Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
19. Bertemu


__ADS_3

"Bukan, dia bukan anakmu!" Bantah Nuri.


Widya tak menggubris, dia melangkah maju mendekati Mawar hingga jarak antara wajah mereka hanya sejengkal saja. Terlihat kedua mata Widya berkaca-kaca menatap Mawar yang ada dihadapannya itu.


"Kamu anakku......." Lirih Widya sambil mengelus pipi Mawar.


Mawar hanya diam terheran-heran.


"Sudah ku bilang, dia bukan anakmu!" Sergah Nuri lalu mendorong tubuh Widya.


"Jika bukan, lalu anak siapa dia? Jelas saja, pasti dia adalah anakku yang kamu ambil dari ku..!"


"Siapa nama kamu?"


"Mawar Tante..!"


"Nama yang indah. Oh ya, jangan panggil Tante, aku mamah kamu sekarang..!"


"Hai, Widya sudah ku bilang dia bukan anak kamu. Dia adalah anak kandung ku dengan Winoto." Seru Nuri.


"Dulu dan sekarang kamu belum berubah juga, Nuri. Kenapa kamu selalu mengakui sesuatu yang bukan milikmu?" Tanya Widya sinis.


"Kamu tidak perlu mengurusi urusan ku, Widya. Sekarang kamu pergi dari sini..!" Usir Nuri.


"Dulu kamu merebut suami ku, Sekarang tidak akan ku biarkan kamu merebut anakku..!" Gerutu Widya.


"Aku sudah mengalah dengan menyerahkan Winoto kepadamu tapi kenapa kamu ingin mengambil anak-anak ku juga. Apa kamu belum puas?"


Nuri diam untuk beberapa saat, dia menahan malu karena ucapan Widya.


"Wanita seperti dirimu mau diberi apapun tidak akan pernah puas...!" Cibir Widya.


"Jaga omongan kamu, Widya!" Sentak Nuri tak terima.


"Aku berbicara jujur, Nuri!"


"Tapi aku juga berkata jujur, kalau dia Mawar bukanlah anakmu. Dia anak ku dengan mas Winoto!"


"Kalau begitu di mana anakku yang sebenarnya, jangan bilang kamu menelantarkan nya. Kalau apa yang aku bilang itu benar, aku tidak akan segan-segan menghabisi mu..!" Seru Widya dengan nada penuh ancaman.


Nuri menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Wanita ini lalu mengajak Widya untuk ke suatu tempat dimana ia akan mempertemukan Widya dengan anak kandungnya. Sementara Mawar tidak ikut karena ia disuruh Nuri untuk menjaga Winoto.


Akhirnya Nuri dan Widya pun pergi dalam satu mobil yang sama dengan disupiri oleh asisten Widya. Didalam perjalanan, Nuri menghubungi Sania untuk menanyakan keberadaan Sania saat ini. Untung saja Sania mengatakan jika ia baru saja sampai dirumah.


Sepanjang perjalanan, suasana didalam mobil tampak hening. Terlihat Nuri sejak tadi hanya membuang pandangannya ke luar jendela. Sementara Widya menatap lurus ke depan.


"Bagaimana rasanya hidup belasan tahun dari hasil merebut suami dari sahabatmu sendiri?" Tanya Widya membuka suara.


"Aku tidak pernah merebut suami mu," Balas Nuri.

__ADS_1


"Ya tapi kamu menggodanya." Cibir Widya.


"Bukan aku yang menggodanya, tapi dialah yang duluan memulai." Sanggah Nuri.


Widya tersenyum miring, masih tak percaya dengan apa yang sahabatnya lakukan padanya saat belasan tahun yang lalu.


"Pasti hidup mu sangat bahagia atau kamu merasa bersalah setiap hari?" tanya Widya.


Terdengar Nuri menghela nafas panjang.


"Sudahlah Widya, semua sudah berlalu. Untuk apa lagi kamu membahasnya!" Tutur Nuri.


"Walaupun sudah berlalu, tapi luka yang kalian berikan itu masih membekas di hatiku!" Ungkap Widya.


Nuri hanya diam tak bisa berkata satu huruf pun. Dalam hati dia juga merasa bersalah atas apa yang ia lakukan dulu, yaitu menggoda dan merebut suami sahabatnya sendiri.


Sampai beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai tiba dipekarangan rumah Sania.


