Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
16. Menjenguk


__ADS_3

POV Dirga


Pukul empat sore, aku baru saja pulang dari kantor. Banyaknya pekerjaan yang menumpuk, sungguh membuat aku kewalahan.


Aku tak langsung pulang ke rumah, melainkan aku pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menjenguk papa mertua. Bukan itu tujuanku sebenarnya, tapi aku ke rumah sakit hanya ingin menemui Mawar yang katanya berada disana. Aku ingin bertemu Mawar, karena aku sangat merindukan dia.


Lima belas menit kemudian, mobil yang ku kendarai kini telah tiba di rumah sakit. Aku pun langsung saja bergegas menuju ke ruangan dimana papa mertuaku di rawat.


Ceklek......


Aku membuka pintu, lalu melangkah masuk ke dalam dan aku mendapati ada Mawar dan mama mertua.


"Ma....." Ucapku mengeluarkan tangan untuk bersalaman.


"Lo....Dirga kok kamu sendirian? Sania mana?" Tanya Mama mertuaku.


"Ah.....Dirga habis pulang kerja, Ma. Jadi sekalian saja mampir kesini. Dirga pikir disini juga ada Sania, eh ternyata gak ada." Jelasku.


"Istri kamu itu sudah pulang dari jam dua siang tadi," Ujar mama aku pun hanya manggut-manggut.


Wah, kesempatan bagiku, aku bisa menghabiskan waktu berduaan


bersama Mawar.


"Maa......Mawar kan udah dari siang disini. Jadi Mawar pulang dulu ya, Mawar mau mandi!" Ucap Mawar tiba-tiba.


"Oh iya sayang, kamu pulang dulu gih sana!" Seru mama.


"Biar Dirga yang nganter Mawar pulang, Ma." Tawarku karena ini memang sudah ku rencanakan dengan Mawar saat di ponsel tadi.


"Hem.....baiklah, tolong anterin Mawar pulang ya!"


"Baik, ma."


Kini aku dan Mawar sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah mama mertua. Aku sudah tahu semuanya, bahwa Mawar bertengkar dengan suaminya dan Mawar memutuskan untuk tinggal kembali di rumah orangtuanya.


Didalam mobil, Mawar terus saja memeluk diriku. Mungkin dia sangat rindu kepadaku sama seperti aku merindukan dirinya. Sesekali juga aku meraba-raba pahanya karena aku sekarang sangat begitu bergairah.


Sesaat kemudian kami pun sudah sampai. Mawar turun dari dalam mobil, begitu pun aku. Niatku ingin mampir sebentar ke rumah.


"Mas, mau aku buatin minuman apa?" Tanya Mawar saat aku baru saja mendudukkan pantatku di sofa.

__ADS_1


"Hem.....yang ada saja." Jawabku.


Mawar lalu melangkah ke dapur untuk membuatkan ku minuman. Aku yang tak sabaran ingin memuaskan hasrat ku pun tiba-tiba langsung bangkit dari dudukku dan beranjak menuju ke dapur menghampiri Mawar yang sedang membuat minuman.


Aku langsung merangkul tubuh Mawar dari belakang, hingga membuat Mawar sedikit kaget.


"Mas!" Kaget Mawar.


"Mawar, mas udah gak tahan lagi!" Bisikku menggoda Mawar.


"Kalau begitu, haruskah kita sekarang melakukannya didapur?" Tanya Mawar semakin membuat hasrat ku menggebu-gebu.


"Sepertinya menarik, ayo kita coba!" Ucapku kemudian langsung membuka pakaian Mawar dengan beringas. Setelah membuka seluruh pakaian Mawar, aku langsung saja membuka pakaianku, namun hanya celana yang aku buka.


"Mawar sayang, ayo nungging!" Titahku sambil menepuk pantat kenyal miliknya.


Mawar pun menurut dan kini posisinya sudah menungging. Tanpa pemanasan yang lama, aku langsung saja memasukan rudal ku dari arah belakang menuju ke lembah kenikmatan miliknya.


"Akh......." Desah Mawar keenakan saat kumasukkan rudal milikku.


Aku benar-benar bergairah sekarang, tak ingin lama-lama, aku pun langsung memainkan rudalku dengan irama maju mundur. Tak hanya itu, kedua tangan kekar ku, ku gunakan untuk meremas gundukan kenyal miliknya.


