Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
12. Awas Saja!


__ADS_3

Setelah merasa cukup, aku kembali meletakkan ponsel mas Dirga dengan sangat hati-hati, kemudian aku berlalu begitu saja dari dalam kamar.


Pagi ini aku memang sengaja tak menyiapkan sarapan untuk mas Dirga karena suasana hati ku saat ini sedang terasa sangat kacau.


Dan aku pun memilih untuk mengantarkan Lalita saja ke sekolahnya karena aku tak ingin melihat wajah mas Dirga.


Selepas mengantar Lalita, niatku ingin langsung pulang ke rumah. Akan tetapi tiba-tiba ponsel ku berdering. Segera aku mengambil ponselku dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata yang menelpon ku adalah mama. Ada apa? tidak biasanya mama menelepon aku. Setelah ku angkat, ternyata mama mengabari kalau papaku baru saja dilarikan ke rumah sakit. Sontak aku begitu terkejut mendengarnya, ku matikan telepon dari mama lalu ku putar balik arah mobilku untuk menuju ke rumah sakit.


Rasa marah, kesal dan kecewa seketika hilang begitu saja berganti dengan rasa ketakutan dan kekhawatiran. Aku sangat takut papa ku kenapa-kenapa. Karena aku sangat menyayangi papa.


*


"Kamu mau kemana, Mawar?" Tanya Arif.


"Mau pergi ke rumah mama," Jawab Mawar.


"Mau ngapain?" tanya lagi Arif.


Mawar mendengus kesal. "Udah ah gak usah banyak tanya. Memangnya aku gak boleh ke rumah mama aku?" tanya Mawar balik.


"Boleh, tapi kamu biasa aja dong. Kan mas nanya baik-baik." Ucap Arif.


Tapi Mawar tak menggubris dan wanita itu berlalu begitu saja menggunakan sepeda motor milik suaminya.


*


Lima belas menit kemudian, aku telah tiba di rumah sakit. Dengan langkah cepat aku langsung saja menuju ke ruangan dimana papa ku berada.


"Papa......" Panggilku saat membuka pintu. Terlihat papa sedang berbaring lemas diatas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang terpasang di hidung.


"Ma, papa kenapa? Papa baik-baik saja kan?" tanyaku pada mama yang ada di sampingku.


"Papa kamu tadi tiba-tiba sesak nafas terus langsung pingsan gak sadarkan diri." Jawab Mama dengan nada cemas.


"Terus kata dokter keadaan papa gimana, Ma?"


"Katanya papa kamu keadaannya semakin melemah karena telat dibawa ke rumah sakit."


Aku benar-benar begitu syok tak kala mendengar pernyataan mama yang seperti itu.


Ceklek....

__ADS_1


Pintu tiba-tiba terbuka dan masuklah


Mawar yang tiba-tiba langsung berlari menghampiri papa yang sedang terbaring. Wajahnya juga terlihat panik. Aku hanya diam sambil mengamati Mawar. Hatiku kembali merasakan nyeri saat aku mengingat perselingkuhan yang di lakukan adik tiri dan suamiku.


"Ma, Papa baik-baik saja kan?" Tanyanya.


"Iya sayang, papamu baik-baik saja." jawab Mama.


Sementara aku diam mematung, menatap ke arah Mawar. Wanita yang ternyata sudah menjadi duri dalam rumah tanggaku. Apa salah ku?


Kurang baik apa aku ke dia? dan banyak laki-laki di muka bumi ini, tapi kenapa harus mas Dirga, suami dati kakaknya sendiri?


Sungguh Tega sekali dia, padahal dia adalah adikku.


Banyak pertanyaan yang bersarang di kepalaku. Ingin sekali aku menanyakannya secara langsung kalau perlu aku ingin sekali mencakar wajah yang terlihat polos itu.


Tapi mengingat papa yang sedang sakit, tidak mungkin aku melakukannya sekarang. Tunggu saja Mawar, setelah ini aku akan menghabisi mu. Akan ku buat kamu hidup dalam penyesalan.


"Mba Sania...!" Mawar memegang bahu ku tapi dengan cepat aku menghindar hingga membuat Mawar bingung.


Entah kenapa sekarang aku merasa tidak rela jika dia menyentuh ku. Bahkan melihat wajahnya saja sungguh membuat aku muak.


