
Setelah mendapatkan telepon dari Mawar, Nuri, Sania serta Widya langsung saja bergegas menuju ke rumah sakit.
Terlihat raut wajah kecemasan dari wajah mereka bertiga saat mengetahui kalau Winoto sudah meninggal.
Dan tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit.
Saat pintu terbuka, Sania merasa sedikit heran saat melihat Dirga yang ternyata sudah ada di samping Mawar. Tapi Sania tak memperdulikan itu, dia berlari menghampiri papanya di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang sudah tertutup oleh selimut.
"Pa.....papa......" Teriak Sania dengan Isak tangisnya. Begitu juga sebaliknya dengan Nuri, dia menangis sejadinya saat melihat suaminya sudah tak bernafas.
"Mas......bangun mas......" Pinta Nuri dengan berderai air mata.
Sedangkan Widya hanya mematung menatap iba sang mantan suaminya itu. Meskipun dihati nya ada sedikit kekecewaan. Kecewa karena Winoto telah mengatakan pada putrinya bahwa ia telah meninggal.
Akhirnya acara pemakaman pun dilaksanakan pada sore itu juga. Sania dan Nuri sangat begitu sedih atas kehilangan sosok Winoto.
"Mama.......Sania.....ayo kita pulang, hari sudah mau gelap!" Ajak Dirga.
Tapi Sania dan Nuri masih saja terus menangis. Hingga beberapa kali bujukan, barulah mereka mau pulang.
Kini mereka sudah sampai dikediaman Nuri dan Winoto. Duduk di ruang keluarga, sambil mengistirahatkan tubuh masing-masing yang terasa sangat lelah.
"Sania.....sudah nak.....ikhlaskan saja papa mu." Ucap Widya mengelus pundak Sania agar tenang.
"Iya ma.....Sania sudah iklas." Ujar Sania, sesekali wanita itu mengusap kasar air matanya.
Sedangkan Nuri terlihat begitu murung dan sejak tadi sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Ma....ayo Mawar antar ke kamar. Mama perlu istirahat sekarang." Kata Mawar yang prihatin melihat mamanya.
Nuri mengangguk dan Mawar pun langsung saja membawa mama nya menuju ke kamar.
Kini tinggallah Sania, Widya dan Dirga di ruang keluarga itu.
"Sania, ini siapa?" tanya Widya sambil menatap Dirga.
"Mah, ini mas Dirga, suami Sania." Jawab Sania.
Widya sedikit kaget, ternyata anaknya itu sudah menikah. "Hah, jadi kamu sudah menikah? sejak kapan?" tanya Widya lebih lanjut.
"Sudah delapan tahun, Ma."
"Ma......" Dirga mengulurkan tangan untuk mengajak bersalaman dan Widya pun membalas salaman dari menantunya itu.
"Ternyata sudah lama sekali. Berarti kalian sudah punya anak dong?"
Dirga dan Sania mengangguk membenarkan ucapan mamanya.
Tak.....tak......
__ADS_1
Mawar datang kembali lalu mendudukkan pantatnya.
"Mba......mas, Tante Mawar bikinin minuman ya?" Tawar Mawar.
"Tidak usah Mawar," Tolak Sania.
"Kenapa?"
"Kami sekarang ingin pulang saja," ujar Sania.
Akhirnya Sania, Dirga serta Widya pun pamit untuk pulang. Sania meminta mama nya untuk tinggal dirumahnya saja dan Widya pun mengiyakan permintaan anaknya tersebut. Walaupun sebenarnya Dirga dalam hati tak setuju karena menurut Dirga, dia tak bisa lagi berduaan dengan Mawar nanti jika mama mertuanya itu tinggal dirumah.
*
Dua Minggu berlalu semenjak kematian Winoto.
Rumah tangga Sania dan Dirga berjalan seperti biasanya saja. Sementara Mawar dan Arif kini sudah resmi bercerai. Dan sekarang juga Mawar sudah kembali lagi ke rumah Sania untuk bekerja.
"Mas, kapan kamu akan menikahi ku?" tanya Mawar saat Sania sedang pergi.
"Shut......Sania, jangan nyaring-nyaring, gimana kalau kedengaran mama?" tanya balik Dirga.
"Ya bodo amat dong, pokonya aku gak mau tau mas, kamu harus menikahi aku secepatnya juga." Ucap Mawar.
"Mawar aku mohon tu----" belum habis Dirga berbicara, Mawar langsung memotongnya.
