Aksa Yang Jenius

Aksa Yang Jenius
Bagian Dari Keluarga


__ADS_3

..."🌱"...


Edwin terkejut melihat Aksa yang sedang mengeluarkan air mata, sepertinya ia mendengarkan percakapannya barusan dengan Graciel. Jantung Edwin berdetak dengan kencang, Aksa mungkin mengerti maksud dari percakapannya barusan.


"Aksa kenapa nangis." Ucap Edwin yang pura pura tidak tahu.


"Ayah... Jahat" Balas Aksa dengan isak tangis


"Maaf nak tapi ayah perlu melakukan ini." Ucap Edwin


"Ayah tau ga sih, siapa yang nyiapin bekal Aksa kalo pagi? Siapa yang sayang banget sama Aksa? Siapa yang ngertiin Aksa kalo Aksa lagi kangen sama mama? ayah gatau semuanya, ayah benar benar jahat." Balas Aksa yang kemudian berlari menuju kamarnya.


"Aksa." Ucap Edwin dalam hati...


Ia lalu kembali menuju ruang makan yang disana masih terdapat Graciel yang sedang menangis. Sepertinya Edwin akan menarik ucapannya kembali karena melihat Aksa yang tak mau kehilangan sosok pengasuh kesayangannya


"Graciel" Ucap Edwin


"A-apa tuan." Ucap Graciel sembari mengeluarkan nada isak tangis


"Aksa sangat menyayangimu, ia tak mau kehilangan sosok dirimu. Sepertinya sudah terbentuk ikatan antara kalian berdua dan saya tak dapat memisahkan ikatan itu. Dengan penuh hormat tolong kamu jangan lagi menjadi pengasuh di kelurga ini, sekali lagi maaf." Jelas Edwin


Graciel meneteskan lebih banyak air mata dari sebelumnya, ia tampak mulai ikhlas dengan semuanya.


"Ba-baik tuan saya akan pergi keluar dari rumah ini." Balas Graciel.


Edwin tersenyum lalu berkata,


"Maksudku kamu jangan lagi menjadi pengasuh di keluarga Klause ini, tapi jadilah bagian dari keluarga Klause ini. Karena saya dan Aksa sepertinya membutuhkan sosokmu" Ucap Edwin


Tangisan Graciel berhenti sebentar, detak jantungnya berdetak dengan sangat kencang....


"Maksud tuan?.." Tanya Graciel


"Kamu ku tawarkan untuk menjadi istriku kalau kamu mau." Balas Edwin


Jantung Graciel semakin berdetak lebih kencang, ia menelan ludahnya dan seperti tak percaya lagi akan ucapan ucapan tuannya.


"Tuan serius? apakah bercanda?" Tanya Graciel kepada tuannya


"Iya, Aksa menyayangimu, perasaan ku terhubung dengan anak ku, jika ia menyayangimu mungkin aku akan merasakan perasaan yang sama terhadap mu. Jadi ku mohon jadilah istriku dan jadilah ibu bagi anak ku." Ucap Edwin sambil memegang tangan Graciel.


"Tapi tuan aku hanya seorang pengasuh, tak pantas untuk dijadikan sebagai pendamping hidup tuan." Balas Graciel

__ADS_1


"Aku tak peduli siapa riwayat hidupmu ataupun masa lalu mu yang ku mau hanyalah kamu menerima tawaranku untuk menjadikanmu istriku." Ucap Edwin kepada Graciel.


"Tapi tuan"


"Ku mohon" Bantah Edwin


Graciel mengangguk, menerima tawaran tuannya untuk menikah dengannya. Edwin tersenyum bahagia dan mengelus kepala Graciel.


"Mulai sekarang panggil aku dengan nama ku Edwin dan jangan panggil dengan nama tuan" Ucap Edwin


"Baik tuan, maaf maksudku Edwin" Balas Graciel.


Pak Sani masuk ke dalam ruangan makan itu disaat Edwin sedang memegang kepala Graciel.


"Emm maaf pak, saya mau makan dulu tadi katanya sudah disuruh makan" Ucap pak Sani yang sepertinya tak enak mengganggu tuannya dengan Graciel.


"Eh iya maaf, duh jadi malu." Balas Edwin yang langsung menurunkan tangannya dari kepada Graciel.


pak Sani tertawa melihat kelakuan tuannya dengan pengasuh yang aneh. Seperti malu keromantisan mereka terlihat.