"Mba, aku perhatikan bengong aja."


"Nggak ah..!"


"Oh ya, Mas Dirga mana? Mba sendirian aja ini?" tanya Mawar.


"Mas Dirga lagi kerja," jawabku singkat.


"Tapi mas Dirga udah tahu kalau papa masuk rumah sakit?" Tanyanya dan aku hanya menggelengkan kepala saja.


Aku memutar bola malas, kenapa dia terus saja menanyakan tentang mas Dirga?


Tak terasa sudah tiba jam aku berada di rumah sakit. Akhirnya aku pun memutuskan untuk pamit kepada Mama dan papa yang sudah sadar karena aku harus menjemput Lalita pulang.


*


Sore menjelang malam, setelah selesai memasak untuk makan malam, aku langsung saja bergegas ke kamar untuk membersihkan diri yang sudah terasa bau dan lengket.


Selesai mandi, tiba-tiba di kamar sudah ada mas Dirga yang sedang melepas pakaian kerjanya.

__ADS_1


"Sayang....." Sapa mas Dirga.


Aku hanya diam, tak menghiraukan panggilan darinya.


"Tumben jam segini baru mandi?" tanya Mas Dirga sambil memeluk tubuhku dari belakang.


"Aku sibuk seharian," jawabku sambil melepaskan pelukan dar mas Dirga.


"Kok gitu, sayang?" Mas Dirga menatap heran aku.


"Sudah kamu mandi sana," titahku dan mas Dirga mengiyakan.


Sementara aku kini duduk didepan meja rias, memandangi diri sendiri yang terlihat sangat begitu kasihan. Yah, aku kasihan pada diriku sendiri yang selalu di bodohi oleh orang yang paling kucinta dan sayang.


Tanpa terasa air mataku jatuh lagi, bagaimana tidak, bayangan perselingkuhan yang dilakukan suamiku dan adik tiriku itu terus saja berputar-putar di otakku.


Aku tak menyangka jika dia tega mengkhianati ku dibelakang. Suami yang selama ini aku idam-idamkan, aku banggakan, aku puja-puja dan menjadi kebanggan hatiku, bahkan yang sudah sepuluh tahun bersama melewati suka maupun duka, ternyata tega melakukan hal yang tidak senonoh seperti itu.


Mungkin, kalau tidak melihat dengan mataku sendiri, dan cuma dengar cerita orang lain, aku pastikan, aku tak akan percaya.


Namun seperti yang kita tahu, serapat-rapatnya bangkai disembunyikan, baunya pasti akan tercium juga.


Aku mengusap kasar cairan bening yang terus membanjiri pipiku. Aku tidak ingin mas Dirga tahu kalau diriku ini habis menangis. Aku berusaha menguatkan diri, meskipun dada ini terasa sesak.


POV Dirga.


Dibawah guyuran shower, aku tersenyum kecut mengingat kembali kejadian di dalam mobil saat kemarin mengantar Mawar pulang. Entah kenapa rasanya benda puasaku ini ingin sekali dipuaskan oleh Mawar yang mainnya begitu pandai.


Keluar dari kamar mandi membuat pikiranku jauh lebih tenang. Aku mendapati istriku yang sedang duduk di meja rias. Wajahnya kali ini terlihat begitu berbeda. Wajah cantik alami kini berubah semakin cantik karena ditambah oleh polesan makeup.


"Sayang, kamu cantik sekali." Puji ku sambil tersenyum lebar.


Tak ada senyuman saat ku puji, ia hanya diam saja dengan wajah tanpa ekspresi.


Aku pun hanya menghela nafas panjang, lalu aku meletakkan handuk yang baru saja ku pakai dengan sembarang. Tapi lagi-lagi Sania hanya diam seraya mengambil handuk itu. Tak seperti biasanya yang mengoceh panjang panjang seperti kereta api. Padahal yang kutahu istriku itu sangat tidak suka jika aku menaruh handuk sembarangan.


"Makan malam sudah aku siapkan," Ucap istriku.


"Iya sayang, kalau begitu ayo kita makan bersama." Ajak Ku.


"Makan saja sendiri, aku mau pergi ada urusan."

__ADS_1


__ADS_2