Aksa Yang Jenius

Aksa Yang Jenius
Suara yang Aneh...


__ADS_3

..."🌱"...


Jam pelajaran sudah berakhir dan kini berganti dengan jam istirahat, siswa dan siswi berhamburan keluar kelas termasuk Raiyez teman sekelas Aksa yang meninggalkannya sendiri di kelas.


"Aksa, aku duluan ya, mau ke kantin, kamu pasti diajak ga bakal mau ikut." Ucap Raiyez


"Oh iya, duluan saja, aku ga mau ikut karena udah disiapin bekal sama bundaku, nanti kalau tidak dimakan dia bakalan sedih dan kecewa." Balas Aksa


"kamu memang pengertian Aksa, tak hanya pintar, kamu bahkan sangat menghormati orang tua walaupun kamu seperti pendiam yang tak tahu apa apa." Ucap Raiyez.


Aksa tersenyum mendengar perkataan Raiyez dan ia pun berjalan pergi keluar kelas untuk menuju kantin. Aksa mengambil bekalnya dan lanjut memakannya. Saat ia ingin memakan bekal yang sudah disiapkan oleh Graciel, ia baru ingat bahwa ia tak membawa air minum dan terpaksa harus keluar kelas untuk membelinya di kantin. Ia harus berhati hati saat melangkah keluar kelas, takutnya Cherlin mengetahui keberadaan kelasnya. Aksa tak mau sampai Cherlin tahu, Aksa sudah menduga bahwa Cherlin akan melakukan balas dendam terhadap apa yang di perbuatnya.


Aksa berjalan menuju pintu di kelasnya dan sebelum keluar, Aksa memperhatikan kondisi sekitar. Sepertinya tampak aman, Aksa pun berjalan keluar dari kelasnya dan tiba tiba dari belakangnya.


"Dorrr" Teriak Cherlin yang mengagetkan Aksa.


Aksa yang kaget langsung reflek menghindar dengan melompak ke arah lainnya dari suara yang di dengarnya.


"Hahaha kaget ya, itu pembalasan dendamku, sudah kuduga kalau kamu bakalan menjadi tetangga kelasku." Ucap Cherlin


Aksa hanya menghela nafas dan menghiraukan Cherlin, dari pada membuang buang waktu istirahatnya untuk menanggapi Cherlin lebih baik ia segera membeli minuman dan kembali ke kelas untuk memakan bekal dari bundanya. Cherlin yang melihat Aksa menghiraukannya menjadi kesal, dan mengejar Aksa yang berjalan ingin menuju ke kantin.


"IH AKSAAAAA!!" Teriak Cherlin mengejar Aksa.


"Kenapa si kamu ngikutin aku terus, dasar penguntit." Ucap Aksa dengan kesal.


"Kamu kenapa si Aksa, dulu kita sahabatan lho, kok sekarang kamu jauhin aku?" Tanya Cherlin


"Trus kenapa? Kan itu dulu." Balas Aksa yang terus berjalan dengan langkah yang semakin di percepat.


"Ya ga kenapa napa si, cuman kan ya aku gamau dijauhin sahabatku sendiri." Ucap Cherlin yang mengikuti kecepatan langkah Aksa.

__ADS_1


Aksa masih saja menghiraukan Cherlin, dan akhirnya ia tiba di kantin.


"Bude, aku mau beli air minum yang botol itu." Ucap Aksa kepada penjaga kantin itu.


"Aku juga bude, beli air minum yang botol itu." Ucap Cherlin juga yang menyamakan pesanan nya dengan Aksa.


Aksa menatap Cherlin dan tak berakata apa apa, lalu kembali mengalih kan pandangannya kepada penjaga kantin. Cherlin hanya tertawa melihat ekspresi Aksa ketika melihatnya, seperti tak terima bahwa pesanannya diikuti olehnya.


"Baik nak, ini satu buat kamu, satu lagi buat kamu." Kata penjaga kantin semabri memberikan air minum botol kepada Aksa dan Cherlin.


"Terimakasih bude, ini uangnya." Ucap Aksa yang memberikan uang kepada penjaga kantin tersebut.


Nampak Cherlin kebingungan ketika merogoh sakunya.


"Duh uang ku kok gaada, kayanya terjatuh tadi." Ucap Cherlin kebingungan mencari uangnya di sakunya.


