
"Kenapa mama harus terkejut, bukankah aku ini sama saja seperti mama...!"
"Mawar kamu jangan mengarang cerita. Mama dan papa mu saling mencintai jadi kami memutuskan untuk menikah waktu itu. Mama dan papa mu tidak berselingkuh." Elak Nuri.
"Mama pikir aku ini anak kecil..!!"
"Sudahlah, mama nggak usah sok kaget begitu. Kita sama saja kok ma." Ucap Mawar kemudian berlalu begitu saja.
Nuri pun hanya mematung, dia masih kebingungan memikirkan Mawar yang tahu dengan masa lalu dirinya.
_
Sementara dirumah sakit sekarang, Sania mendapatkan sebuah pesan dari Arif yang mengajaknya untuk bertemu. Akan tetapi Sania mengatakan jika ia tidak bisa bertemu sekarang karena dirinya sedang menjaga papanya di rumah sakit. Tapi Arif terus saja meminta Sania untuk bertemu dengannya karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Sania pun akhirnya memutuskan untuk mengajak Arif bertemu pada pukul dua siang nanti dan Arif pun mengiyakan.
Siang harinya, Widya kini baru saja menginjakan kakinya tepat di perusahaan tempat mantan suaminya bekerja. Dia menuju ke resepsionis untuk menanyai keberadaan mantan suaminya. Akan tetapi resepsionis mengatakan jika mantan suaminya itu sudah tidak masuk hampir seminggu karena sedang sakit parah dan kini sedang dirawat di rumah sakit.
Widya lalu bertanya tentang dirumah sakit mana mantan suaminya di rawat. Dan dari informasi yang ia dapat, Widya pun langsung saja bergegas menuju ke rumah sakit tepat mantan suaminya di rawat.
Setibanya di rumah sakit, Widya langsung saja bergegas menuju ke resepsionis untuk menanyakan dimana Winoto mantan suaminya di rawat. Setelah mendapatkan jawaban dari resepsionis, Widya pun langsung menuju ke lantai tiga belas. Widya benar-benat tak sabar, dia kini tengah berdiri menunggu pintu lift terbuka dan saat pintu lift terbuka, Widya sejenak mematung menatap seorang wanita yang tak asing keluar dari dalam lift. Wanita itu ialah Sania, wanita yang tak sengaja menabrak dirinya saat di supermarket.
Sania memang akan pergi karena ia harus menjemput Lalita yang sebentar lagi akan pulang dan habis itu ia akan menemui Arif disebuah cafe yang sudah dijanjikan. Melihat wanita setengah baya yang kemarin ada di supermarket, Sania langsung saja melemparkan senyuman dan menyapa Widya.
"Ibu yang kemarin kan?" Tanya Sania.
"Iya betul, kebetulan sekali kita bertemu lagi disini." Ucap Widya.
"Oh iya Bu, mau ngapain kesini?" Tanya Sania.
"Mau cari....." Belum selesai Widya berbicara, tiba-tiba ponsel Sania berdering. Sania pun kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Widya.
Widya pun menghembuskan nafas pelan, ia lalu masuk ke dalam lift satu orang asistennya.
Kini Widya dan asistennya sudah berapa tepat didepan pintu kamar dimana mantan suaminya di rawat. Dan tanpa banyak cingcong, Widya langsung saja membuka pintu dan masuk ke dalam.
Ceklek......
Tampaklah Nuri yang sedang duduk di samping ranjang rumah sakit.
Nuri memutar kepalanya untuk menoleh ke arah pintu, dan saat melihat siapa yang datang, Nuri begitu terkejut. Untuk beberapa saat Nuri dan Widya saling bertukar pandang satu sama lain.
"Ka-kamu, mau apa kamu datang kesini?" Tanya Nuri seraya bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Tak buru-buru menjawab, Widya melipat kedua tangannya didada lalu melangkah maju mendekat ke arah Nuri. Widya sekilas menatap ke arah mantan suaminya yang sedang terbaring lemas. Dan setelah itu ia menatap ke arah Mawar yang berdiri tepat disamping Nuri.
"Mama, siapa dia?" Tanya Mawar berbisik, tapi masih bisa terdengar oleh Widya. Tapi Nuri mengabaikan pertanyaan dari Mawar.
