Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
9. Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Aku terdiam, mengingat kembali beberapa hari yang lalu saat bertemu dengan Rani. Entah kenapa aku mulai menjadi takut, takut jika apa yang dikatakan Rani dan Wulan memang benar apa adanya.


Lalu aku pun berinisiatif untuk menanyakan hal tersebut kepada Mas Dirga saat dia pulang nanti. Karena aku ingin tahu kebenaranya.


POV Dirga


Aku dan Mawar masih dalam perjalanan yang memakan waktu lumayan lama. Sejak awal perjalanan, Mawar terus saja menyenderkan kepalanya di bahuku dan aku pun sesekali mengelus kepalanya. Dia merasa begitu nyaman saat ada di dekatku.


"Kamu mencintaiku kan, Mas?"tanya Mawar.


"Eum.....tentu saja, Mawar." Jawab ku.


"Kalau begitu ceraikan mba Sania, dan menikahlah denganku."' Ucap Mawar tanpa dosa.


"Hah, apa kamu sudah gila?" Aku begitu terkejut saat mendengar ucapan Mawar yang seperti itu.


"Kenapa mas, katanya kamu mencintaiku."


"Kamu gila Mawar, kamu sendiri saja sudah mempunyai suami." Ujar Ku.


"Masalah itu gampang, sudah lama aku merencanakan untuk bercerai dari suamiku. Toh, kupikir-pikir aku sudah tidak mencintainya lagi dan buat apa hidup bersama dengan dia? kalau dia saja jadi suami sama sekali tidak berguna.." Jelas Mawar.


Entah apa yang ada dipikirkan Mawar itu sehingga ia rela bercerai dari suaminya hanya demi menikah dengan aku yang sudah memiliki istri dan anak.


"Bagaimana, Mas? Kamu mau apa tidak menceraikannya?"


"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Sania, Mawar. Aku memang mencintai kamu, tapi aku juga mencintai istri dan anakku." Ucapku.


"Kalau begitu jadikan saja aku istri kedua kamu, Mas." Balas Mawar.


"Hah, istri kedua?" Aku tertegun mendengarnya.


"Iya mas, kalau kamu tidak bisa menceraikannya, lalu jadikan saja aku istriku kedua kamu."


"Tidak mungkin Mawar, mana mungkin aku memadu Sania." Tolak ku dengan tegas.


"Aku gak mau tahu mas, aku kasih kamu waktu untuk memilih. Menceraikannya atau memadunya!"


Aku sejenak memejamkan kedua mataku lalu kembali membukanya dan setelah itu aku menarik nafas dalam-dalam. Aku memang bersumpah dalam diriku bahwa aku tak akan pernah menceraikan Sania sampai kapanpun. Tapi disisi lain ucapan Mawar yang memintaku untuk menjadikannya sebagai istri kedua mulai membuat aku sedikit tertarik. Sepertinya hidup dengan dua istri di atap yang sama sangatlah menyenangkan. Tapi pilihan dari Mawar itu sungguh sulit bagiku.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobil yang ku kendarai telah tiba di halaman rumah Mawar. Mawar menawari ku untuk mampir terlebih dahulu ke rumahnya, tapi aku langsung menolaknya dengan alasan karena aku buru-buru ingin meeting.


Mawar pun mengiyakan dan sebelum akhirnya dia turun dari mobilku, aku menyempatkan diri untuk mencium kening dan memagut bibirnya dan tanpa sadar tanganku tiba-tiba meremas kedua gundukan kenyal miliknya.


"Akh........akh.....mas......" Mawar merintih kenikmatan saat aku meremas gundukan miliknya.


"Gimana Mawar?" tanyaku.


"Gara-gara kamu aku jadi kepengen," ucap Mawar malu-malu kucing.


Aku hanya tersenyum menanggapinya .


Dan tiba-tiba saja Mawar memagut bibir ku dengan beringasnya. Aku yang sudah terbakar nafsu pun tak kalah beringasnya memagut bibir Mawar. Berpagut lembut penuh cinta membuat hasrat aku dan Mawar mulai membara. Mawar menciumi ku ke leher lalu satu persatu ia melepas kancing kemeja ku dan Mawar langsung saja menyapu dada bidang ku dengan lidahnya tak lupa juga ia memberikan tanda merah muda sebagai kepemilikan nya.