"Huff" Aksa menghela nafas.


"Eh, makasi lho Aksa, sudah kuduga ternyata kamu memang pura pura musuhan sama aku." Ucap Cherlin sambil tersenyum melihat Aksa.


Aksa kembali menatapnya dengan sinis, lalu meninggalkannya di kantin, tetapi lagi lagi dia menguntit Aksa dari belakang. Aksa tak menghiraukan Cherlin yang kembali menguntitnya. Hingga akhirnya mereka pun tiba di dekat gudang sekolah dan terdengar seperti sebuah teriakan minta ampun.


"Aksa, kamu dengar ga?" Tanya Cherlin kepada Aksa.


"Ah iya, suaranya terdengar jelas." Kata Aksa sambil mengangguk.


"Sepertinya ada yang sedang di kerjai di belakang gudang ini, kita harus menolongnya" Ucap Cherlin.


"Kita belum dewasa untuk menolongnya, siapa tau yang ada didalamnya gerombolang kakak kelas." Ucap Aksa yang tak mau ikut campur


(Seketika Aksa teringat ketika dia berhasil menggagalkan pertarungan antar kelompok kakak tingkatnya pada saat sedang di SD.)

__ADS_1


"Sudah cukup Aksa, kita bukan anak SD lagi dan kamu tidak pantas untuk bicara begitu sekarang, kalau kamu tidak mau biar aku saja yang menolong sendiri." Bentak Cherlin kepada Aksa yang sepertinya sudah kesal terhadap ucapan Aksa yang dari dulu tak pernah mau ikut campur.


"Baiklah kamu sendiri yang pergi yang menolongnya, aku tidak mau menghabiskan waktuku hanya untuk menolong hal yang tak perlu." Ucap Aksa.


Cherlin geram melihat wajah Aksa yang terus berjalan meninggalkan ia sendirian beserta suara meminta ampunan di gudang yang sepi itu. Cherlin berjalan ke arah belakang gudang dimana sumber suara itu berasal. Dan saat hampir sampai disana, Cherlin sedikit mengintip dari balik tembok dan benar saja, ada orang yang sedang di bully dan membutuhkan pertolongan.


"Ampunn, maaf saya ga bermaksud deketin cewe kakak" Ucap pria yang berteriak itu.


"Kamu sok ke gantengan, masih adek kelas, baru masuk sekolah udah banyak gaya, mau jadi pahlawan apa gimana." Bentak seorang pria berbadan besar yang ternyata adalah kakak kelas tingkat 3 atau kelas 12.


"Maaf kak saya gaakan mengulangi lagi dan gaakan deketin cewe kakak lagi." Ucap pria yang sepertinya masih kelas 10.


"Maaf, maaf, banyak bicara kamu" Kakak kelas itu pun melayangkan tendangannya ke arah pria tersebut dengan keras.


"Ugh" Suara pria yang ditendang itu.


Ia sepertinya sudah mulai lemas dan tak bisa kemana mana, pertarungan itu sangat tidak seimbang, karena ia harus melawan kakak tingkat yang lebih besar.


"Baiklah mungkin akan ku kasih pelajaran terakhir kamu biar kapok." Ucap kakak kelas tingkat itu.


Ia kini mengangkat tangannya dan bersiap untuk melayangkan tinjunya, Pria yang sudah di tendang dengan kuat oleh kakak tingkatnya itu, kini tak bisa berbuat apa apa dan hanya bisa menerima pukulan yang akan dilayangkan oleh kakak kelas tingkatnya. Saat tinju ingin dilayangkan, Cherlin keluar dari tembok tempat ia mengintip dan berteriak.


"BERHENTI!!!!" Teriak Cherlin.


Kakak tingkat itu pun menurunkan tangannya dan menatap sinis ke arah Cherlin.


"Oh seorang wanita, apa dia pacarmu juga?" Tanya Kakak kelas tingkat itu kepada pria yang lemas.


"B-bukan" Jawab pria itu dengan takut.


"Oh, jadi kamu ingin jadi pahlawan kesiangan, gadis cantik? Percuma saja teriakan mu tak cukup menghentikanku, dan di belakang gudang ini tak ada yang bisa mendengarkan teriakan mu." Ucap kakak kelas itu dengan menatap marah Cherlin.

__ADS_1


...🌱----------------🌱...


__ADS_2