang ku maksud ialah foto mas Dirga dengan Mawar yang terlihat begitu mesra, saling berpelukan dan cium pipi.
__ADS_1
Gemuruh di dada semakin membuncah, segera aku mengambil ponsel milik ku lalu ku foto isi pesan tersebut dan tak lupa juga aku memotret foto-foto mesra dari ponsel mas Dirga.