Aksa Yang Jenius

Aksa Yang Jenius
Pengkhianat Kerja


__ADS_3

..."🌱"...


Tak pernah menyangka orang kepercayaan terdekatnya akan mengkhianatinya dan membuat kantornya jatuh dalam jurang yang dalam. Defiyan yang sudah sering membantunya dalam mengatasi pekerjaan pekerjaan yang membuatnya menjadi mudah malah justru mengambil kesempatan untuk diam diam mencuri uang simpanan milik kantor. Padahal uang ini disimpan di berangkas oleh Edwin, hanya untuk keperluan keperluan kantor. Hatinya tak tenang saat bekerja dan dipenuhi oleh rasa kekesalan dan penyesalan.


"Kenapa aku menerimanya, kenapa aku malah membiarkannya menjadi orang yang ku percaya." Ucap Edwin kepada diri sendiri di dalam ruangannya yang sangat pusing memikirkan asistennya yang berkhianat kepadanya.


"Harusnya sejak lama ku tolak, dari dahulu dia selalu menyusahkan ku, kenapa malah aku membantunya." Ucap Edwin yang terus menerus menyesal kepada pilihan dirinya sendiri.


Terlebih lagi saat Edwin memaaafkan Defiyan, ia malah semakin menjadi jadi dan malah menantang untuk menghancurkan keluarga Edwin. Kondisi ini membuat Edwin menjadi semakin bingung, ia harus mengganti uang simpanan itu yang jumlahnya lumayan banyak untuk keperluan kantornya dengan uang pribadinya. Tetapi ia harus menghibungi Graciel terlebih dahulu untuk menggantikan uang itu.


Hari kian larut tetapi Edwin belum juga pulang dari kantor, Graciel menunggu dengan menonton televisi di ruang keluarga. Sedangkan Aksa berada di kamarnya yang tidak tahu sedang melakukan kegiatan apa, karena kamarnya sudah tertutup rapat dari dalam. Graciel khawatir Edwin terlalu kelelahan karena memikirkan masalah yang membuat kesehatannya menurun.


Graciel berharap semoga ketika suaminya pulang nanti ia dapat memberikan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah yang suaminya hadapi tersebut. Tetapi kenyataanya walaupun dua jam sudah berlalu sejak Graciel menonton televisi, Edwin belum juga kembali dari kantornya. Sampai akhirnya kesabaran Graciel pudar dan kekhawatirannya kepada suaminya semakin menjadi jadi.


Graciel beranjak dari sofa dimana ia menonton televisi. Lalu pergi mengambil ponselnya untuk menghubungi Edwin.


*putttt


Suara telepon Graciel yang menghubungi nomer suaminya,


*putttt


Masih saja ponsel itu berusaha menyambungkan panggilan.


Setelah beberapa kali menyambungkan panggilan, ponsel Edwin berkali kali berbunyi dan akhirnya membangunkan Edwin yang ternyata ketiduran di kantor akibat kelelahan dalam berpikir.


"Eh Graciel." Ucap Edwin yang baru bangun dari tidurnya.


"AYAH, Kamu baik-baik saja kan, kok sampai jam segini belum pulang, biasanya kamu kalau pulang malam, mengabari." Ucap Graciel yang khawatir terhadap Edwin

__ADS_1


"Ah iya maaf bun, ayah tadi ketiduran karena kelelahan, Staff kantor kayanya gaada yang berani bangunin ayah, karena mungkin kelihatannya tertidur pulas." Jelas Edwin


"Yasudah, jadi ayah pulang kapan?" Tanya Graciel kepada Edwin.


"Ini lagi bersiap untuk kembali kerumah dan bertemu istri dan anak tercinta." Tutur Edwin yang sedikit menggoda.


"Oiya, bagaimana dengan masalah yang tadi dibicarakan saat sore?." Tanya Graciel kembali.


"Nanti saja dibicarakan dirumah, sampai sekarang masalah itu kalau dipikirkan hanya membuat aku kelelahan." Jawab Edwin dengan nada yang merendah.


"Baiklah, Hati hati ya, aku tunggu di rumah dan siap untuk menyambut kedatangan tuan Klause." Canda Graciel kepada Edwin.


"Siap nona Klause." Edwin membalas candaan Graciel dengan tertawa kecil.


