
..."🌱"...
*Kringggg
Semua siswa sudah masuk ke kelas masing masing, Aksa duduk disamping seorang remaja yang selalu menarik perhatian wanita karena ketampanannya bahkan hampir semua wanita di sekolah ini mengenalnya. Ia biasa dipanggil Raiyez. Tak hanya tampan saja, ia tampaknya adalah anak yang cukup ambis dan cukup pintar dalam hal pelajaran maupun olahraga, bisa dibilang ia nyaris sempurna. Aksa ingat dengan kata kata gurunya pada saat ia baru saja masuk ke masa SMA.
......"Anak anak, kalian sudah dewasa. Gunakan waktu kalian untuk belajar, hindari hal yang tak di perlukan. Tujuan kalian sebagai murid hanya untuk belajar." Ucap dari guru di sekolah SMA Aksa.......
Untuk mengingatnya, Aksa mencatat hal hal penting yang dibicarakan oleh guru di diary harian miliknya. Ia sudah mendapatkan 3 buku diary selama perjalanan hidupnya. Yaitu diary SD, diary SMP, dan kini ia baru saja membuat buku harian yang baru yaitu Diary SMA. Aksa harus bisa bersaingan dengan teman teman nya walaupun bagi Aksa sangat mudah untuk mengalahkan mereka, tetapi Cherlin dan Raiyez tak dapat dianggap remeh sebagai rival dalam berkompetisi di bidang pelajaran. Telebih lagi rumor tentang kepintaran mereka juga yang diluar batas siswa SMA.
***
Edwin melakukan aktivitas pekerjaan kantor seperti biasanya, namun kini ia memiliki seorang assistan, yang ternyata merupakan mantan ketua kelas yang dulu pernah membulynya yaitu Defiyan. Edwin sangat kasihan saat melihat teman nya butuh pekerjaan, walaupun masa lalu Defiyan yang begitu buruk terhadapnya. Ia meimilih untuk menerima Defiyan sebagai pegawainya dan membiarkan masa lalunya hilang begitu saja.
Semua pekerjaan yang Defiyan kerjaan selalu menuai hasil yang bagus, hal itu juga yang membuat Edwin yakin bahwa ia cocok untuk menjadi bagian dari perusahannya. Hari ini Edwin berangkat lebih pagi dari biasanya, di depan kantor terlihat seorang tukang bersih bersih sedang menyapu halaman kantor yang dipenuhi oleh dedauan yang jatuh.
"Wah, semangat ya pak bersihin nya" Ucap Edwin kepada tukang bersih bersih tersebut.
"Eh bapak dateng pagi ternyata, siap pak pasti bersih kalo saya yang bersihin." Balas tukang sapu tersebut sambil tertawa.
__ADS_1
"Yasudah, saya masuk dulu ya." Ucap Edwin kembali seraya melangkahkan kakinya menuju ke dalam kantornya.
Tak lama setelah ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke kantor, Defiyan ternyata datang lebih awal juga. Edwin kagum melihat Defiyan yang memiliki semangat bekerja di kantornya dan siap untuk meringankan tugas tugas Edwin, agar dirinya bisa bersantai bersama keluarga Klause dirumah tercintanya. Sayangnya hari ini seperti akan menjadi hari yang tidak baik baik saja di kantor Edwin. Beberapa uang simpanan di kantor nya mendadak hilang.
Kerugian yang didapat pasti akan berdampak kepada kantor. Edwin yang terkejut karena tiba tiba uang simpanan kantornya hilang, ia segera bertanya kepada Defiyan yang datang terlebih dahulu ke kantor dan ia satu satunya yang baru datang. Kekagumannya seketika berubah menjadi rasa curiga, Edwin curiga kepada Defiyan, karena semenjak ia datang ke perusahaan pasti ada kejadian kejadian yang membuat rugi perusahaan padahal ia telah menjadi orang terpercaya Edwin semenjak ia masuk ke dalam perusahaan ini dua tahun yang lalu.
"Yan, Saya mau tanya sedikit.." Ucap Edwin
"Siap, nanya apa?" Tanya Defiyan kepada bosnya
"Kamu lihat uang simpanan kita tidak ya, saya pusing banget kalo gini, uang simpanan perusahaan hilang. Harusnya di brankas ini masih ada dan tak ada yang tau sama sekali kode dari brankas ini selain semua orang di perusaahan kita." Jelas Edwin.
