Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
22. Butuh Uang


__ADS_3

Setelah menerima sejumlah uang dari Mawar, dua orang lelaki itu pun berlalu pergi. Tapi sebelumnya dua lelaki itu mengancam jika dia dan mamanya tidak melunasi hutang dengan segera, maka rumah yang sekarang mamanya tempati akan disita.


"Bagaimana ini, Mawar? Mama benar-benar tidak mampu untuk melunasi hutang sebanyak itu." Ucap Nuri disela tangisnya.


"Sudah ma, tidak usah dipikir. Mawar janji, Mawar akan segera melunasi semuanya." Ujar Mawar.


"Bagaimana caranya? sedangkan kamu gajih kamu saja tidak cukup untuk melunasi semuanya." Kata Nuri meremehkan.


"Tenang ma, Kan ada mas Dirga. Mawar tinggal minta bantuan saja ke mas Dirga." Ucap Mawar dengan entengnya.


"Apa kamu bilang? Kamu jangan ngawur Mawar! Dirga itu suami dari kakak mu sendiri."


"Ma, Mawar tahu, tapi perasaan tidak bisa dibohongi. Aku baik mas Dirga saling mencintai satu sama lain. Jadi apa salahnya? toh lagian mas Dirga sudah janji kalau secepatnya dia akan menikahi Mawar." Jelas Mawar yang sudah dibutakan oleh cinta.


"Mawar, Dirga itu suami kakak kamu!" Tekan Nuri.


"Tidak ada salahnya ma, lagian kami berdua kan bukan saudara kandung."


Nuri yang mendengar itu pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia sudah tidak tahu lagi dengan pemikiran anaknya itu.


*


"Mas, aku mau ngomong sesuatu sama kamu!" ucap Mawar saat memasuki ruangan kerja Dirga.


"Mawar, kamu mau ngomong apa? Kaya serius banget. Hem....jangan bilang kamu mau bahas masalah......" Dirga menggantung ucapannya.


"Tidak, bukan itu."


"Lalu apa?"


"Aku butuh uang sekarang!" Ujar Mawar.


Dirga tersenyum lebar. "Butuh berapa sayang? Uang yang kemarin mas kasih memangnya udah habis apa?" tanya Dirga. Yah, lelaki itu sebelumnya memang sering memberikan sejumlah uang pada Mawar.

__ADS_1


"Aku butuh satu miliar!" Jawab Mawar dengan entengnya.


"Hah, apa satu miliar?" Kedua mata Dirga terbelalak dan dia begitu kaget saat mendengar jawaban Mawar.


"Kenapa mas?"


"Kamu lagi gak bercanda kan? Satu miliar itu banyak loh!" Seru Dirga, karena memang biasanya dia paling banyak memberi Mawar hanya sepuluh juta saja.


"Ngapain aku bercanda, Mas. Aku memang lagi butuh!"


Dirga menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Uang sebanyak itu memangnya untuk apa, Mawar?"


"Bayar hutang, Mas. Ternyata papa ninggalin hutang yang begitu banyak!" Jelas Mawar.


"Hem.....kenapa kamu tidak coba minta saja ke Sania? Toh lagian papa mu papa nya juga," Usul Dirga yang sebenarnya merasa tak Sudi jika harus memberikan uang sebanyak itu pada Mawar.


"Iya ya, kenapa aku gak minta aja sama mba Sania? Itukan juga papanya!"


"Sudah mas, aku coba dulu aja minta ke mba Sania. Siapa tahu dikasih." Ucap Mawar dan Dirga pun mengiyakan.


Akhirnya saat malam tiba, saat mereka sedang makan malam bersama. Mawar membuka suara dan mengajak Sania untuk berbicara empat mata saat selesai makan nanti. Sania yang penasaran pun langsung saja mengiyakan.


Dan setelah selesai makan, Kini Mawar dan Sania sudah duduk di taman belakang rumah. Mawar langsung saja berbicara ke intinya bahwa ia ingin Sania ikut membantu melunasi hutang papa mereka.


Sania awalnya juga terkejut saat mengetahui bahwa papa nya berhutang sebanyak itu.


"Aku sih mau saja membantu, asalkan


......." Sania menggantung ucapannya.


"Asalkan apa?" tanya Mawar.

__ADS_1


"Langsung saja, aku ingin kamu mengakui perbuatan dan kesalahan apa yang telah kamu lakukan padaku selama ini?"


Mawar terdiam beberapa saat, pertanyaan dari Sania sungguh membuat dirinya bingung.


"Kesalahan apa? Perasaan aku tidak pernah melakukan kesalahan terhadap, Mba." Ucap Mawar yang tak sadar diri.


Sania mendecih, Wanita dihadapannya ini sungguh bersikap sangat lugu dan sok polos didepannya.


"Baiklah, kalau kamu berpikir tidak pernah melakukan kesalahan." Ucap Sania.


Mawar semakin dibuat bingung dengan ucapan Sania.


"Aku bisa saja membantu, bahkan melunasinya detik ini juga, tapi----" lagi-lagi Sania menggantung ucapan nya.


"Tapi apa?"


"Mengingat papa dulu hanya peduli dan memperhatikan kamu dan mama mu saja, malah membuat aku jadi pikir-pikir dulu untuk membantu mu." Ujar Sania.


"Maksud mba apa? Papa Mawar papa mba juga," Kata Mawar.


"Iya aku tahu, tapi kan yang merasakan uangnya kamu dan mama mu saja, bukan aku!" Ketus Sania.


"Lagian selama ini aku juga kerja banting tulang sendirian, gak pernah minta apapun sama papa." timpal Sania.


"Kok mba jadi begitu sih?" tanya Mawar kesal.


Sania mengangkat kedua bahunya lalu berkata,


"Seharusnya kamu mikir, kenapa aku bisa jadi begini!" Ucap Sania kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Mawar.


"Apa-apaan dia? kenapa jadi ketus seperti itu?" tanya Mawar pada diri sendiri.


"Hah, apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku sama mas Dirga.....?"

__ADS_1


"Akh.....entahlah!"


__ADS_2