Aksa Yang Jenius

Aksa Yang Jenius
Pria Asing Memulai Konflik


__ADS_3

..."🌱"...


Graciel hingga kini masih saja menunggu kepulangan Edwin. Sejak menelponnya ia sudah bersiap untuk menyambutnya tetapi sudah beberapa waktu terlewati, tapi ia malah tak kunjung kembali. Setelah menelpon Edwin, Aksa pergi keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga yang di sana terdapat Graciel sedang menunggu Edwin. Ia menuruni tangga dan berbicara kepada bundanya.


"Bunda, tadi ayah bilang ke Aksa katanya maaf pulang nya agak terlambat karena ada sedikit urusan." Ucap Aksa memberitahukan informasi kepada Graciel.


"Urusan apa? Katanya dia di telpon tadi bakalan pulang." Balas Graciel dengan raut wajah sedikit cemberut.


"Hahaha bunda kangen ya pengen cepet cepet ketemu ayah." Canda Aksa kepada bundanya.


Raut wajah Graciel kembali tersenyum mendengar candaan Aksa dan tersipu malu. Setelah candaan Aksa di katakan olehnya, terdengar suara mesin mobil di depan gerbang rumahnya. Dengan penuh semangat Graciel berkata kepada Aksa.


"Itu pasti ayah." Ucap Graciel.


Graciel segera bangkit dari duduknya dan penuh semangat ia berjalan menuju ke arah pintu untuk menyambut suaminya. Saat baru beberapa langkah berjalan, Aksa menghentikan langkah bundanya.


"Tunggu bunda, biar Aksa aja yang bukain." Ucap Aksa kepada bundanya.


"Biar bunda aja, bunda mau menyambut ayahmu yang pasti sudah lelah bekerja." Balas Graciel.


"Aksa aja bun, bunda tunggu disini." bantah Aksa.


"Aksa kenapa? Ga biasanya Aksa memaksakan diri." Tanya Graciel yang bingung terhadap sifat Aksa yang tiba tiba memaksa.


"Itu bukan ayah bun.." Ucap Aksa.


"Hah? Maksud kamu?" Tanya Graciel yang tiba tiba muncul rasa ketakutan dalam dirinya.


"ada seseorang yang membenci ayah di kantor, nanti pada saat pulang, pasti ayah ceritakan semuanya kepada bunda. Jadi untuk kali ini biar Aksa yang menghadapi orang tersebut." Jawab Aksa yang menghilangkan rasa penasaran pertanyaan Graciel.

__ADS_1


"Bagaimana bisa seseorang yang membenci Edwin sampai tau rumahnya... kamu jangan ke sana Aksa, biar bunda aja, nanti kamu kenapa-napa nak." Ucap Graciel yang khawatir terhadap anaknya.


"Bun, di pemikiran ku, setau ku yang mengetahui rumah ayah hanya teman sekolahnya. Tak ada satupun anggota kantor yang mengetahui rumah ayah kecuali satpam nya, tetapi ayah mendapat masalah akibat tak adanya satpam itu di kantornya. Dengan kata lain bisa jadi itu adalah musuh ayah sewaktu ia sekolah. Aku mengerti bun, jadi biarkan aku yang menyambutnya." Balas Aksa menjawab pertanyaan Graciel Kembali.


"Kemampuan analisis mu sangat bagus nak, oke, bunda percayakan semua pada Aksa, tetapi bunda melihat dibelakang dan jika terjadi apa apa bunda akan membantu aksa" Jelas Graciel.


"Baiklah bun." Ucap Aksa


*Tuk tuk tuk tuk


Suara pintu yang sudah mulai di ketuk, suara pria asing memanggil nama Graciel dari luar. Aksa perlahan berjalan menuju pintu depan untuk bersiap siap membuka kan pintunya. Saat tepat berada di belakang sisi pintu, pria itu kini berteriak dengan keras. Mungkin dia sudah tahu bahwa Edwin belum kembali dari kantornya dan sibuk mengurusi mobil yang kempis.


Aksa telah menyiapkan semuanya dalam sekejap dan Graciel sudah bersiap di posisinya dengan memegang sebuah sapu. Ia pun membuka kan pintunya dan terlihat seseorang berbadan tinggi dan sedikit gemuk. Ia mengenakan sebuah jas kantor dengan mengenakan name tag bertuliskan perusahaan Edwin.


