
..."🌱"...
"HAAAAAAA." Teriak Edwin yang kesabarannya sepertinya telah habis.
"Dia mempermainkanku, apa benar dia akan menghancurkanku... Apa benar ia akan menghancurkan keluargaku... APA BENAR DIA AKAN MENGHANCURKAN SELURUH HIDUPKU!!" Teriak Edwin kembali di ruangan yang dipenuhi barang itu.
Ia lalu menyobek kertas yang di genggamnya itu dengan kuat dan menyobeknya hingga tersisa remahan remahannya saja.
"Kesabaran ku telah habis." Ucap Edwin dengan nada sedih serta pelan dan menundukan kepala.
"Apa aku salah memecatnya, tetapi uang kantor ini akan habis jika terus mempekerjakannya." Ucap Edwin yang mulai lelah.
"Aku harus apa.." Edwin yang terus berbicara kepada dirinya sendiri.
"Aku mampu untuk mengganti uang simpanan itu, tapi aku tak mampu untuk menahan semuanya yang akan ia hancurkan kepada ku." Ucap Edwin.
"Rani... Andai kamu masih ada, pasti kamu akan menolongku lagi." Ungkap Edwin yang kembali teringat akan istrinya. Kepalanya menunduk kebawah, air matanya jatuh ke lantai ruangan yang dipenuhi barang barang itu.
Tiba-tiba teleponnya membunyikan nada dering panggilan.
*(Suara Nada Dering)
"Aksa..." Ucap Edwin
__ADS_1
Ternyata yang menelpon ponselnya adalah Anaknya. Edwin pun mengangkatnya.
"Ayah" Ucap Aksa di ponsel.
"Iya nak?" Tanya Edwin sambil membersihkan air matanya dengan tangannya.
"Aku sudah dengar dari bunda katanya ayah bentar lagi pulang, tapi dari tadi kayanya ayah ga sampe sampe, aku jadi khawatir terhadap ayah." Jelas Aksa yang bingung dan khawatir, Edwin tak sampai sampai sejak tadi memberitahukan kepada Graciel.
"Aku tahu yah, pasti ada masalah yang menyebabkan ayah pulang terlambat, jadi tolong ceritakan ke Aksa." Tambah Aksa.
"Tidak nak, ayah baik baik saja." Ucap Edwin mengelak bahwa dirinya sedang di teror oleh masalah.
"Aksa sudah besar yah, sudah seharusnya aku bisa membantu ayah dalam mengatasi masalah. Jadi tolong percaya pada Aksa dan ceritakan semua. Selama ini Aksa tau semua masalah yang ayah simpan sendiri walaupun ayah tak menceritakan semuanya. Tapi suara nada bicara ayah tak pernah berbohong ketika sedang menghadapi masalah. Aksa tau ayah kuat dan hebat, tapi Aksa ga mau ayah berjuang sendirian." Jelas Aksa yang sudah hafal dengan nada bicara ayahnya.
Sejenak Edwin berpikir, sejak dahulu ia menganggap Aksa sebagai anak yang jenius di usianya. Ia mampu menyelesaikan semua masalah baik dalam pelajarannya maupun masalah non akademiknya. Sekarang ia sudah memasuki masa SMA, sudah seharusnya ia berbagi keluh kesah kepada anaknya. Agar mengetahui perjuangan kerasnya dunia dewasa.
Ia lalu tersenyum dan kembali fokus kepada Aksa yang berada di teleponnya.
"Maaf nak, selama ini ayah tak pernah sama sekali menceritakan masalah untuk Aksa, ayah tak mau kamu banyak pikiran dan beban karena ayah yang bodoh ini." Ucap Edwin kepada Aksa kembali.
"Aksa tau kok kalo ayah tidak mau cerita ke Aksa karena takut Aksa menanggung beban yang berat. Tetapi hati Aksa lebih berat lagi, bisa menikmati harta ayah yang melimpah tetapi melihat ayah berjuang mati matian menghadapi semua masalah tanpa bisa Aksa bantu sama sekali." Balas Aksa.
