Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
8.Hubungan Istimewa


__ADS_3

Ceklek......


Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan masuklah seorang wanita yang tak lain adalah Mawar.


"Mas Dirga sayang....ayo kita makan siang!" Ajak Mawar padaku, dia belum sadar jika di depanku ada Deris.


Aku yang mendengar panggilan sayang dari mawar pun langsung saja tergugup karena aku takut jika Deris akan berpikir yang bukan-bukan.


"Hah, Sayang?" Deris menoleh ke arah Mawar. Dan sontak saja Mawar kaget melihat ada sosok lelaki.


"Hah, Mas.....siapa ini?" tanya Mawar padaku.


"Argh.......ini, ini Deris, Mawar!" jawabku sambil tergugup.


Mawar dan Deris, keduanya itu menatapku seolah dengan penuh kebingungan.


"Dirga, siapa dia? Kenapa dia manggil kamu dengan sebutan sayang?"


Benar saja, Deris pasti akan menanyakan hal itu.


"Jangan bilang ka-kamu selingkuh dari istrimu?"


Aduh Lidah ku terasa Kelu saat mendengar kembali pertanyaan Deris yang seperti itu.


"Bu-bukan Deris, kamu jangan salah paham dulu. Mawar ini adalah karyawan ku, rekan kerjaku." Ucapku.


"Kalau karyawan kenapa dia memanggilmu dengan sebutan sayang?" Deris tak berhentinya bertanya, sehingga membuat aku kesulitan untuk mencari alasan. Aku lalu melirik ke arah Mawar seolah mata ini memberi kode untuknya.


"Benar, kami berdua hanya rekan kerja. Tapi dibelakang kami memiliki hubungan yang istimewa." Ucap Mawar menyeringai melirik ke arah aku. Dan tentu saja Deris langsung tersentak kaget saat mendengar ucapan Mawar yang seperti itu. Tak hanya Deris, aku pun juga ikut terkejut.


"Mawar!! Kamu bicara apa?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.


"Ya kan benar kan mas kalau kita dibelakang memiliki hubungan yang istimewa?" tanya Mawar tersenyum kemudian berlalu begitu saja.


Aku langsung mengusap kasar wajahku, tak menyangka jika mulut Mawar akan seember ini.


"Gila, ternyata kamu menyelingkuhi Sania!" Seru Deris sambil menggelengkan kepalanya.


"Bro.....dengarkan aku dulu, aku selingkuh itu ada sebabnya!" Terangku.


"Jangan bilang sebabnya karena istrimu sudah tak menarik lagi?"


Aku menghembuskan nafas panjang, lalu kembali duduk di kursi kebesaran ku.


"Yah, begitulah. Dia sudah tidak secantik dulu dan sudah tidak selangsing dulu. Semenjak melahirkan tubuhnya malah menjadi melar." Jelas ku dan Deris malah terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


"Lawak sekali, ternyata hanya karena masalah itu kamu sampai mengkhianati pernikahanmu? Hai, Dirga bagaimana jika dia nanti tahu kalau kamu mengkhianatinya?" tanya Deris.


"Ah....gampang saja. Tinggal minta maaf apa susahnya. Lagian aku yakin pasti Sania akan memaafkan ku. Toh, Sania orangnya sangat baik dan pemaaf." Ujarku dengan entengnya.


"CK.....CK......jangan berpikir seperti itu, Dirga. Siapa tahu dia tidak akan memaafkan mu dan malah meminta pisah denganmu?"


"Tidak mungkin.......tidak mungkin dia akan minta pisah. Memangnya dia bisa hidup tanpa aku? terus jadi apa dia tanpa aku?" tanyaku balik sambil tertawa kecil.


Deris pun hanya terdiam mendengar pertanyaan ku yang seperti itu.


"CK.....kamu memang keterluan, Dirga!"


Lagi, Deris hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mungkin dia tak menyangka jika aku akan mengkhianati Sania, karena yang ia tahu sejak dulu ialah aku sangat begitu mencintai Sania.


"Oh ya Deris, aku minta tolong sama kamu." Pintaku.


"Minta tolong apa?"


"Sebagai sahabatku yang paling baik, tolong rahasiakan ini. Jangan sampai kamu memberitahu Sania." Ucapku dengan serius.


Terdengar Deris menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Berdosa sekali aku jika menutupi kelakuan bejatmu ini," ucapnya.


