
..."🌱"...
Amarah Aksa seperti lepas kendali, tak ada yang bisa menghentikannya. Walaupun Defiyan sudah lebih tua dari pada Aksa tetapi kekuatan Aksa benar benar di luar dari usianya. Pukulan ke tiga dilancarkan oleh Aksa kali ini dengan matanya yang sedikit melebar dan dengan kekesalan yang sudah memuncak.
*Bruakkk
Pukulan ketiga dilancarkan oleh Aksa dan tepat mengenai hidung Defiyan hingga membuatnya mengeluarkan darah.
"AKSAA SUDAH HENTIKAN." Ucap Graciel yang terus menerus menghentikan Aksa.
Kali ini pukulan ke empat Aksa ingin di lancarkan, ia sudah memasang posisi siap untuk meninju.
"Matilah kau dasar sialan." Seketika tinju di lesatkan oleh Aksa dengan kekuatan puncaknya.
Saat hampir tepat mengenai wajah Defiyan tiba tiba teriakan seseorang dari luar pagar menghentikan pukulannya.
"AKSAAA, NAK BERHENTI." Ucap Edwin berteriak dari luar yang melihatnya memukul Defiyan hingga hampir merengut nyawanya.
Kesadaran Aksa akhirnya pulih dan luapan emosi yang tinggi kini sudah mereda. Ia menurunkan tangannya dari posisi meninju. Defiyan tak lagi dapat berbicara. Badannya di penuhi rasa gemetar dan tak dapat berkata sepatah katapun tentang pertarungan itu. Mulutnya yang mengintimidasi kini hanya terdiam meratapi pukulan pukulan yang diberikan oleh Aksa.
Edwin pun berlari mendekat kearah Aksa dan Defiyan yang saat itu ia sedang dalam posisi kesakitan dan tak dapat apa apa.
"Aksa, sudah nak, ayah tahu kamu kecewa terhadapnya. Maafkan saja dia. Walaupun ia sudah ingin menghancurkan ayah tapi kita tak harus membalasnya seperti ini." Ucap Edwin menenangkan Aksa.
Aksa terdiam dengan amarahnya yang sedang perlahan lahan mereda. Ia berdiri bangkit dari posisinya.
__ADS_1
"Baiklah karena ayah yang meminta dan ibunda sudah memaksa ku untuk menghentikannya. Maaf pak Defiyan, tapi lain kali kau harus datang kesini dengan sopan. Jika ada masalah bicara dan selesaikan bukan ingin menghancurkan." Jelas Aksa kearah Defiyan.
Defiyan bangun perlahan lahan dengan penuh kesakitan di semua badannya. Ia berjalan dengan penuh sempoyongan menuju mobilnya dan meninggalkan keluarga Klause.
"A-aku a-akan menghancurkan keluarga kalian." Ucap Defiyan yang masih bisa saja memancing emosi keluarga Klause.
ia berjalan menuju mobilnya dengan badan gemetaran seperti baru saja terkena trauma yang mendalam. Ia pun meninggalkan rumah keluarga Klause dan menuju mobilnya. Pintu mobil pun dibuka, ia masuk dan memasuki kuncinya dan segera menancapkan gas di mobilnya.
Ia menjadi seperti gila dan dengan badan yang sempoyongan, ia menancapkan gas hingga kecepatan yang terus menerus naik. Tak lama berselang, mobilnya melewati sebuah jalan raya, dan tragisnya sebuah truk lewat menghadang mobilnya yang sedang melaju dengan kecepatan yang tak biasa.
*DUMMM
Mobil itu menabrak truk yang melaju hingga mobil itu hancur berkeping keping akibat benturan yang keras. Defiyan melayang di udara. Badannya terhempas begitu saja keluar dari mobil yang pintunya tak tertutup dengan kencang. Ia melihat sebuah langit diatasnya, begitu indah pemadangan dimatanya. Sayangnya yang berada dibawahnya adalah jalan raya yang penuh dengan kendaraan kendaraan.
"Maaf Edwin, semua salahku, aku hanyalah seseorang yang egois." Ucap Defiyan dalam hati
Badannya yang terhempas diudara kini ditarik kembali oleh medan magnet yang berada di bumi. Ia terjatuh hingga akhirnya menewaskannya. Jalan raya itu seketika menjadi ramai. Identitas name tag yang dikenakan Defiyan masih menempel di bajunya yang beralamatkan kantor Edwin.