"Baiklah nak, memang sudah waktunya ayah berbagi luka, ayah akan ceritakan semua hal yang terjadi belakangan ini di kantor ayah. Ayah berharap juga dengan solusi dari Aksa, walaupun Aksa belum terlalu dewasa tapi ayah yakin pasti Aksa bisa memberikan solusi dalam persoalan ini." Ucap Edwin kepada Aksa.
__ADS_1
"Baik ayah aku akan melakukan semampuku, akan ku dengarkan cerita ayah daei awal hingg akhir secara seksama." Ucap Aksa.
Edwin pun menceritakan semua hal yang terjadi di kantornya kepada Aksa tanpa ragu. Kini kepercayaan terhadap anaknya mulai tumbuh. Perlahan lahan ia menjelaskan situasi yang terjadi di kantornya, Aksa mendengarkan dengan seksama dan begitu antusias untuk bisa membantu ayahnya.
Setelah beberapa menit menjelaskan masalah secara singkat, Edwin berbicara mengenai hal yang terjadi padanya baru saja.
"Aksa, ban mobil ayah kempis makanya ayah tak sempat pulang tepat waktu dan disaat itu ada sebuah kertas di ban yang ditinggalkan oleh seseorang yang ayah ceritakan tadi. Saat ini ayah sedang berada di ruangan barang untuk mengambil pompa yang biasanya ayah siapkan tetapi pompa itu sudah digantikan oleh kertas itu lagi. Pelaku yang melakukan hal itu adalah si pengkhianat itu. Saat ini ayah sedang bingung bagaimana caranya mengatasinya, ayah ingin pulang naik kendaraan ojek online tetapi ayah tak mau meninggalkan mobilny." Jelas Edwin secara rinci kepada Aksa.
"Ayah-ayah kenapa ayah harus panik, pikiran ayah saat ini benar benar tidak jernih dan hanya terfokus kepada pengkhianat itu. Seharusnya ayah berpikir jernih sejak tadi." Ucap Aksa yang membalas penjelasan Edwin.
"Maksud kamu Aksa?" Tanya Edwin yang bingung akan ucapan Aksa.
"Dirumah kan ada pak Sani, kenapa tidak menyuruhnya untuk menyusul ayah dengan membawakan pompa dari rumah?" Tanya Aksa untuk membuka pemikiran dingin Edwin kembali.
"Oh, kamu benar juga, kenapa ya aku bodoh sekali sampai tak berpikiran kesana. Benar sekali Aksa, harusnya ayah memikirkan masalah ini dengan kepala dingin, dan harus bersabar dalam menerima setiap rintangan." Jelas Edwin di telepon.
"Haha ayah, yasudah aku bilangin dulu ke pak Sani, ayah tunggu aja dikantor. Dah mulai malam juga ini. Oiya kalau bisa hati hati terhadap si penglhianat itu. Bisa jadi dia masih ada di dalam kantor yah.." Ucap Aksa yang memberi peringatan kepada Edwin untuk tetap waspada.
"Siap bosss." Balas Edwin lalu mematikan ponselnya.
("Aksa ada benarnya juga, bisa jadi dia masih ada di sekitar kantor ini. Aku harus lebih waspada.")
Edwin pun mengadakan perkumpulan mendadak dan menyuruh staff dan karyawan yang masih bekerja disana untuk lebih berhati hati dan waspada terhadap masalah baru yang mengancam kantor. Setelah melakukan pertemuan, Edwin memindahkan berangkas uang simpanan nya dan mengubah kode yang hanya diketahui olehnya. Tempat berangkas kali ini hanya ia yang boleh mengetahuinnya.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa lama dan terasa tak ada lagi ancaman di kantor. Pak Sani tiba di depan kantornya dengan membawa mobil kedua Edwin. Ia membawakan pompa seperti yang di minta oleh Aksa. Akhirnya setelah hal hal yang tak diingkan terjadi, ban mobil Edwin berhasil di isi angin kembali. Kini ia dapat pulang tanpa meninggalkan mobil kesayangannya di kantornya dan kini ia sudah mulai percaya bahwa, semua masalahnya sepertinya dapat diatasi dengan saling memberi solusi antara anggota keluarga.
...🌱----------------🌱...