Setelah percakapan itu, panggilan pun terputus. Edwin menyiapkan dan merapikan berkas berkasnya lalu menyimpannya agar tak hilang saat dibutuhkan. Ia keluar dari ruangannya dan berpamitan kepada para staff-staff yang ada dikantornya. Ia pun menyalakan mobilnya lalu mengendarai menuju ke arah rumahnya.


Saat baru memulai perjalanan nya, tiba tiba ban mobil yang Edwin kendarai semuanya kempis. Ia sangat terkejut melihat hal yang aneh tersebut.


Ia turun dari mobilnya dan mengecek bannya untuk memastikan apakah benar benar kempis atau hanya ilusi karena ia kelelahan. Saat di cek, ternyata benar bahwa ban mobilnya kempis semua. Edwin langsung memberi suatu penyimpulan terhadap hal yang baru saja terjadi padanya.


"Tak mungkin ban mobil ini bisa kempis semuanya, dan sangat tak masuk akal jika ban mobil yang tadi pagi sudah ku isi tiba tiba sekarang kempis semua. Pasti ada seseorang yang melakukan ini padaku, sial dia hanya menambah masalah." Ucap Edwin dengan geram dan meninju pintu mobilnya sendiri.


Tak lama kemudian ia melihat sebuah kertas di dekat ban mobilnya. Kertas tersebut telipat dengat banyak lipatan. Edwin membukanya dan nampak sebuah tulisan yang sepertinya tulisan itu tak asing di mata Edwin.


"Ini tulisan dari Defiyan, ya tak salah lagi, pasti ini Defiyan yang menulis kertas ini." Ucap Edwin yang tahu sekali tentang bentuk tulisan milik mantan asistannya.


"Ini sebuah pesan darinya." Tambah Edwin.


Edwin pun memperhatikan dengan seksama dan membaca nya perlahan lahan.

__ADS_1


...EDWIN KLAUSE...


Pertunjukan baru saja dimulai, yah aku tau bahwa aku bersalah karena mengambil uang simapanan milikmu, tetapi tindakanmu dalam memecatku adalah suatu hal yang salah. Sejak sekolah dahulu aku tak pernah menyukaimu, akan kuhancurkan pernikahanmu hingga hancur lebur dan rasa penyesalan akan muncul pada dirimu. Saat itulah aku muncul dengan menikmati semua kesedihanmu. Selamat menikmati pertujukannya.


^^^-Defiyan^^^


"Sudah kuduga, ini pasti adalah ulahnya. Berani sekali dia melakukan ini padaku, Huff." Edwin menghela nafasnya dan berusaha untuk tidak berpikir dan bertindak secara gegabah.


"Lebih baik aku segera mengisi angin ban mobilku, beruntung aku selalu menyimpan pompa mobilku di kantor." Ucap Edwin yang kembali masuk ke dalam kantornya.


"Lho kenapa pak kok balik lagi?" Tanya staff yang bertugas disana


"Ban mobil saya kempis, oiya satpam yang biasa jaga kantor dimana?" Tanya Edwin kepada staff tersebut.


"Maaf pak, katanya dia sedang sakit jadi hari ini tak dapat menjaganya." Jawab staff tersebut kepada Edwin.


"Yasudah." Ucap Edwin yang mengakhiri obrolannya dan segera menuju ke ruangan penyimpanan barang.


Edwin berjalan menuju ke arah ruangan penyimpanan barang, saat sudah tiba di depan ruangan tersebut, ia membuka pintunya. Barang-barang tak terpakai banyak yang menumpuk disana. Edwin mencari pompanya di tempat ia meletakan sebelumnya saat ia pernah memakainya.


"Setau ku disini aku meletakan pompa saat itu." Ucap Edwin mengingat-ingat.


Ia terus melanjutkan mencari hingga akhirnya ia menemukan sepucuk kertas kembali yang wujudnya sama seperti kertas yang diberikan Defiyan sebelumnya. Edwin pun membuka dan membaca isi kertas tersebut


...BINGUNG?...


Kamu pasti telah membaca suratku sebelumnya bukan?, kamu tak dapat pulang karena ban mu sudah kempis, dan juga tak ada siapa siapa yang menjaga mobil mu ketika aku mengempiskannya. Saat ini pasti kamu sedang mencari pompa mu bukan?. Sayang sekali, aku sudah tahu seluruh isi dari kantor ini. Aku sudah jauh berkembang, dan sekarang banyak yang menjuluki aku si jenius. Aku sangat berbeda jauh dengan yang dulu.


^^^-Defiyan^^^

__ADS_1


...🌱----------------🌱...


__ADS_2