"Bukan begitu Def, tapi belakangan ini sebelum kamu datang kesini, uang simpanan selalu aman, tapi sejak dua tahun kedatangan mu baru ada kejadian begini. Kejadian ini bikin saya pusing banget." Ucap Edwin kepada Defiyan.
"Kamu emang masih menyimpan dendam sama saya Win, katanya sudah mempercayakan semua tugas sama saya dan mengangkat saya jadi asistan, kirain itu bakal bikin kamu bisa percaya sama saya. Saya kecewa sama kamu Win." Kata Defiyan dengan wajah yang masih kesal
"Def, tolong sekali lagi, jujur saja saya gaakan marah sama kamu, saya teman lama kamu dan disini saya cuman mengharapkan kamu bicara jujur, sudah itu saja yang saya minta ga lebih, jadi jawab!!" Ucap Edwin yang tampaknya mulai kesal terhadap Defiyan.
"Maksud kamu apa sih Win!!" Defiyan Semakin kesal dan marah.
__ADS_1
"TOLONG JUJUR!!" Ucap Edwin yang nadanya juga ikut semakin keras.
"YA YA, SAYA YANG SELAMA INI MENGAMBIL UANG UANG SIMPANAN, Karena yang selama ini saya ambil sedikit dan tidak ketahuan, makanya saya berinisiatif untuk mengambil lebih banyak kemarin, tapi sayangnya sepertinya kamu curiga dan sudah merasa bahwa saya pelakunya, tapi memang benar saya pelakunya, lalu kamu mau apa pecundang sekolah?." Ucap Defiyan kepada Edwin sambil tertawa.
Tawa Defiyan yang sangat familiar di telinga Edwin kembali, nada tertawa nya saat ini, sama seperti nada tawanya waktu membulinya. Ia seakan dipenuhi oleh rasa kebahagiaan diatas penderitaan yang dirasakan oleh orang lain.
"Kamu benar benar kelewatan Defiyan, saya sudah mempercayakan kamu sebagai asisten dan ternyata selama ini kamu sudah mengambil uang simpanan kantor." Balas Edwin sambil mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Defiyan.
"Baiklah kali ini aku memaafkanmu. Tolong pergi dari hadapanku atau aku akan mengahancurkan mu dengan luapan amarahku saat ini." Ucap Edwin yang memaafkan kejahatan yang dilakukan Defiyan selama ini dan lebih memilih untuk bersabar.
"Apa? Menghancurkanku? Cukup lucu Edwin, tapi sebelum kamu melakukan itu, aku akan menghancurkan keluargamu termasuk anakmu. Hingga tak ada lagi seseorang di hatimu yang berharga. Terimakasih telah memberiku pekerjaan selama dua tahun ini, aku sudah lumayan mendapatkan hartamu dengan sedikit demi sedikit mengambil simpanan kantormu Hahaha." Jelas Defiyan.
Edwin yang sudah menahan amarahanya dan mencoba meredamnya tiba tiba emosinya makin meluap. Ia mengepalkan tangannya dan dengan cepat sebuah tinjuan melayang kearah kepala Defiyan, hingga membuat hidungnya mengeluarkan darah.
"Cepat PERGI, ATAU INGIN KU HABISI DISINI?" Ucap Edwin dengan marah yang bersiap untuk meninjunya kembali
"Sigh" Balas Defiyan dengan tangan yang menutupi pendarahan di hidung. Lalu ia berjalan melangkah keluar dari kantor Edwin. Saat tepat di depan pintu kantor, Defiyan membalikan badannya dan melihat kembali ke arah Edwin.
"Ingat saja, suatu saat aku akan menghancurkan keluargamu Edwin Klause, hingga tak ada kebahagiaan yang pantas kau dapatkan dari sejak sekolah hingga sekarang selain ketakutan." Ucap Defiyan dengan mengarahkan tangannya ke arah Edwin.
__ADS_1
"Cobalah kalau bisa, aku kini bukanlah seorang pengecut seperti dahulu, aku akan tak akan ragu membunuhmu jika keluarga ku sampai hancur karena mu." Balas Edwin kepada Defiyan yang pergi meninggalkan kantor.