Akhir Sebuah Pernikahan

Akhir Sebuah Pernikahan
7. Kedatangan Deris


__ADS_3

πŸ’š


Akhirnya kami pun pergi, istriku duduk di sampingku yang sedang menyetir, sedangkan Mawar duduk dikursi belakang bersama Lalita.


Sepanjang perjalanan suasana didalam mobil tampak hening dan sepi. Istriku, anakku, baik Mawar tak ada yang membuka obrolan karena mereka semua sibuk dengan ponselnya masing-masing.


"Kita kemana nih, ma?" tanyaku kembali memastikan tujuan.


"Ke pantai aja pa, kan sudah lama kita gak kesana." Jawab istriku.


Aku pun mengiyakan lalu satu jam kemudian kami sudah tiba pantai. Turun dari mobil, istriku langsung berkata kalau ia ingin ke toilet dulu untuk mengantar putri kami yang kebelet pipis sejak diperjalanan tadi. Aku pun hanya manggut-manggut.


Sampai punggung istri dan anakku tak terlihat, barulah aku menanyai Mawar.


"Mawar, apa maksud kamu tadi? Kenapa kamu berbohong, padahal aku sama sekali tak mengajakmu." Ucapku sambil memegangi lengannya.


"Ya kenapa memang, apa salahnya? Toh lagian mba Sania gak masalah kalau aku ikut." Jawabnya.


"Tidak ada yang salah, Mawar. Tapi sekarang aku hanya minta kamu untuk jaga sikap saja."


"Gampang, asalkan mas juga bisa jaga sikap mas didepan aku."


"Maksud kamu apa?"


"Jujur ya mas, aku gak suka lihat kamu mesra sama mba Sania. Aku cemburu, mas!"


Aku menautkan kedua alisku, sungguh gila ucapan Mawar kali ini. Dia cemburu pada Kakaknya sendiri.


"Mas ayo......" Panggil istriku serta anakku yang sudah kembali.


Kami pun akhirnya masuk ke wisata pantai tersebut dengan Mawar yang membuntuti dibelakang.


Wisata hari ini cukup begitu ramai, banyak orang yang berkunjung, maklum mungkin karena hari Minggu.


Cuaca kali ini begitu cerah, udara terasa lumayan dingin, tapi cenderung lebih terasa sejuk, sehingga sangat tepat untuk aku dan istri serta anakku berjalan-jalan santai dibibir pantai. Sesekali juga kami berlarian di hamparan pasir hitam keabu-abuan yang begitu terasa halus di telapak kaki.


Aku begitu sumringah ketika melihat istri dan anakku yang terlihat begitu senang dan ceria, yah meskipun hanya jalan-jalan ke pantai yang sudah sering kami datangi dulu. Tapi semua itu sudah membuat mereka bahagia.


Sementara aku sejak tadi tak melihat adanya Mawar. Kemana dia? Mataku pun berkeliling mencari sosoknya dan terlihatlah ia sedang berdiri didepan saung dengan kedua tangan terlipat didada. Tapi tatapannya begitu sinis dan tajam sehingga membuat sedikit takut.


Ku lihat lagi ke arah istri dan anakku, mereka masih sibuk berlarian sambil main air dibibir pantai. Aku pun menggunakan kesempatan itu untuk menghampiri Mawar.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatap seperti itu?" tanyaku.


Mawar menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Sepertinya disini aku sama sekali tak dianggap ada, benarkan?" tanya Mawar.


Duh apalagi ini Gusti, kenapa Mawar berbicara seperti itu?


"Aku tidak paham dengan yang kamu maksud,"


"Maksudku adalah, sejak awal kamu hanya sibuk dengan istri dan anakmu saja, tanpa memperhatikan aku sedikit pun." Jelasnya.


Seperti bumereng, aku serba salah menghadapi Mawar. Mawar sekarang malah semakin sensitif dan cemburuan. Bahkan dia membuatku tak bisa berkata-kata lagi.


"Lalu aku harus apa, Mawar?" tanyaku.


Belum menjawab pertanyaanku, tiba-tiba istriku dan anakku datang menghampiri.


"Mas......" Tegur Sania menatap heran aku dan Mawar yang saling berhadapan.


"Ah....iya Sania, ada apa?" tanyaku sedikit gugup.


