Aksa Yang Jenius

Aksa Yang Jenius
Sudah Berakhir Graciel...


__ADS_3

..."🌱"...


Suasana menjadi hening di meja makan, Graciel menatap Edwin dengan tatapan yang serius, biasanya tuannya tak pernah bicara sepenting ini berdua dengannya. Ia tak tahu apa yang akan dibicarakan oleh tuannya tetapi terlihat dari wajah Edwin yang nampak cukup serius.


"Apa yang ingin tuan bicarakan?" Tanya Graciel


Saat menanyakan hal tersebut, terdengar suara Aksa dari bawah yang sepertinya sudah selesai melaksanakan tugasnya untuk mengajak makan pak Sani. Edwin terdiam dan tak menjawab pertanyaan Graciel seperti tak ingin Aksa mendengarkan perkataanya kepada Graciel. Walaupun Aksa seorang anak kecil tetapi tidak lah pantas untuk menyampaikan inj di depannya. Aksa masuk kembali ke dalam ruang makan yang didalamjya terdapat Graciel dan Edwin yang sedang menunggunya.


Pak Sani pun ikut menyusul ke ruang makan nanti setelah ia beres membersihkan mobil Edwin. Aksa melihat wajah ayahnya seperti sedang menahan sesuatu yang ingin diucapkan dan melihat wajah Graciel yang cukup serius menatapnya.


"Emm.. apa ada yang salah.?" Tanya Aksa kepada mereka berdua


Edwin menggelengkan kepalanya dan berkata kepada Aksa.


"Tidak kok nak, sini lanjut makan bareng ayah, Pak Sani mana kok ga bareng sama Aksa?" Tanya Edwin yang mengalihkan pertanyaannya.


"Katanya Pak Sani nanti nyusul yah makannya setelah selesai bersihin mobil." Ucap Aksa.


"Oalah yasudah Ayo kita makan duluan, ini buatan kak Graciel pasti enak kan Aksa?." Tanya Edwin


"Jelas yah kak Graciel the best pokoknya." Balas Aksa


Lalu mereka pun makan bersama dengan bahagia dan canda tawa yang ria seiring mereka memakannya secara bersama sama. Aksa melihat mereka seperti satu keluarga, kak Graciel sebagai sosok ibunya dan Edwin sebagai sosok ayah. Mereka sama sama baik kepada Aksa, mereka juga peduli dengan kondisi Aksa. Hal ini membuatnya bersyukur lahir di keluarga yang memiliki keperdulian lebih kepadanya dan kecukupan soal harta.


***

__ADS_1


Makanan yang mereka santap bersama sama akhirnya habis, sisa beberapa lauk pauk yang memang sengaja disisakan untuk pak Sani yang belum selesai mencuci mobil milik Edwin.


"Aksa, udah kenyang kan sekarang waktunya belajar ya sayang." Perintah Edwin kepada Aksa.


"Siap yah, kak Graciel temenin aku ya, ga seru kalo belajar sendirian" Pinta Aksa


"Baik Aksa, ayo kakak temani." Ucap Graciel


"Kak Graciel biarin disini dulu ya Aksa, Aksa kan sudah besar dan pintar untuk belajar sendiri." Ucap Edwin yang menghentikan Graciel.


"Baiklah ayah, aku belajar sendirian." Ucap Aksa dengan nada sedih.


"Jangan sedih Aksa nanti kalo kakak sudah selesai, kakak menyusul." Balas Graciel


("Pasti ayah akan berbicara sesuatu yang penting kepada kak Graciel, soalnya mereka hanya berbicara berdua, sepertinya aku harus menguping.") Gumam Aksa di dalam Hatinya.


"Sip anak ayah memang pintar." Balas Edwin


Aksa melangkah keluar dari ruang makan dan meninggalkan Graciel dan Edwin berdua di ruangan itu. Saat sudah sampai di luar ruangan, Aksa berhenti di dekat tembok yang tak jauh dengan ruang makan. Tujuannya agar Aksa dapat mendengarkan obrolan mereka yang tak boleh di dengar oleh siapa siapa termasuk Aksa. Obrolan yang akan dibicarakan sepertinya tampak akan lebih serius dari pada obrolan yang biasanya Edwin bicarakan kepada Graciel.


"Graciel.. Sekarang usia mu sudah memasuki 30 tahun, kamu telah setia menjadi pengasuh di keluarga kami yaitu keluarga Klause. Aku harus mengurus Aksa semenjak kepergian istriku..." Ucap Edwin yang membuka percakapan.


