
..."🌱"...
Pelajaran pun akhirnya dimulai...
"Horeee" Teriak anak anak yang mendengar ucapan Bu Una
"Baiklah keluarkan buku kalian semua, kita akan menghitung jumlah apel yang akan diberikan oleh ibu ya." Ucap Bu Una
Dari tasnya terlihat Bu Una mengeluarkan tiga buah apel, lalu ia bertanya kepada muridnya
"Anak anak ada yang tahu jumlah apel ini ada berapa?." Tanya Bu Una
"Tiga bu." Teriak semua murid kecuali Aksa.
Lalu Bu una nampak wajahnya tersenyum, lalu kembali mengeluarkan sebuah apel. Tetapi yang ditanyakan oleh Bu Una berbeda dengan sebelumnya. Bukan tentang penjumlahan maupun pengurangan.
"Jika ada tiga buah apel kecil melawan sebuah apel yang besar apakah dia akan menang." Tanya Bu Una
Satu kelas tampak hening, pertanyaan ini tidak masuk akal bagi anak yang duduk di bangku kelas satu SD. Tetapi tak disangka, Aksa mengacungkan tangannya yang menandakan ia mampu untuk menjawabnya.
"Saya Bu." Ucap Aksa
"Baik Aksa Silahkan Menjawab." Balas bu Una
"ini bukan soal menghitung, tetapi ini adalah soal pemahaman, sebuah apel yang besar tak akan tumbuh begitu besar tanpa ia tumbuh kecil, jika di bandingkan kekuatannya jelas saja apel yang besar akan menang karena pengalamannya yang begitu luas. Sama halnya ketika kita melihat satu orang dewasa yang melawan tiga anak SD." Jelas Aksa
Senyuman manis Bu Una keluar dari wajahnya dan begitu bangga dengan jawaban Aksa yang paham mengenai suatu makna. Dia bukan anak kecil biasa, melainkan anak yang memiliki kepintaran di atas rata rata. Cherlin melihat Aksa dengan kagum seperti paham yang dimaksudkan oleh Aksa. Ia sampai ternganga entah tahu maksud dari perkataan Aksa atau hanya sekedar kagum saja.
__ADS_1
*KRINGGGG
Bell istirahat berbunyi, tampak semua anak berlarian keluar kelas. Aksa masih duduk dikelas merapihkan buku bukunya. Ia duduk di pojok kelas dan memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahatnya dengan memakan bekal buatan kak Graciel, yang sudah pasti enaknya tak ada duanya. Kelas sudah sepi dan Cherlin juga sepertinya sedang beristirahat bersama temannya yang lain.
Aksa membuka tasnya lalu mengambil bekal yang dibawakan oleh kak Graciel.
"Hari ini kira kira bekal apa yang dibawakan oleh kak Graciel." Tanya Aksa kepada diri sendiri.
Ia lalu membukanya, dan ternyata bekal yang di sediakan oleh Graciel adalah makanan kesukaannya yaitu sayur sop. Aksa tersenyum dan bersyukur kepada tuhannya karena telah memberikan ia nikmat untuk memakan makanan kesukannya. Aksa lalu berdoa sebelum makan agar ia tak pernah lupa akan nikmat tuhan.
Aksa didik oleh Edwin dengan baik, hingga ia tumbuh menjadi seseorang yang religius dan berjiwa baik lagi sopan santun. Walaupun ia tak memiliki seorang sosok ibu tetapi ia memiliki pembantu yang menyayanginya seperti keluarga sendiri. Edwin sangat sibuk bekerja tetapi tak pernah gagal dalam mendidik anaknya. Setelah berdoa Aksa memakan bekalnya dengan lahap.
Aksa menutup bekalnya yang sudah kosong, lalu memasukan kembali ke tas dan dari tas ia mengambil sebuah buku yang ber judul "Pahlawan Kelas."
Selain menyukai puzzle atau teka teki, Aksa juga menyukai cerita tentang pahlawan fiksi maupun non fiksi. Baginya cerita pahlawan pahlawan itu terlihat keren dan pemberani.
Aksa mulai membaca buku yang dibawanya hingga waktu istirahat pun berakhir. Cherlin yang baru saja dari istirahat menceritakan kejadian yang dialaminnya.