"Tunggu apa lagi mas? Papa kini sudah meninggal, terus apa lagi yang ditunggu?" tanya Mawar.
"Ehem.....Mawar .......Dirga? Sedang apa kalian? Kok, kayaknya serius amat?" tanya Widya saat menuruni anak tangga..
"Oh enggak ma, kami sedang bahas pekerjaan tadi."Ucap Dirga berbohong.
Tapi Widya sedikit heran saat melihat Mawar yang seperti orang sedang kesal.
"Oh yasudah kalau begitu, mama mau pergi dulu. Nanti bilangin ke Sania ya...." Ujar Widya.
"Iya ma, pasti Dirga bilangin kok."
Setelah Widya pergi, Mawar langsung saja kembali membuka suara.
"Ingat mas, kalau kamu gak nikahin aku secepat mungkin, kamu akan tahu akibatnya!" Seru Mawar dengan nada penuh ancaman.
"Apa maksud kamu, Mawar?" tanya Dirga tak mengerti.
"Ingat yang dirumah sakit kan?" tanya Mawar menyeringai.
Dirga mengerutkan dahinya. "Mawar kamu......."
"Kalau kamu gak nikahin aku, aku akan bongkar semua kejahatan kamu. dan juga hubungan gelap kita!" Jelas Mawar kemudian berlalu.
__ADS_1
Dirga mengusap kasar wajahnya, tak menyangka jika Mawar akan seperti itu padanya. Memberikan sebuah ancaman yang membuat dirinya kalang kabut.
Drtt.........drtt..........
Ponsel Mawar bergetar, menandakan anda sesorang yang menelpon dirinya. Ternyata yang menelpon dirinya adalah Nuri, mama nya sendiri yang sekarang tinggal sendirian.
"Gak biasanya mama nelepon, ada apa ya?" tanya Mawar pada diri sendiri lalu segera mengangkat telepon tersebut.
"Mawar, kamu kesini cepat!" titah Nuri dalam telepon dan samar-sama terdengar suara kegaduhan.
"Ada apa memangnya, Ma?" tanya Mawar.
"Sudah kamu cepat saja datang kesini!"
Mawar mematikan sambungan telepon dan ia langsung bergegas pergi menuju ke rumah mamanya.
Sesampainya didepan rumah mama nya, Mawar langsung saja masuk dan terlihat didalam rumah ada dua orang lelaki bertubuh kekar. Mawar juga melihat mama nya sedang menangis meraung-raung.
"Pokonya kami tidak mau tahu, anda harus membayar hutang-hutang suami anda!" ucap salah satu lelaki itu dengan kasar.
"Maaf pak, tapi saya tidak punya uang sebanyak itu!" Ucap Nuri yang terduduk lemas.
"Akh.....kami tidak mau tahu! segera lunasi atau rumah ini kami ambil!" Bentaknya.
"Hei, ada apa ini!" Seru Mawar menghampiri.
"Ma, bangun ma, kenapa mama seperti ini? Coba jelaskan kepada Mawar, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mawar.
"Mawar, ternyata papa mu meninggalkan hutang yang lumayan banyak. Dan orang-orang ini bersikeras jika mama tidak melunasinya, maka rumah ini akan Meraka ambil alih." Jelas Nuri disela tangisnya.
"Hah, apa? Berapa hutang papa saya?" tanya Nuri pada dua lelaki itu.
"Satu miliar!"
Sontak Mawar begitu sangat kaget ketika mendengar jumlah hutang papa nya.
"Apa? satu miliar? yang benar saja kalian!" Kata Mawar tak percaya.
"Ah.....kami tidak mau tahu, kalian harus segera melunasi hutang itu!" sergahnya.
"Ma, papa hutang apa sampai sebanyak itu?" tanya Mawar.
"Sepertinya saat memasukan kamu kuliah kedokteran dulu, Mawar. Eh tapi kamu nya malah berhenti ditengah jalan." Jawab Nuri yang masih berderai air mata.
Mawar tertunduk diam, dia mulai merasa bersalah.
"Pak, bisakah sekarang saya bayarnya nyicil dulu?" tanya Mawar memohon.
"Hem......baiklah kalau begitu, cepat mana dia uangnya!"
__ADS_1
Mawar merogoh tasnya, mengeluarkan sejumlah uang lalu ia berikan uang tersebut kepada dua lelaki itu.