"Mas ......sakit, punyamu kegedean!" Celetuk Mawar.


Dan benar saja, tak lama kemudian benih kehidupan keluar begitu saja didalam lembah miliknya.


Aku merasa sangat puas, karena hasrat yang ku pendam dari kemarin-kemarin kini sudah tersalurkan.


Habis main didapur kami pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing.


"Ini mas, diminum dulu!" Ucap Mawar meletakkan segelas jus apel dimeja tepat di hadapanku.


"Terimakasih, Mawar!" Ujarku kemudian langsung meneguk habis jus apel tersebut.


"Gimana, enak gak tadi?" Tanya Mawar yang duduk di sampingku.


"Enak banget, Mawar. Saking enaknya main sama kamu keluarnya langsung cepet. Coba kalau sama Sania, pasti keluarnya lama terus." Kataku membandingkan.


Mawar tersenyum bangga saat aku memujinya.


"Hem kok bisa lama kalau sama mba Sania?" Tanya Mawar penasaran.

__ADS_1


"Begini Mawar, aku main sama Sania itu sedikit kurang puas. Karena apa? Karena aku ilfil kalau lihat badannya yang makin hari makin melar!" Jelasku tak berperasaan.


"Hem....yang bener? Kalau begitu gimana dengan keputusan Mas yang waktu itu kita bicarakan?" Tanya Mawar dan aku seketika terdiam membisu.


"Mas, kamu kan dah tahu sendiri, kalau aku ini udah minta cerai sama mas Arif. Jadi aku-----" Belum selesai Mawar berbicara, aku langsung saja memotongnya.


"Sabarlah dulu, Mawar. Gak usah buru-buru, toh lagian kamu belum sah bercerai nya dari suami kamu." Ucapku tenang.


Mawar mendengus kesal. "Yasudah, tapi ingat mas. Kalau aku sudah resmi bercerai dari mas Arif, aku minta kamu harus menikahi aku." Ujar Mawar.


Aku pun hanya manggut-manggut agar tidak ada lagi perdebatan antara aku dan Mawar.


Hari sudah malam, aku pun memutuskan untuk pamit pulang kepada Mawar. Mawar sebenarnya tak ingin aku pulang, dia ingin aku menemaninya malam ini. Akan tetapi aku tidak bisa, aku takut jika Sania akan berpikir yang bukan-bukan nantinya. Akhirnya Mawar mengerti dan aku pun berlalu pulang.


Setibanya di rumah, aku langsung saja melenggang masuk mencari istriku yang tidak kelihatan batang hidungnya. Kemana dia? Biasanya jam segini dia akan memasak makan malam untukku.


"Tumben jam segini baru pulang, darimana saja?" Tanya istriku yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


"Ah.....sayang, aku......tadi habis mampir ke rumah sakit. Aku kira kamu disana." Jawabku jujur. Namun istriku hanya diam dan berlalu begitu saja menuju ke dapur.


"Kamu mau ngapain?" Tanyaku.


"Masak makan malam." Jawabnya singkat.


"Oh, kalau begitu mas mandi dulu ya!" Ucapku kemudian berlalu.


Setelah selesai menyegarkan diri, aku pun kembali lagi ke lantai bawah untuk makan malam. Terlihat istriku sedang menata makanan di atas meja makan.


"Wah, enak sekali kelihatannya!" Ucapku lalu duduk.


"Makanlah," titah istriku kemudian pergi.


"Lo sayang, kamu gak makan?" Tanyaku.


"Aku diet!" Balasnya.


Aku mengernyitkan dahi, "Tumben dia mau diet? Kenapa tidak dari dulu saja dietnya?" Tanyaku bergumam sendiri.


Entahlah, istriku sekarang sangat membingungkan.


*

__ADS_1


Sedangkan Widya saat ini, wanita itu menghentikan pencariannya karena hari sudah malam dan tubuhnya pun sudah mulai merasa lelah. Widya memutuskan untuk menyewa salah satu hotel berbintang untuk dirinya menginap sementara. Lalu keesokan harinya barulah ia merencanakan untuk pergi ke perusahaan dimana mantan suaminya bekerja.


__ADS_2