Aku pun sejenak menatap Mawar, lalu aku pun menjawab kalau aku dan Mawar hanya membicarakan masalah pekerjaan di kantor. Untungnya istriku langsung percaya begitu saja.


"Kita makan yuk," ajak istriku dan aku pun mengiyakan.


Akhirnya merasa sudah puas melihat dan menikmati pemandangan pantai yang begitu indah, kami pun memutuskan untuk pergi mencari makan. Kebetulan didekat pantai tersebut ada sebuah restoran yang sangat terkenal. Lalu kami pun memutuskan untuk memilih restoran tersebut untuk mengganjal perut yang sudah terasa lapar.


Setelah selesai makan, kami pun bergegas langsung pulang karena hari sudah beranjak gelap. Didalam perjalanan pulang, terlihat anakku Lalita tertidur dengan sangat pulas, mungkin karena kelelahan. Sementara ku lihat Mawar, ia tampak membuang wajah kesalnya ke arah jendela.


Beberapa saat kemudian kami sudah sampai di rumah. Masuk kedalam rumah, langsung saja pergi kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh yang terasa penat.


*


Keesokan hari seperti biasa, sebelum pergi ke kantor, aku sarapan terlebih dahulu. Aku begitu menikmati makanan yang dimasak oleh istriku. Selain memiliki paras yang cantik, istriku itu memang jago dalam hal memasak.


"Mawar, kamu jadi pulang besok?" tanya istriku pada Mawar disela makannya.


"Iya jadi, Mba."


"Lalu kamu pulangnya bagaimana?" tanya lagi istriku lebih lanjut.

__ADS_1


"Yah, kalau gak naik bus ya naik Taxi, mba."


"Biar aku saja yang mengantar Mawar, kebetulan besok aku meeting ke luar kota. Dan kebetulan juga kan arahnya sama." Ujarku dan Mawar langsung saja menatap ke arahku.


"Iya boleh mas, kan kasihan juga kalau Mawar seorang diri naik kendaraan umum, takutnya terjadi hal-hal yang tak diinginkan." Jelas istriku yang begitu sangat perhatian pada Mawar.


"Berarti mas Dirga yang mengantar aku pulang besok?" Tanya Mawar memastikan.


"Iya Mawar, aku akan mengantarkan mu." Jawabku.


Setelah selesai sarapan, aku dan Mawar pun pamit kepada Sania untuk berangkat ke kantor. Kali ini tak ada cium kening yang kuberikan kepada Sania, karena aku takut jika Mawar akan marah nantinya.


"Mas, kamu melupakan sesuatu?" tanya istriku dan aku pun sudah paham apa yang ia maksud.


"Ah.....Sania aku buru-buru, jadi aku harus pergi dulu!" ucapku berbohong.


Dan untung saja Sania bisa mengerti walaupun wajahnya terlihat sedikit bingung.


Sesampainya dikantor aku langsung saja berkutat dengan berkas-berkas penting yang harus aku selesaikan hari ini. Dan tak terasa waktu berjalan dengan cepat sehingga jam sudah menunjukan pukul satu siang, tapi aku masih saja sibuk dengan pekerjaanku.


Ceklek......


Suara pintu yang menandakan seseorang masuk ke dalam ruanganku dan membuat aku sedikit kaget karena yang masuk tidak meminta izin terlebih dahulu.


"Hai........bro!" Sapa lelaki yang baru masuk itu yang tak lain tak bukan adalah Deris, sahabatku.


"Bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanyaku.


"Hah, seperti sama siapa saja!" ujar Deris.


"Kapan kamu kembali kesini?" tanyaku ya karena memang Deris sudah hampir dua tahun ini berada di luar negeri.


"Baru saja, baru dua Minggu." Jawabnya.


"Kenapa, kamu merindukanku?" Goda Deris.


"CK, merindukanmu? Itu terdengar sungguh menjijikan bagiku." Ucapku yang merasa geli mendengar kata-kata yang dilontarkan Deris padaku.


"Tidak usah gensi untuk mengakuinya. Oh ya bagaimana dengan kabar Sania dan juga Lalita?" tanya Deris yang kini sudah duduk berhadapan-hadapan dengan aku.


"Yah, baik-baik saja, sama seperti dulu. Kapan-kapan datanglah ke rumah!" ujarku.

__ADS_1


__ADS_2