"Cie cie pak Edwin jatuh cinta sama pengasuhnya sendiri nih." Ucap pak Sani


"Haha bapak, yasudah pak Sani makan saja. Saya mau ke kamar Aksa dulu." Balas Edwin


"Eh Graciel, itu pak Edwin mau nikahin kamu ya?, saya tidak sengaja dengar dari luar tadi sewaktu sedang berjalan kesini." Tanya pak Sani


Graciel hanya mengangguk kepada pak Sani sambil tersenyum.


"Hahah emang cocok sih Graciel sama pak Edwin, tapi kok kamu malah nangis ya?" Tanya pak Sani kembali kepada Graciel


"Eh" Graciel kaget


Wajahnya tiba tiba memerah dan dia lalu berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkan pak Sani sendirian yang sedang makan sambil tersipu malu.


***


Edwin menyusul Aksa yang sedang bersedih di kamarnya. Pintu kamar Aksa nampaknya dikunci dari dalam olehnya.


*Tuk tuk tuk


Edwin mengetuk pintu kamar Aksa


"Nak." Ucap Edwin dari luar

__ADS_1


Tak ada jawaban yang keluar dari kamar itu, Aksa pasti marah dan tak mau berbicara kepada Edwin.


"Buka sebentar pintunya dong Aksa, ayah mau ngomong bentar aja." Ucap Edwin.


Suara kunci yang sedang membuka pintu pun terdengar dari dalam kalam Aksa. Pintu pun terbuka dan tampak Aksa yang kini sudah tak menangis lagi.


"Iya yah, kenapa?" Tanya Aksa yang menghilangkan kemarahannya ke pada ayahnya.


Edwin tersenyum melihat anaknya yang dengan cepat menghilangkan amarahnya terhadapanya.


"Ada yang mau ayah omongin, tapi sebelumnya apa ayah boleh masuk kamar Aksa? untuk berbicara berdua sama Aksa." Tanya Edwin


"boleh yah, silahkan masuk" Ucap Aksa yang memberi izin kepada Edwin untuk memasuki kamarnya.


Edwin lalu duduk di kasur Aksa yang sangat empuk dan Aksa pun menyusul untuk duduk di samping ayahnya.


"Maaf kalo ayah tadi bilang gitu ke kak Graciel." Ucap Maaf dari Edwin.


"Tidak apa apa yah, tapi seharusnya jangan bicara begitu terhadap kak Graciel, dia sudah lama merawatku dan perduli terhadapku. Aku memang masih kecil yah, tapi otaku sudah mengerti perasaan seseorang." Ucap Aksa


"Iya nak, ayah salah dalam berkata seperti itu kepada Graciel. Tapi sebenarnya bukan itu yang ayah maksudkan dari pembicaran tersebut." Ucap Edwin yang melihat ke arah Aksa


"Maksud nya ayah apa?" Tanya Aksa kepada ayah nya.


"Ayah tak berubah pikiran untuk menghentikannya sebagai pengasuh Aksa, Graciel akan tetap ayah berhentikan sebagai pengasuh di keluarga kita nak." Ucap Edwin.


Perasaan Aksa kembali bersedih, ia bersedih karena mendengarkan perkataan Edwin yang egois bahwa ia akan tetap memberhentikan pengasuh yang setia menemaninya selama beberapa tahun. Disisi lain Aksa bingung melihat ayahnya yang malah tersenyum saat membicarakan hal itu.


"Kenapa ayah tersenyum? Aku mengenal ayah sebagai sosok yang baik, tetapi hari ini sepertinya pandangan ku akan berubah mengenai ayah." Ucap Aksa yang kesal terhadap ekspresi Edwin


"Eh jangan begitu dong Aksa, kamu belum mendengar sepenuhnya dari perkataan ayah, jangan menarik kesimpulan dulu dong." Tutur Edwin


Aksa langsung berubah pikiran dan ia langsung tahu bahwa Edwin sedang menyembunyikan sesuatu dari ekspresinya.


"Ayo yah kasih tau aku." Ucap Aksa yang kekesalannya sudah hilang dan ia memunculkan sikap bermanja kepada ayahnya.


"Kasih tahu tidak ya.. " Edwin yang membercandakan Aksa


"hmm" Ungkap Edwin yang mulai ngambek terhadap bercandaan sang ayah.


"Baiklah, kamu akan dapat ibu baru... " Kata Edwin yang mengejutkan Aksa.


...🌱----------------🌱...

__ADS_1


__ADS_2