***
Aksa Graciel dan Edwin semuanya bertemu di ruangan keluarga. Sedangkan pak Sani menjaga kondisi keadaan diluar.
"Aksa, lain kali jangan mengulangi dan jangan menghakimi seseorang dengan seenaknya, dia juga manusia." Ucap Edwin dengan nada yang halus.
"Baik yah, maaf Aksa terbawa emosi karena dia terus mengintimidasi bunda." Balas Aksa yang menundukan kepala seakan merasa bahwa dirinya bersalah.
__ADS_1
"Tak apa, ayah juga diintimidasi olehnya, dan hari ini baru saja ayah memecatnya. Tetapi tak disangka pada hari ini juga dia melancarkan semua aksinya." Ucap Edwin menjelaskan semuanya.
Graciel hanya mendengarkan percakapan mereka berdua dan tak ingin menganggunya. Setelah obrolan yang begitu lama, mereka pun mengakhiri obrolan itu dan belum ada solusi yang cocok untuk mengatasi masalah tersebut. Edwin kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya sedangkan Aksa dan Graciel tetap duduk di ruangan keluarga. Karena suasana terlalu hening Graciel akhirnya menghidupkan televisi untuk menghilangkan suasana yang mencekam tersebut.
Saat ia menghidupkan televisi, muncul sebuah siaran berita mengenai kecelakaan yang menewaskan seorang pria dari kantor yang dimiliki oleh Edwin. Dan saat ini kantor Edwin sedang diintai oleh kepolisian untuk dimintai keterangan mengenai Defiyan. Graciel dan Aksa yang melihat berita itu sama sama kaget. Graciel segera berteriak memanggil Edwin yang sedang berjalan menuju kamarnya.
"YAHHH, INI DI BERITA KANTOR AYAH." Ucap Graciel yang kurang jelas.
"Maksud bunda?" Tanya Edwin yang bingung dengan perkataan Graciel.
Graciel pun menunjuk ke arah televisi yang memberika kode tentang sesuatu. Edwin berbalik arah dan kembali keruang keliarga untuk melihat apa yang dimaksud oleh Graciel. Ia pun melihat beritanya dengan terkejut.
"Defiyan.." Ucap Edwin dengan mata melebar.
Aksa lebih terkejut lagi melihat seseorang yang baru saja ia hadapi dan ia serang dengan penuh kekuatan, meninggal karena kecelakaan. Tetapi pikiran Aksa menyimpulkan bahwa Defiyan meninggal karena ulahnya yang egois.
"Apa yang telah ku perbuat..." Aksa mengangkat kedua tangannya dan seperti muncul rasa takut dalam dirinya.
"Aksa..." Ucap Graciel yang melihat anaknya dipenuhi rasa ketakutan.
"BUKAN AKSA, BUKAN SALAHMU" Teriak Edwin kepada Aksa yang tak ingin anaknya diliputi rasa ketakutan dan rasa kesedihan.
"Maaf, aku bodoh sekali." Ucap Aksa yang masih menyalahkan diri sendiri.
Dengan dipenuhi rasa ketakutan ia berlari menuju kamarnya meninggalkan Edwin dan Graciel sendirian di ruang keluarga. Pintu kamar Aksa di kunci dengan rapat. Pikiran Aksa mulai kacau, hatinya dipenuhi rasa penyesalan dan kebencian yang tiba tiba tumbuh menumpuk kepada dirinya sendiri. Saat penyesalan sedang memuncak di dalam dirinya, muncul sebuah pesan dari ponselnya.
__ADS_1
Pesan itu sepertinya dikirimkan oleh Raiyez, teman sekelasnya yang tadi pagi saat istirahat disekolahnya mengalami penganiayaan. Ia mengirimkan kabar yang membuat Aksa lebih menyesal lagi dan lebih menusuk hatinya. Raiyez mengatakan di dalam pesan, bahwa ia baru saja kehilangan ayahnya akibat sebuah kecelakaan. Mendengar berita itu semakin membuat Aksa kaget, ternyata Defiyan yang telah ia pukuli hingga terluka parah rupanya ia merupakan ayah dari teman dekatnya sendiri yaiti Raiyez. Kini secara tak langsung, Aksa beranggapan bahwa ia adalah penyebab kematian ayah Raiyez.
...🌱----------------🌱...