Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
13. Tunggu


__ADS_3

"Lo, kamu mau pergi kemana?" Tanyaku mengernyitkan dahi.


"Ke rumah sakit." Jawab istriku singkat.


"Ngapain, siapa yang sakit?" tanyaku lebih lanjut.


"Papa sakit, tadi pagi baru dilarikan ke rumah sakit."


"Hah, apa? Kalau begitu aku ikut." Ucapku.


Sania mendengus kasar kemudian berlalu begitu saja dan aku pun langsung saja mengekor dibelakang nya.


Akhirnya kami pergi dalam satu mobil yang sama. Sejak awal perjalanan, istriku hanya diam dan membuang muka menatap ke arah jendela.


"Kamu kok cuma diem aja daritadi?" Tanyaku merasa heran dengan sikap Sania kali ini.


"Ya lalu aku harus apa?"


"Ya.....gakpapa aneh aja rasanya, sejak tadi kamu diem aja gak kaya biasanya."


Sania tak menjawab, dan malam memutar bola mata malas. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit.


"Eh.....mba Sania....mas Dirga!" Sapa Mawar saat melihat keduanya datang.


"Gimana keadaan papa?" Tanya Sania menatap iba keadaan papanya.


"Hem....ya masih sama seperti tadi." Jawab Mawar.


Sania menghembuskan nafas pelan.


"Dimana mama?" Tanya Sania.


"Oh mama, mama pulang bentar ke rumah. Katanya ngambil pakaian buat nginap disini." Ujar Mawar.


Terlihat Mawar seperti orang yang sedang curi-curi pandang dengan Dirga.


"Mba....kalau begitu Mawar pulang dulu ya, soalnya Mawar disini sudah dari siang. Kasihan mas Arif dirumah, pasti kesusahan gak ada Mawar." Jelas Mawar.


"Ya sudah, kamu pulang saja. Biar aku yang menjaga papa." Kata Sania.


"Mawar, Kamu pulang gimana? Mau mas anterin?" Tanyaku mencari kesempatan dan kesempitan.


"Argh.....Mawar bisa pulang sendiri, Mas. Soalnya tadi Mawar bawa motor sendiri tadi." Jawab Mawar.


Aku pun menghela nafas, niatku ingin berduaan dengan Mawar kini gagal. Padahal aku sangat merindukan dirinya. Dan rasanya ingin sekali aku memeluknya.


"Ehem........" Sania tiba-tiba berdehem.


"Kalau begitu Mawar pamit dulu, mba....mas. Oh ya mba, bilangin ke mama nanti kalau Mawar pulang duluan!" Ucap Mawar dan Sania mengiyakan.


Belum lama Mawar berlalu, tiba-tiba Dirga meminta izin kepada Sania untuk membeli kopi di kantin. Namun belum juga Sania menjawab, Dirga langsung berlalu begitu saja.

__ADS_1


Sania pun hanya terkekeh kecil, ia tahu maksud dari suaminya yang seperti itu. Lalu Sania pun meminta kepada Lalita anaknya untuk menjaga sebentar sang kakak.


"Mawar......" Panggil Dirga berlari menghampiri Mawar dengan nafas tersengal-sengal.


Mawar berbalik badan, ia tak menyangka jika Dirga akan menyusulnya.


"Mas Dirga? Ada apa?" Tanya Mawar.


"Mawar, mas Rindu kamu!" Ucap Dirga kemudian langsung memeluk erat tubuh Mawar.


Mawar melepaskan pelukan Dirga, ia takut jika ada Sania yang melihat mereka.


"Mas, ini tempat umum, bagaimana kalau mba Sania lihat?"


"Tapi mas rindu kamu. Kamu tenang saja, Sania tidak akan melihat karena ia sedang menjaga papa." Ujar Dirga.


Mawar tersenyum lebar, lalu ia pun langsung memeluk Dirga. "Mawar juga rindu, Mas." Ucap Mawar dengan nada manja yang dibuat-buat.


"Kapan kamu pulang, sayang. Mas udah gak tahan ini. Mas juga gak bisa jauh-jauh dari kamu." Kata Dirga sambil mengelus kepala Mawar.


"Sabar mas, paling besok lusa Mawar sudah pulang."


Dirga menghela nafas lega. Akhirnya pujaan hatinya akan pulang sebentar lagi. Jadi ia bisa memuaskan hasrat birahinya yang sudah lama menggebu-gebu.