Nuri pun bergegas turun dengan diikuti oleh Widya dibelakangnya. Nuri memencet bel rumah berulang kali, hingga akhirnya pintu terbuka dan keluarlah Sania.


"Silahkan masuk, Ma!" Ucap Sania yang belum sadar.


Widya terkejut saat melihat sosok Sania, wanita yang waktu itu di supermarket dan pagi tadi saat berpapasan dengannya di lift.


"Hah, inikan ibu-ibu-----" Sania menggantung ucapannya saat melihat Widya yang berdiri dibelakang Nuri.


Sontak Widya dan Sania pun langsung menggelengkan kepalanya.


"Nuri, apakah ini a----"


"Benar Widya, ini anakmu!" Potong Nuri.


Widya kembali terkejut dengan mulut sedikit ternganga.


Sementara Sania mengerutkan dahi, tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh kedua wanita yang ada dihadapannya ini.


"Ma, maksud mama apa ya?" tanya Sania.


Nuri pun mulai menjelaskan semuanya bahwa sebenarnya Widya ini adalah mama kandung dari Sania.


Sania yang mendengar hal itu sontak kaget dan menggeleng tak percaya.


"Mama kandung? Mama jangan bercanda, tidak mungkin. Bukankah papa bilang mama kandungku sudah meninggal?" tanya Sania.


Widya menautkan kedua alisnya.


"Nuri, benarkah Winoto berkata kalau aku sudah meninggal?" tanya Widya tak terima.


Nuri dengan wajah tertunduk pun seketika mengangguk membenarkan apa yang diucapkan Sania. Winoto memang mengatakan kepada Sania bahwa mama kandung Sania telah lama meninggal.

__ADS_1


"Kurang ajar, Winoto!" umpat Widya matanya memerah dan kedua tangannya terkepal dengan kuat.


"Sania, inilah mama kandung mu yang sebenarnya!" Ucap Nuri menyakinkan.


"Anakku......" Lirih Widya menitihkan air mata yang sudah ia tahan sejak tadi.


Sebaliknya dengan Sania, Wanita itu langsung saja memeluk Widya dengan erat dan tak terasa air matanya jatuh begitu saja.


"Mama......" Lirih Sania disela Isak tangisnya.


"Maafkan mama, Nak! maafkan mama yang baru menemui mu sekarang!" Ucap Widya pilu.


Tiba-tiba saja Sania langsung melepaskan pelukannya lalu menatap Widya dengan seksama.


"Kenapa mama baru menemui ku sekarang, Hah?" tanya Sania.


"Nak, andaikan kamu tahu bagaimana perjuangan mama untuk bisa menemui kamu selama ini. Mama sudah berusaha keras nak, tapi baru sekarang lah tuhan mempertemukan kita!" Jelas Widya dengan pilu.


Sania kemudian langsung saja memeluk kembali Widya. Rasa bahagia dan sedih kita bercampur menjadi satu. Widya benar-benar sangat merindukan sosok anaknya yang selama ini cari-cari.


Sedangkan Nuri yang menyaksikan momen haru itu, ia sesekali mengusap kasar cairan bening yang tak sengaja keluar dari sudut matanya. Ada perasaan bersalah dalam hatinya, karena ia telah memisahkan anak dan ibu selama belasan tahun.


***


Sementara di rumah sakit sekarang, sepulang dari kantor, Dirga memang sengaja mampir ke rumah sakit karena Mawar menghubungi nya tadi untuk memintanya datang.


Pikir Mawar inilah kesempatan untuk dirinya bertemu dengan Dirga.


Ceklek......


"Mawar......" Sapa Dirga yang baru saja masuk.


"Eh....mas, akhirnya kamu datang juga!" Ucap Mawar tersenyum manja.


Dirga lalu melangkah lebih dekat lagi ke arah Mawar. Pria itu lalu mengelus kepala Mawar dengan lembut.


"Kamu rindu ya sama Mas? makanya kamu nyuruh mas dateng kesini." Ujar Dirga setengah berbisik.


"Ih mas bisa aja, ya iyalah, Mawar itu rindu banget sama, Mas!" ungkap Mawar.


"Kamu tuh ya, bisanya bikin mas bergairah aja!"


"Hem, jangan bilang mas pengen lagi!" goda Mawar.


Dirga terkekeh kecil,


"Mas yang pengen atau kamu yang pengen?" tanya Dirga.


"Shut......nanti kedengaran sama papa!" ucap Mawar.

__ADS_1


__ADS_2