Aku pun tak tinggal diam, ku remas kembali buah pepaya yang ukurannya sangat besar bahkan istriku Sania saja kalah.


Mawar melenguh kenikmatan ketika aku mulai *******-***** dadanya. Ah.. sungguh lenguhan lembut itu membuat ku semakin bersemangat untuk menginginkan hal yang lebih jauh lagi.


Mawar pun sama, setelah puas bermain dengan dada bidang ku, ia tersenyum ke arah ku lalu turun ke bawah untuk melepas resleting celanaku.


Nampak lah belut sawah milikku yang sedari tadi sudah bangun dan mengeras.


Tak menjawab, Mawar langsung saja menjilatinya lalu ia masukan belut ku ke dalam mulutnya, ia hisap dalam-dalam sampai membuat tubuhku menggelinjang menahan kenikmatan.


"Akh.....Akh.....Mawar enak....sayang....."


Lenguhan kenikmatan itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku merasa keenakan saat Mawar memainkan belut milikku. Seumur hidup baru kali ini aku merasakannya, karena semenjak menikah dengan Sania, Sania tidak pernah memberikan hal ini padaku.


"Mawar.....hentikan, nanti ada suamimu atau orang yang melihat kita!" Pintaku tapi Mawar tak menggubrisnya.


"Ah....mana mungkin, suamiku itu lumpuh, jadi mana bisa dia keluar dari rumah. Lagian kan kaca mobilmu gelap, Mas." Ujar Mawar lalu kembali melanjutkannya.


Tubuh ku seketika meremang, merasakan lidah Mawar bermain dengan belut di bawah sana.


"Gimana mas, enak?" Tanya Mawar menggodaku.


"Enak sekali, Maw. Aku bahkan tidak pernah mendapatkan kenikmatan seperti ini dari istriku." Jawabku.


Mendengar jawaban dari ku membuat Mawar tersenyum lebar. Ia kembali memasukan sosis jumbo milikku kedalam mulutnya lalu kembali memainkannya.

__ADS_1


"Argh..." Desahku yang merasakan kenikmatan tiada Tara.


"Akh.. terus sayang... Terus.. seperti itu..." Racau ku.


"Maw, seperti nya aku ingin keluar." Ucap ku memberitahu Mawar.


Mawar yang paham pun langsung mempercepat gerakannya.


"Terus begitu mas... Terus..."


Benar saja, tiba-tiba benih kehidupanku keluar dan muncrat begitu saja. Aku pun langsung buru-buru mengambil tissue dan membersihkannya.


"Enak banget, Mawar...!" Ucapku membuat Mawar tersenyum bangga.


Terdengar nafas Mawar begitu ngos-ngosan, mungkin karena kewalahan dengan sosis jumbo milik ku.


"Aku bahkan bisa memuaskan mu kapan pun dan dimana pun kamu mau mas." Ujar Mawar.


"Jujur, kamu lebih enak dalam menyenangkan aku. Tidak seperti Sania, dia terlalu kaku untuk melakukan hal seperti itu." Ucap ku membandingkan.


"Suamiku juga Mas. Malah ukuran punya mas jauh lebih besar dari punya suamiku. Punya mas besar dan berdaging, tidak seperti suamiku, ukurannya sedang dan kurus." Tutur Mawar.


Aku terkekeh kecil saat mendengar penuturan Mawar yang membandingkan punyaku dengan punya suaminya. Jelas saja, punyaku lah yang paling besar dan berdaging sehingga mampu membuat siapapun yang mencicipinya akan merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat.


Saat kami membenarkan pakaian masing-masing, tiba-tiba pintu rumah Mawar terbuka dan terlihat ada sosok ibu-ibu yang keluar.


"Mas, itu ibu mertuaku!" Seru Mawar seraya merapikan rambutnya lalu bergegas turun dari mobil.


"Mawar.....ternyata kamu, ibu pikir siapa....."


"Ibu....." Mawar langsung saja bersalaman dengan ibu mertuanya.


"Mas Arif dimana?" tanya Mawar.


"Ada kok, di dalam lagi tidur."


"Oh... "


"Kamu di antar sama siapa?" Tanya ibunya mas Arif.

__ADS_1


"Di antar sama mas Dirga, suaminya mbak Sania." Jawabku.


__ADS_2