"Haduh, kali ini saja aku minta tolong. Aku tidak ingin Sania tahu jika aku telah selingkuh dengan adiknya sendiri."


"Baiklah, jangan lupa main-main ke rumah!" pintaku dan Deris manggut-manggut tanda mengiyakan.


*


Sore hari aku dan Mawar baru menginjakkan kaki dirumah. Kebetulan saat di halaman rumah ada Sania yang sedang menyirami tanaman. Ia pun bergegas menghampiri aku yang baru saja turun dari mobil untuk bersalaman.


"Tumben jam segini baru pulang?" tanya istriku.


"Iya seperti biasa, pekerjaan menumpuk akhir-akhir ini." Jawabku.


"Oh ya sudah, mandi sana, aku sudah menyiapkan air hangat dan pakaian untukmu." titah istriku dan aku mengiyakan.


POV Sania.


Keesokan harinya.


Pukul tujuh pagi usai sarapan, aku mengantar mas Dirga dan Mawar sampai ke depan teras. Hari ini mas Dirga akan mengantarkan Mawar pulang.


Sampai mobil mas Dirga tak terlihat, barulah aku kembali masuk ke dalam rumah. Aku pergi ke kamar untuk membersihkan diri, hari ini aku akan pergi ke butik karena sudah seminggu ini aku tak kesana. Setelah siap, aku langsung saja bergegas pergi dengan menggunakan mobilku, mobil yang ku beli dari hasil keringatku sendiri.

__ADS_1


Sesampainya di butik, aku langsung saja di sambut hangat oleh Wulan, Wulan sahabatku yang memang menjadi orang kepercayaan ku untuk menjalankan butik ku.


"An, kenapa kamu baru kesini?" tanya Wulan.


"Maaf, aku sangat sibuk sekali akhir-akhir ini. Sibuk melayani suami dan anakku." Jawabku dengan senyuman.


"Oh begitu rupanya......"


Setengah hari aku pun sibuk mendesign sebuah gaun pesanan. Aku mengerjakannya dengan sangat teliti dan hati-hati karena aku tidak ingin Klein ku merasa kecewa dengan hasil yang kurang puas.


"Ini, minum dulu......" tiba-tiba Wulan memberiku sebotol minuman dingin lalu ia duduk di hadapanku.


Aku mengucapkan terimakasih padanya, lalu meneguk minuman dingin itu dan seketika tenggorakan ku menjadi segar.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Wulan.


"Ya yang kamu lihat bagaimana, aku baik-baik saja." Jawabku tapi wajah Wulan malah terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ada apa, Wulan? tidak biasanya kamu bertanya seperti ini?" tanyaku merasa aneh.


"Aku ingin bicara sesuatu sama kamu," ujar Wulan.


"Hah, apa itu?" tanyaku penasaran.


"Anu, beberapa hari yang lalu, aku tidak sengaja melihat suami mu dengan Mawar sedang berada di Mall." Jelas Mawar.


"Lantas kenapa? Mereka kan memang rekan kerja." Kataku yang masih berpikiran positif.


"Aku tahu, Sania. Tapi,---" Wulan menggantung ucapnya.


"Tapi apa?"


"Suami mu dengan Mawar tampak begitu mesra, bahkan Mawar saja terlihat bergelayut manja seperti kera ditangan suamimu." Tutur Wulan dengan wajah serius.


Dan aku langsung saja terpaku saat mendengar penuturan dari Wulan. Bahkan ekspresi wajahnya itu sungguh membuatku ketakutan.


"Jangan bercanda, Wulan. Tidak mungkin Mawar akan seperti itu." Ujarku dengan penuh keyakinan.


"Mawar itu adikku, jadi tidak mungkin dia akan melakukan hal itu." Timpal Ku.


Wulan lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Ini lah yang ku sangka, pasi kamu tidak akan percaya sebelum kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri." Ucap Wulan.


Bahkan ucapannya kali ini sungguh membuat diriku merasa takut. Sepertinya Wulan memang berbicara jujur.

__ADS_1


"Kamu sebagai kakaknya kan tahu sendiri hubungan dia sama suami kurang harmonis. Jadi pesanku, kamu hati-hati saja sama Mawar." Usul Wulan memberi nasihat kepadaku.


__ADS_2