
"Biarin ajalah, lagipula nggak mungkin papa dengar." Ujar Dirga seraya membelai wajah Mawar.
"Kita cari hotel aja yuk!" Ajak Dirga yang tak tahan lagi.
"Nggak bisa, mas. Aku harus jagain papa."
"Memangnya mamah sama Sania kemana?" tanya Dirga.
"Pulang. Eh mas kamu tau nggak tadi ada tante-tante yang mencari anaknya dan dia kira aku anaknya." Jelas Mawar.
"Hah, siapa memangnya?"
"Katanya mama sih dia mama kandungnya mba Sania,"
"Mama kandung? bukankah kata Sania dulu mamanya sudah meninggal?"
"Ya ceritanya panjang mas, sebenarnya juga mba Sania itu gak tahu kalau mamanya masih hidup."
"Hah, kok bisa gitu ya?"
"Nggak tahu kayaknya. Udah ah jangan bahas istri kamu terus." Rajuk Mawar.
"Yaa yang bahas kan kamu duluan, bukan aku..!" Ucap Dirga sembari mencubit pipi Mawar.
"Mas, aku sama mas Arif udah mau cerai. Jadi kapan kamu menceraikan Sania dan menikahi aku?" Tanya Mawar.
"Memangnya suami kamu setuju kalau cerai dari kamu?" Tanya balik Dirga.
"Sebenarnya dia tidak setuju tapi, aku tetap ingin bercerai darinya sebab aku merasa tidak bahagia menjalin rumah tangga dengannya." Ucap Mawar.
__ADS_1
"Hem......baiklah, tapi tolong bersabarlah dulu Mawar. Kamu kan tahu sendiri situasi nya saat ini sedang tidak memungkinkan. Apalagi papa kamu dan Sania sedang sakit," Jelas Dirga.
"Kamu benar, mas. Aku harus bersabar, ini hanya soal waktu. Kalau papa ku sudah sembuh kita langsung saja menggelar pernikahan kita." Ujar Mawar.
"Tentu saja. Dan aku akan menceraikan Sania dan menendang wanita itu ke jalanan." Ucap Dirga tak berhati. Ia sengaja berbicara seperti itu agar Mawar tenang.
Mawar tersenyum lebar, wanita itu lalu memeluk tubuh Dirga dengan erat. Sebaliknya dengan Dirga, pria itu pun membalas pelukan hangat dari Mawar.
Tanpa mereka sadari, ternyata Winoto sejak tadi sudah sadar dan sejak tadi juga Winoto mendengar dan menyaksikan obrolan mereka berdua yang begitu biadab.
"Ka--kalian......." Lirih Winoto mengapa tajam ke Dirga dan Mawar.
Sontak Dirga dan Mawar merasa sangat terkejut saat melihat Winoto yang sudah sadar.
Mawar pun langsung saja melepaskan pelukannya dari Dirga.
"Papah.." Ucap Mawar dan Dirga serentak dengan mata terbelalak.
"Ini bukan seperti yang papah liat dan dengar." Sangkal Mawar.
"Kalian gila..!"
"Argh......." Winoto meringis kesakitan sambil memegangi dadanya.
"Pa....biar Mawar panggilkan Dokter!" Ucap Mawar. Tapi baru saja Mawar hendak melangkah, Dirga langsung mencengkram lengan Mawar.
"Mas.....ada apa?" Tanya Mawar.
"Mawar......." Dirga menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Mas?"
"Tidak usah panggil Dokter, biarkan saja!" Ujar Dirga.
"Gila kamu, mas! Papa udah mau sekarat gitu!"
"Iya aku tahu, Mawar. Tapi tidak usah!" Seru Dirga semakin kuat mencengkram lengan Mawar.
Sementara Winoto kini benar-benar seperti orang yang sedang sakaratul maut. Dan tak lama kemudian, Winoto kembali tak sadarkan diri.
Mawar yang melihat Papa nya tak sadarkan diri, dia langsung saja mendekat ke arah sang papa.
"Pa....papa....." Ucap Mawar sambil memegangi pipi papa nya.
"Mas, gimana ini? Aku harus panggil Dokter!" Mawar kemudian beranjak keluar untuk memanggil Dokter.
Sedangkan Dirga hanya diam dengan wajah panik. Dia takut jika Winoto sembuh, alasannya karena ia tak ingin Winoto memberitahu tentang kebejatannya pada Sania.
Beberapa detik kemudian, Dokter dan perawat pun datang untuk memeriksa kondisi Winoto.
"Dok, bagaimana keadaan papa saya?" tanya Mawar dengan wajah cemas.
Dokter menghembuskan nafas pelan. Lalu berkata,
"Mohon maaf, nyawa papa anda tidak bisa lagi tertolong." Ucap sang Dokter, membuat Mawar terkejut dan menggeleng tak percaya.
"Dok, Dokter jangan bercanda!" Seru Mawar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mas....papa....mas, papa sudah meninggal!" Ucap Mawar menatap ke arah Dirga yang berdiri mematung.
__ADS_1
"Mawar.......kamu yang sabar ya....." Ujar Dirga menenangkan.