Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
6. Pergi Japal-Jalan


__ADS_3

πŸ’š


Aku sebagai anak pun hanya bisa memaafkan mama ku. Walaupun setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya itu selalu pedas dan menyakitkan.


Selesai makan, kami semua kembali lagi ke ruang keluarga untuk sekedar mengobrol. Tapi sebelum itu aku pergi dulu ke dapur untuk membuatkan minuman. Setelah membuat minuman, aku pun kembali lagi ke ruang keluarga, meletakan nampan yang berisi minuman.


"Silahkan diminum, Pa Ma." Ucapku kemudian aku mendudukkan pantatku tepat disamping mas Dirga.


"Mawar, kamu kapan pulang sayang?" Tanya mama pada Mawar.


"Kayanya besok lusa, Ma. Mawar mau pulang dua hari aja." Jawabnya.


"Oh....ya syukurlah kalau begitu, kasihan suami kamu sendirian dirumah." Ujar Mama.


"Loh Mawar, besok lusa kamu mau pulang?" tanya Mas Dirga.


"Iya mas, Mawar izin gak masuk kerja dulu ya."


"Iya boleh Mawar, asalkan jangan lama-lama izinnya." Ucap mas Dirga.


"Lalita, kapan kamu main dan nginap dirumah kakek dan nenek?" tanya papa pada anakku.


"Tunggu Lalita libur aja Kek, Lalita pasti kesana kok minta anterin sama papa mama nanti." Jawabnya dengan nada manja.


"Hehe....kakek tunggu ya....."


"Tenang aja pa, pasti kami akan nganterin Lalita nanti pas dia libur sekolah." Sambung ku sambil mengelus kepala Lalita.


Akhirnya satu jam lebih berlalu tanpa terasa. Papa dan mama pun memutuskan untuk pulang. Aku, mas Dirga, Lalita serta Mawar pun mengantarkan mereka sampai ke teras depan rumah.


Lagi, saat ingin bersalaman, mama kembali tak menghiraukan aku. Dia hanya menghiraukan Mawar saja, bahkan yang membuat aku iri ialah mama hanya menciumi dan memeluk Mawar saja. Biarpun aku anak tiri, tapi hati kecil ku pun ingin juga seperti Mawar. Mendapat perhatian lebih dari seorang ibu, karena sedari kecil aku sama sekali tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.


Sebenarnya sejak kecil aku sendiri pun tak tahu siapa mama kandungku? Karena setiap aku bertanya pada papa, papa selalu saja mengatakan bahwa mama kandungku sudah meninggal. Lantas aku yang penasaran pun kembali bertanya dimana makam mama yang sebenarnya? Tapi bukannya memberitahu, papa justru mengatakan kepadaku untuk tidak banyak bertanya tentang mama yang sudah meninggal.


Sampai punggung kedua orangtuaku tak terlihat, barulah kami kembali masuk ke dalam rumah.


"Mba Sania....." Panggil Mawar padaku yang sedang membereskan meja makan.


"Iya ada apa?" tanyaku.


"Masalah tadi, maafkan aku ya mba.....mba kan tahu sendiri mama orangnya seperti apa." Ucap Mawar dengan wajah merasa bersalah.


Aku menghela nafas panjang.


"Sudah Mawar, gak apa-apa kok. Mba udah biasa digituin." Ujarku tersenyum.


"Sekali lagi Mawar minta maaf ya, mba."

__ADS_1


Aku Pun hanya manggut-manggut.


"Kalau begitu biar Mawar saja yang mencuci semua piring kotor ini!" Seru Mawar.


"Jangan Mawar, biar aku saja." Kataku, tapi Mawar tetap kekeh.


_


Hari Minggu begini enaknya mengisi waktu dengan bersantai. Tapi aku merasa bosan karena sudah sepekan ini aku hanya diam dirumah saja. Lalu aku pun berinisiatif mengajak mas Dirga untuk pergi jalan-jalan menghirup udara segar. Toh, lagian hari ini dia juga libur ke kantor. Ku lihat mas Dirga sedang duduk di gazebo dekat kolam renang bersama Lalita. Aku pun bergegas menghampirinya.


"Mas, ayo pergi jalan-jalan. Mumpung kamu libur!" Ajak ku pada mas Dirga.


"Pergi kemana, Sayang?" tanya mas Dirga.