"Aksa tadi ada kakak kelas yang ribut di kantin lho!" Ucap Cherlin yang mendatangi Aksa lalu duduk di bangkunya.
"Gausa di liatin, kita masih kecil belum bisa jadi jagoan" Balas Aksa
"Ih tapi kan."
"Udah Cherlin, mending kita siap siap buat pelajaran berikutnya terus habis itu kita pulang." Potong Aksa sambil ternyum kepada Cherlin
Cherlin hanya bisa mengangguk dan mereka berdua bersiap siap untuk pelajaran berikutnya. Pelajaran di hari ini sangat seru dan menambah pengalaman bagi Aksa. Tak terasa hari ini cepat sekali berakhir, semua anak anak bersiap siap untuk pulang. Mereka secara kompak berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
*KRINGGGGG
Bell sekolah kembali berbunyi menandakan waktu pulang, Satu per satu anak di kelas Aksa keluar dengan bersalaman kepada Bu Una yang menjadi wali kelasnya. Aksa mendapat giliran paling akhir untuk keluar dari kelas. Saat semuanya sudah keluar tersisa Aksa sendirian di kelas dan ia pun berpamitan kepada Bu Una dan pergi keluar kelas. Saat kakinya beberpaa langkah setelah berpamitan kepada Bu Una. Tiba Tiba Aksa dipanggil olehnya.
"Nak Aksa, Boleh ibu bicara bentar." Ucap Bu Una.
Aksa menoleh ke arah bu Una dan membalikan badannya.
"Iya bu?." Tanya Aksa
"Nak Aksa bukan anak biasa, tak seperti anak SD Kelas 1 lainnya, melainkan anak yang diberi kelebihan, semoga kamu bisa sukses ya nak ketika besar nanti." Ucap Bu Una.
"Aku gapaham maksud ibu, maaf ya bu." Ucap Aksa yang sebenarnya paham maksud dari perkataan bu Una, tetapi pura pura tak mengerti.
Bu Una hanya tersenyum dan kembali berkata kepada Aksa.
"Yasudah, hati hati ya nak titip salam sama orang tua dirumah." Ucap Bu Una
"Siap bu." Balas Aksa yang keluar dari ruangan kelas itu dan menuju keluar gerbang.
Pak Sani sang supir biasanya sudah siap di depan gerbang sekolah Aksa sebelum bel berbunyi. Ia tak mau, tuan mungil kesayangannya itu menunggunya dengan lama di luar gerbang sekolah yang panas. Saat sedang menuju keluar gerbang, Aksa melihat dua kelompok anak kelas 4 sedang berkumpul di belakang gudang. Mereka seperti saling mentap sinis seperti ingin berkelahi antara satu sama lain.
Aksa yang merasa dirinya masih belum cukup untuk menghentikan mereka, ingin membiarkan saja. Tetapi ia berpikir jika ia tak menghentikannya akan ada korban dari kedua belah pihak dan orang tua mereka pasti akan bersedih melihat kelakuan anaknya. Aksa yang kelas 1 dapat berpikir tentang dampak dari pertarungan yang akan dilakukan itu, berbeda dengan mereka yang sudah beranjak memasuki kelas 4.
Aksa masih memantau mereka dari jauh sembari memikirkan rencana yang cocok untuk menghentikan mereka tanpa ia ikut terlibat di dalamnya. Aksa mengeluarkan kertas dari bukunya, lalu ia membentuk kertas tersebut menjadi sebuah topeng kertas. Setelah topeng berhasil dibuat, ia memakainnya dan penyamarannya tampak sempurna. Pertama tama ia mengamankan tas yang digendongnya ke tempat yang aman dan dekat dengan gerbang.
Tak boleh ada satu orang pun yang melihat tingkah lakunya. Dengan cepat Aksa melakukan aksinya. Saat rencananya sudah matang, Aksa bersiap untuk melakukan semuanya. Kedua kelompok masih saja saling ejek mengejek. Aksa berencana untuk memberikan mereka efek yang jera, saat memantau tiba tiba salah satu dari mereka melihat Aksa....
__ADS_1
...🌱----------------🌱...