Graciel hanya menundukan kepalanya dan mendengarkan ucapan tuannya dengan penuh keseriusan.


"Aku tak salah dalam memilihmu menjadi orang kepercayaan ku dalam mengurus Aksa, Pekerjaan mu dikerjakan dengan sangat baik, hingga Aksa tumbuh besar menjadi seorang anak yang pintar. Senyuman nya yang dulu pernah hilang akibat kehilangan sosok ibunya, berkat adanya kamu senyuman itu kembali kepada dirinya. Terimakasih telah menjadi pengasuh di keluarga kami, apakah kamu merasa keluarga kami terlalu merepotkan bagimu? mohon Graciel menjawabnya dengan jujur." Tanya Edwin

__ADS_1


"Engga kok tuan.." Ucap Graciel sambil ternyum


"Justru saya malah senang dan beruntung bisa hadir di keluarga besar Klause ini. Saya bisa belajar apa arti dari keluarga sesungguhnya, dan kehadiran Aksa sangat menganggap saya sebagai bagian dari keluarga. Saya merawat Aksa hingga sekarang semenjak kepergian ibunya, karena itu saya mempelajari beberapa perasaan yang ada di dirinya. Dia anak yang kuat dan cukup hebat, sepertinya tanpa saya asuh sepertinya dia memang akan tetap menjadi anak yang cerdas dan berbakat." Tambah Graciel.


Edwin tersenyum mendengar perkataan Graciel, begitu pula dengan Aksa yang mendengarkan jawaban Graciel dari balik tembok di dekat ruangan makan tersebut. Tetapi tampaknya itu bukan menjadi inti dari pembicaraan malam di ruang makan ini. Edwin mengubah gimik wajahnya menjadi lebih serius. Sepertinya pembicaraan intinya baru akan dimulai.


"Maaf sebelumnya Graciel, Kita langsung ke inti dari pembahasannya saja. Sebenarnya tujuan saya memanggil kamu kesini untuk...." Ucap Edwin yang tiba tiba berhenti


"Untuk? Untuk apa tuan?" Tanya Graciel kepada Edwin.


"Huff" suara Edwin menghela nafas.


"Mengistirahatkan mu dari tugas ini dan memberhentikan mu selamanya dari keluarga Klause." Lanjut Edwin.


Keadaan ruangan makanan itu hening seketika, terang nya lampu terus menyinari mereka berdua dibawahnya. Graciel tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab perkataan tuannya. Hatinya seperti hancur seketika mendengar ucapan dari pemimpin keluarga Klause tersebut. Ia tak pernah menduga Edwin akan mengucapkan perkataan itu kepadanya.


Aksa yang mendengarkan langsung mengerti maksud dari perkataan Edwin. Hati Aksa yang mendengarkan pun ikut hancur ketika tahu bahwa pengasuh yang ia anggap seperti keluarganya sendiri di keluarkan dari rumah keluarga Klause itu. Ia pun tak percaya akan ucapan ayahnya yang tega mengeluarkan pengasuhnya.


Rintikan air mata keluar dari mata Graciel, suara tangisan perlahan muncul keluar dari mulutnya. Edwin yang melihatnya seperti tak tega, pengasuh yang ia percayai selama lima tahun lebih harus dikeluarkan olehnya.


"A- ada alasan tuan kenapa saya dipecat? Maaf apabila kerja saya kurang bagus, maaf jika saya tidak becus dalam melayani tuan. Tolong jangan pecat saya tuan, saya masih ingin bermain dengan Aksa. Dia sekarang menjadi salah satu bagian jiwa dari hidup saya." Ucap Graciel sambil mengeluarkan air mata yang terus bercucuran.


Edwin tak menjawab apa apa dan ia hanya berkata


"Sekali lagi Maaf" Ucap Edwin meninggalkan ruangan tersebut dan menyisakan Graciel sendiri diruangan itu tanpa memberi jawaban terhadap pertanyaannya.

__ADS_1


Saat Edwin melangkah kan kaki keluar ruangan, terlihat Aksa sedang ikut menangis di dekat tembok ruangan tersebut. Edwin terkejut melihat Aksa yang ternyata menguping pembicaraannya dan tidak mengikuti perintahnya untuk belajar di kamarnya.


...🌱----------------🌱...


__ADS_2