Cekrek.......


Tanpa keduanya sadari, ternyata dari jauh ada Sania yang berdiri sambil memotret mereka yang sedang asik berpelukan mesra.


"Tunggu tanggal mainnya." Lirih Sania kemudian berlalu begitu saja.


Beberapa saat kemudian, Dirga balik kembali ke ruangan dimana papa Sania di rawat. Dirga menghela nafas, lalu menghampiri Sania yang sedang duduk disamping brankar.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Sania.


"Katanya ke kantin beli kopi, terus mana kopinya?"


Dirga seketika terdiam, dia bingung ingin menjawab dan beralasan apa. Karena sebetulnya ia tidak pergi ke kantin untuk membeli kopi, melainkan pergi menemui Mawar.


"Kenapa malah kelihatan bingung begitu?" Tanya lagi Sania.


"Argh......Sania, anu aku......" Dirga benar-benar kehabisan alasan kali ini.


Ceklek......


Pintu terbuka dan masuklah mama Sania. Dirga lalu menghela nafas lega, untung saja ada mama mertuanya datang. Kalau tidak bisa mati kutu dihadapan Sania.


"Sania....Dirga...."


"Mawar mana?"


"Ah, Mawar pamit pulang, Ma. Katanya kasihan Arif dirumah sendirian."

__ADS_1


"Oh, kalau begitu kamu sama Dirga kalau mau pulang, pulang saja. Biar mama yang jaga papa kamu."


"Tapi ma, kasihan mama sendirian disini." Ujar Sania.


"Ah sudah, gak apa-apa. Kalian pulang saja!"


Akhirnya Sania dan Dirga pun memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Masih seperti tadi saat berangkat, Sania hanya diam saja dan malah membuang pandangan ke arah ke jendela.


"Sayang....." Ucap Dirga membuat obrolan.


"Hem...."


"Kamu laper gak? Kita makan yuk!" Ajak Dirga.


"Aku tidak lapar!" Tolak Sania.


"Baiklah kalau begitu." Ujar Dirga.


"Tapi sayang, kalau aku ada salah. Kamu jangan diamin aku begini, dong."


"Lo, memangnya kamu merasa ada salah sama aku?" Tanya Sania.


"Bu-bukan begitu sayang, tapi mas perhatikan kamu hari ini kok diemin mas terus, cuekin mas terus..."


Sania membuang nafas kasar. "Sudahlah gak usah di bahas!"


Selang beberapa saat, mobil yang dikendarai kini telah tiba dirumah Sania turun dari mobil dan langsung membawa Lalita masuk ke rumah.


"Sania, kamu tidur dikamar kita kan malam ini?" Tanya Dirga.


"Iya," Lagi, jawaban Sania sangat begitu singkat.


"Ya sudah, kalau begitu antar Lalita dulu sama ke kamarnya." Ucap Dirga dan pria itu kemudian berlalu menuju ke kamar mereka.


Tak lama kemudian setelah Sania mengantar Lalita ke kamar. Sania masuk ke dalam kamar dan mendapati Dirga yang sudah berbaring diatas ranjang seperti orang yang sedang menunggu.


Dirga tersenyum saat melihat istrinya yang baru masuk kamar. Akan tetapi bukannya senyum balik, Sania justru menoleh saja tidak. Dia berjalan begitu saja, menuju ke arah ranjang lalu merebahkan dirinya dan menyelimuti dirinya dengan posisi tidur membelakangi Dirga.


Dirga merasa sedikit kesal, kenapa istrinya itu malah semakin acuh kepadanya?


"Sayang.....main yuk!" Ajak Dirga berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh sang istri.


"Apaan sih, Mas!" Sentak Sania.


"Mas pengen nih, ayo dong kita anu gituan..." Bujuk Dirga.


"Gak ada, aku capek, aku pengen tidur istirahat!" Tolak Sania mentah-mentah.


"Ah.....kamu gak boleh nolak sayang. Emang kamu mau jadi istri durhaka yang gak nurutin permintaan suami?" Tanya Dirga tanpa malu.


"Aku gak peduli, kalau kamu pengen gituan, gituan aja sana sendiri dikamar mandi!" Seru Sania.

__ADS_1


Dirga mendecih, ia tak habis pikir mengapa Sania malah membangkang kepada suaminya sendiri? Padahal melayani suami adalah kewajiban sang istri.


__ADS_2