"Ya kita pergi ke pantai apa kemana gitu," jawabku.


"Iya Pa, ayo kita pergi jalan-jalan!" seru Lalita.


"Hem....boleh-boleh," ujar mas Dirga.


"Hore.....jalan-jalan!" Ungkap Anakku yang begitu seneng.


"Kalau begitu Lalita siap-siap gih sama mama, papa mau merokok dulu sebatang."


"Ih mas, jangan sering-sering merokok loh!" Tegur ku memberi peringatan sambil mencubit kecil lengannya.


Aku pun hanya menggeleng, lalu ku ajak Lalita masuk ke dalam rumah untuk segera bersiap-siap.


POV Dirga.


Aku sedikit kaget saat tak sengaja melihat ke arah jendela dapur. Ternyata dari balik jendela ada Mawar yang sedang berdiri memperhatikan aku dengan tatapan tajamnya. Aku pun hanya bisa menghela nafas panjang.


Ternyata saat pandanganku ke lain, tiba-tiba ada Mawar yang melangkah menuju ke arahku.


"Mawar......ada apa?" tanyaku Lirih.


"Kamu harus jawab jujur, Mas. Tadi pagi kamu ngapain sama mba Sania?" Tanya Mawar, membuat diri ini sama sekali tak paham.


"Maksud kamu apa, Mawar?"


"Tadi pagi kamu ngapain di kamar sama mba Sania?"


Oh tuhan, sepertinya Mawar tahu jika aku pagi tadi sedang melakukan hubungan dengan istriku.


"Ya.....aku......" Aku menggantung ucapanku karena aku bingung ingin menjawab apa.


"Bukankah kamu bilang kamu hanya mencintai aku saja? Lalu kenapa kamu berhubungan dengan mba Sania?" tanya Mawar dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


Aku gelagapan saat Mawar berbicara seperti itu. Kedua mataku pun langsung liar melihat ke suasana sekitar. Takut jika Sania melihat dan mendengar pembicaraan kami yang seperti ini.


"Shut......." Aku memonyongkan bibirku seolah memberi isyarat pada Mawar untuk merendahkan nada bicaranya. Dan ia pun hanya bisa berdecak kesal.


"Jawab pertanyaan ku, Mas!"


"Mawar, biar bagaimanapun aku ini masih suami dari mba kamu. Jadi tidak ada salahnya dong kalau aku berhubungan sama istri sendiri." Jelas ku dengan lembut. Berharap Mawar bisa mengerti.


"Kalau begitu, kamu anggap apa aku ini, Mas?" Pertanyaan Mawar kali ini sungguh membuat diriku tersudut.


"Dengar Mawar, aku ini memang cinta sama kamu, tapi di hatiku ini juga masih cinta sama Sania." Ucapku.


"Jadi maksud kamu, kamu mencintai dua wanita dalam satu hati?"


"Papa..........." Panggil anakku yang berdiri diambang pintu.


Ah, untung sekali Lalita datang tepat waktu, jadi aku tidak perlu lagi menjawab pertanyaan dari Mawar.


"Ada Lalita," ucapku kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Mawar.


"Sayang.....mama mana?" tanyaku.


"Mama lagi dandan, paling bentar lagi turun." Jawab anakku.


Benar saja tak lama istriku turun dan menghampiri aku dan putriku yang sedang duduk diruang keluarga.


"Dah siap?" tanyaku.


"Ya, yang kamu lihat bagaimana, orang aku sudah siap begini masih aja ditanya!" Cibir istriku. Dan aku pun hanya tertawa kecil.


Trek....


Tiba-tiba Mawar keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Hendak kemana dia kira-kira?


"Mawar......." Tegur istriku.


"Iya mba......" Balas Mawar sembari menghampiri kami.


"Kamu mau kemana?" tanya istriku.


"Ya Mawar kan mau ikut mba..." jawabnya. "Tadi mas Dirga ngajak aku juga, katanya biar aku gak bosan dirumah."


Astaga apalagi ini, kenapa Mawar berbohong seperti itu? Padahal aku sama sekali tak mengajak dia.


"Oh gitu, yaudah gak apa-apa. Ikut aja, biar rame." Ucap istriku ramah.


"Iya mba......" Kata Mawar sekilas melirik ke arah aku dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2