Aksa Yang Jenius

Aksa Yang Jenius
Kerinduan Aksa


__ADS_3

..."🌱"...


Graciel terbangun dari tidurnya, saat matanya terbuka, ia melihat Aksa yang sedang melihat foto kenangan keluarga Klause dengan menjatuhkan air matanya. Hati Graciel tersentuh melihat seorang anak kecil tersebut yang rindu dengan hadirnya sosok ibu. Graciel pun ikut sedih karena tak berhasil menutupi kesedihan Aksa akan rindunya sosok sang ibu. Hatinya seakan merasakan apa yang dirasakan oleh Aksa.


Graciel mendatangi Aksa yang sedang meratapi foto kenangannya itu. Ia berusaha menghibur hati Anak tuannya yang sedang dalam kesedihan. Bagaimanapun Aksa seperti anaknya yang harus di sayangi dan di hormati.


"Aksa yang manis... Jangan sedih gitu dong nanti manis nya hilang." Ucap Graciel menghibur Aksa.


Aksa tak menjawab, matanya terpenjam dan air matanya masih terus menerus berjatuhan.


"Aksa.." Ucap Graciel dengan pelan


"Maaf kak, aku keinget sama sosok ibu aja." Ucap Aksa yang terus menerus menjatuhkan tetesan air mata.


"Ututut, anak manis gaboleh nangis dong, Aksa kan anak yang kuat hebat, ibu pasti bangga punya anak kaya Aksa." Balas Graciel


Graciel mengambil tisu yang berada di dekatnya, lalu mendekati Aksa.


"Air matanya di lap dulu ya manis, biar sosok gantengnya kembali lagi." Ucap Graciel yang mengelap air mata Aksa.


Setelah itu Graciel mengelus kepala Aksa dengan sangat perlahan dan lembut, Aksa sepertinya merasa nyaman akan hal yang di lakukan oleh Graciel. Kesedihan Aksa sepertinya sudah hilang dan kini senyuman mulai nampak berseri diwajahnya. Graciel ikut tersenyum melihat Aksa yang kesedihannya hilang. Mereka saling tersenyum dengan menatap satu sama lain.


"Terima kasih kak selama ini sudah menemani aku dan merawat aku." Ucap Aksa


"Sama sama, kakak senang bisa merawat Aksa hingga Aksa sudah sebesar ini dan menjadi anak yang pintar." Balas Graciel


"Yasudah kak, aku kembali ke kamar dulu ya." Ucap Aksa


"Iya Aksa, main HP nya jangan sampai ketiduran lagi ya.." Balas Graciel kembali


"Hahaha siap." Jawab Aksa sembari berjalan menuju kamarnya.


Aksa kembali kekamarnya dan suasana dirumah itu tampak kembali tenang. Graciel berpikir untuk menyiapkan hidangan makan malam, agar saat bosnya pulang nanti, makanan sudah siap di atas meja. Tugas Edwin sepertinya tampak tak pernah usai. Setiap pekerjaannya satu selesai pasti selalu datang pekerjaan lainnya.


Ia terlalu bersemangat jika melakukan suatu pekerjaan dan terkadang lupa akan kesehatan dirinya sendiri. Padahal jika ia sakit, ia terpaksa harus meninggalkan banyak pekerjaannya. Edwin tak pernah memikirkan hal itu, selagi dia bisa bekerja maka dirinya harus bekerja keras. Demi Aksa walaupun cintanya kepada Aksa tak nampak nyata. Ia mempercayakan semuanya kepada Graciel pengasuh Aksa.

__ADS_1


Tapi hari ini pikiran Edwin tampak berbeda, sudah waktunya ia memberhentikan Graciel karena Aksa sudah tumbuh menjadi besar dan tampaknya tak butuh lagi diasuh oleh Graciel. Ia berencana saat pulang nanti akan membicarakannya kepada Graciel. Edwin sudah memikirkan rencana hang dia buat matang matang. Dan sudah siap tuk menerima resiko dari rencananya tersebut.


Semenjak kepergian istrinya, Edwin sering khawatir terhadap kesehatan mental Aksa. Walaupun Graciel hadir menemaninya, terkadang Aksa sering bertanya kepadanya bagaimana sosok ibunya yang katanya sangat menyayanginnya. Edwin mengerti bahwa Aksa tumbuh dewasa melebihi anak anak lainnya. Bukan tentang tinggi badan maupun besar ukuran tubuh melainkan tentang dewasa pemikiran.