"Ada apa berteriak memanggil nama ibuku?" Tanya Aksa dengan raut wajah yang sudah tidak suka melihat wajahnya.


"Aku tak ada urusan dengan mu anak kecil, dimana ibumu? ." Balas pria itu dan berbalik bertanya


"Oh, anak jaman sekarang sudah banyak yang so jagoan, tapi tidak apa apa berhubung kamu anak nya mantan boss ku, aku akan memaafkanmu." Balas pria itu.


"Bodoh sekali, penjahat yang berani memberikan identitasnya langsung... Pak defiyan..." Ucap Aksa yang melihat nama dari name tag tersebut.


"Penjahat? Apa maksudmu anak kecil." Tanya Defiyan yang sudah mulai kesal dengan Aksa.


"Yah bisa dibilang penjahat.. Seseorang yang masuk gerbang tanpa ijin, tiba tiba di depan pintu dengan sopannya mengetuk pintu tetapi saat dibuka kan oleh pemilik rumah, ia malah berteriak mencari ratu dari tuan rumah tersebut. Apakah itu bisa disebut penjahat?" Ucap Aksa dengan sedikit tertawa.


"Oh begitu, tak salah juga sih, aku memang bisa disebut penjahat, oh iya kamu anaknya Edwin kan, yang bernama Aksa. Sepertinya kamu bukan anak dari istrinya Edwin saat ini.." Ucap Defiyan yang membalas tawa Aksa dengan mengintimidasinya.


Aksa yang mendengarnya tetap tak merasa terindimidasi tetapi Graciel terpancing oleh perkataanya. Graciel keluar dari persembunyiannya dan berlari dengan membawa sapu yang bersiap untuk memukul kepada Defiyan. Sayang sekali saat sapu itu dilayangkan di kepalanya dengan sigap Defiyan menangkap sapunya.

__ADS_1


"Hahaha ternyata ini istri Edwin yang baru, aku sudah banyak mendengarkanmu, kamu adalah pengasuh Aksa dulunya bukan?." Ucap Defiyan yang terus menerus mengintimidasi Aksa.


Ia lalu mendorong sapu itu dengan kekuatan penuh yang membuat Graciel terpental dan terjatuh. Aksa tetap bersabar dan memilih untuk tidak terintimidasi olehnya. Aksa pun berbalik bertanya kepadanya.


"Apa maumu saat ini?" Tanya Aksa kepada Defiyan.


"Sudah ku bilang aku tak ada urusan denganmu, bahkan jika ku jelaskan mungkin anak kecil seperti mu tak akan mengerti." Balas Defiyan.


"Mungkin aku akan terima jika kamu berkata bahwa aku bukan anak kandungnya, dan membuat ku terus menerus merasakan sakit hati. Tapi jika bundaku yang kau sakiti, mungkin aku tak akan tinggal diam dan bersiap membuatmu menerima kenyataan." Ucap Aksa yang tersenyum ke arahnya.


"Kenapa kamu tersenyum anak kecil? Tak ada yang lucu disini, lalu kamu mau berbuat apa kepadaku? Anak sepertimu tak ada apa apa nya jika melawanku." Balas Defiyan.


"Apakah aku harus mencoba agar kamu melawanku, sepertinya langkah pertama yang harus ku lakukan adalah melukai ibu tiri mu dahulu hahaha" Tambah Defiyan yang menantang Aksa.


"Sepertinya kesabaran ku sudah habis" Senyuman Aksa bertambah lebar dari mulutnya.


Setelah mengatakan itu Aksa memukul kepala Defiyan dengan sangat kuat. Satu pukulan Aksa membuat pria dewasa itu terjatuh hingga tergeletak di lantai.


"Bisakah kamu sekarang diam?" Aksa yang kembali bertanya dengan tatapah kesal dan senyuman yang mulai menghilang.


Pukulan kedua kembali Aksa layangkan kepada Defiyan kembali dengan lebih kuat dari pada pukulan sebelumnya.


"Terima pukulan ini sebagai pembalasan terhadap hal yang di lakukan kepads bundaku." Ucap Aksa


Pukulan keduanya membuat Defiyan terus menerus berteriak kesakitan.


"Sudah nak hentikan." Graciel yang masih tergeletak di lantai berusaha menghentikan Aksa.


Aksa tak mendengarkan perintah bundanya sama sekali, ia kini dipenuhi oleh rasa amarah yang sangat tak terbatas.

__ADS_1


...🌱----------------🌱...


__ADS_2