"Jawab, kamu mau apa kesini!" Sentak Nuri.
"Apalagi kalau bukan menjenguk mantan suamiku!" Jawab Widya tersenyum miring.
Nuri terkekeh kecil saat mendengar jawaban Widya.
"Hah, mantan suami?" Mawar begitu keheranan.
"Kamu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Mas Winoto, jadi sekarang pergilah!" Usir Nuri seperti orang ketakutan.
Widya tertawa kecil, lalu berkata.
"Tidak usah begitu, Nuri. Bukan itu tujuanku kesini, melainkan aku kesini ingin menemui anakku!" Ucap Widya dengan tatapan tajam.
"Anak?"
"Iya, anakku, anak yang telah kamu rebut." Ujar Widya seraya menatap ke arah Mawar. Widya mengira Mawar adalah anaknya yang belasan tahun lalu dibawa paksa oleh Nuri dan Winoto.
Disisi lain, kini Sania baru saja sampai di salah satu cafe yang berada ditengah pusat kota. Terlihat Arif sudah menunggu dirinya.
"Kamu sudah lama menungguku?" tanya Sania menghampiri Arif yang duduk termenung.
"Eh.. Sania, akhirnya kamu datang juga. Lumayan lama sih,"
"Arif, ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku?" Tanya Sania.
"Duduklah dulu..!" Ucap Arif terdengar lesu.
Sania menurut ia pun mendudukkan pantatnya di kursi berseberangan dengan Arif.
"Sania, apa kau sudah tahu?" Tanya Arif.
"Tahu apa?"
"Mawar menceraikan ku."
Sania terdiam, hanya menunjukkan ekspresi wajah datar. Segala tentang Mawar, Sania mulai masa bodoh.
__ADS_1
"Hem, kenapa dia menceraikan mu, perasaan hubungan kalian baik-baik saja." Ucap Sania.
Arif menarik nafas dalam-dalam, ia pikir Sania sudah tahu tentang Mawar yang telah berselingkuh dengan suaminya sendiri.
"Dia berselingkuh dan kamu tahu siapa selingkuhannya? Suami kamu, Sania..suami kamu sendiri selingkuhannya!" Tekan Arif.
Sania tersenyum tipis membuat Arif merasa keheranan.
"Kenapa kamu begitu santai, suami mu sedang berselingkuh dengan istriku, Sania..!" Jelas Arif
"Aku tahu..!" Seru Sania.
"Apa..!" Arif terkejut.
"Aku juga baru tahu beberapa Minggu yang lalu." Ucap Sania.
"Lantas kenapa kamu diam saja?" Tanya Arif.
"Aku ingin melihat sampai ke mana dua manusia pengkhianat itu membohongi ku." Ujar Sania.
Arif mengusap wajahnya kasar, perasaan marah mulai menjalar di dalam hatinya.
"Lalu setelah kamu tahu mereka membohongi mu, kamu ingin melakukan apa pada mereka? Apa kamu akan membiarkan Mereka bahagia di atas penderitaan kita?" Tanya Arif.
"Membiarkan mereka bahagia sama saja dengan menginjak harga diriku. Tentu saja aku akan membalas rasa sakit hati ku." Ujar Sania.
"Jadi kau ingin balas dendam kepada mereka?" Tanya Arif.
"Sepertinya apa yang ku katakan tadi sudah jelas."
"Kalau begitu aku mendukung mu. Dan kalau kamu berkenaan, aku ingin bekerja sama dengan mu untuk balas dendam." Tutur Arif.
"Boleh, tapi sekarang aku sedang mengumpulkan semua bukti tentang kelakuan bejat mereka berdua." Kata Sania.
"Jadi kamu sudah punya bukti?" tanya Arif.
Sania mengangguk tanda mengiyakan. "Tentu saja, aku mempunyai bukti tentang mereka berdua. Tapi untuk membalasnya, aku tidak bisa sekarang." Ucap Sania.
"Kenapa? lebih cepat lebih baik!"
"Arif, kamu tahu sendiri kondisi papa ku bagaimana. Jadi mana mungkin aku membongkar kebejatan mereka sekarang juga. Bersabarlah, tunggu waktu yang pas untuk membongkar dan mempermalukan dua binatang itu." Jelas Sania.
__ADS_1