Tampak malam pun tiba, gelap sudah mulai menaungi awan yang terang. sang fajar sudah kembali berputar digantikan oleh sang rembulan. Suara burung gagak terdengar dari kejauhan. Jalanan yang biasanya dipenuhi keramaian sudah tampak sepi. Sebuah mobil datang dengan lampu yang begitu terang dan berhenti di depan gerbang rumah keluarga Klause.


Pak Sani sang sulir sekaligus penjaga kediaman Klause membuka kan pintu untuk mobil yang datang tersebut. Mobil itu pun masuk kedalam dan pintu mobil itu pun dibuka, tampak seorang pria turun dari mobil tersebut dan berjalan menuju pintu rumah Aksa.


*Ting Tung


Suara bel berbunyi, Graciel yang tengah bermain bersama Aksa menghentikan permainannya sejenak.


"Bentar ya Aksa itu sepertinya ada orang di depan." Ucap Graciel


"Siap Kak." Balas Aksa


Graciel beranjak dari tempat ia bermain bersama Aksa lalu pergi menuju ke bawah untuk membuka kan pintu karena sepertinya dibawah ada tamu.


Pintu itu pun dibuka oleh Graciel dan pria itu tersenyum dan berkata kepadanya.


"Eh tuan, sama sama, oiya makan malam sudah siap tuan." Balas Graciel


Pria itu adalah Edwin yang baru saja pulang dari bekerja dan ia bergegas masuk untuk mengganti pakaiannnya dan segera pergi untuk makan malam.


Aksa yang mendengar suara ayahnya langsung menyusul kebawah dan dengan ekspresi senang ia segera berlari keluar kamar.


"AYAHHHHH!!" Teriak Aksa


"Aksa jangan buru buru lari di tangga nanti kamu terjatuh." Ucap Graciel


Aksa menghiraukan ucapan Graciel dan ia tetap berlari di tangga tersebut.


"Ayah mana kak?." Tanya Aksa kepada Graciel


"Tadi lagj ganti baju." Ucap Graciel

__ADS_1


Tampak pintu kamar Edwin terbuka dan Edwin muncul keluar dari kamarnya dan berjalan menuju Graciel dan Aksa.


"Hahaha Aksa kangen ya sama ayah." Ucap Edwin


Aksa kembali berlari menuju ayahnya, Edwin lalu melebarkan tangannya seperti ingin memeluknya. Aksa datang ke pelukan Edwin dan kerinduan Aksa terhadap ayahnya sepertinya tak dapat dihilangkan. Dekapan Edwin adalah dekapan yang paling nyaman bagi Aksa. Graciel melihat dari kejauhan dengan penuh haru.


"Aksa sudah makan malam belum?." Tanya Edwin


"Belum, tadi abis main bareng sama kak Graciel, seru banget." Ucap Aksa


"Yasudah ayo kita makan, tadi kak Graciel sudah menyiapkan makanan yang enak untuk Aksa, jadi keburu dingin kalo kita engga makan." Jelas Edwin


"Oh iya Graciel ikut makan ya." Ucap Edwin yang mengarahkan matanya kepada Graciel dengan tersenyum


"Baik tuan" Balas Graciel


Mereka bertiga pun sama sama pergi ke meja makan untuk makan malam bersama. Aksa dan Edwin duduk duluan di meja makan sedangkan Graciel menyiapkan piring dan nasi untuk mereka. Makan malam pun siap dimakan.


"Yah, kok pak Sani ga diajak?." Tanya Aksa


"Oiya maaf kelupaann haha untung Aksa ingetin." Balas Edwin


"Yaudah pah aku panggil pak Sani dulu ya." Ucap Aksa


"Biar kakak aja yang panggil, Aksa makan aja bareng sama tuan." Balas Graciel


"Gausah kak, biar aku aja" Aksa menjawab


"Aksa-aksa keras kepala, tapi tujuan mu baik itu yang bikin ayah suka sama kamu nak, yasudah biarin aja dia Graciel, kamu disini aja."


Aksa pun turun dari kursi makannya dan pergi menuju kebawah untuk memanggil pak Sani.


"Graciel, sebenernya ada yang mau saya omongin sama kamu." Ucap Edwin kepada Graciel


...🌱----------------🌱...

__ADS_1


__ADS_2