
..."🌱"...
Hari itu Edwin terpaksa untuk meninggalkan pengasuhnya bersama anaknya dirumah karena ia harus melakukan suatu pekerjaan yang mengharuskan ia untuk meninggalkan mereka. Edwin mempercayakan semuanya termasuk anakanya dirumah kepada Graciel. Ia pergi keluar untuk bekerja selama beberapa hari. Graciel pun menerima semua tanggung jawab yang diberikan oleh bossnya.
"Graciel, saya titip Aksa ya... Saya harus bekerja dikantor untuk beberapa hari kedepan."
"Baiklah Tuan, Saya akan sepenuhnya bertanggung jawab penuh untuk menjaga Aksa yang manis ini." Ucap Graciel.
Graciel lalu menggendong Aksa yang sedang tertidur. Edwin tersenyum melihat graciel yang menggendong Aksa dengan penuh kasih sayang. Ia seperti kembali melihat sosok istrinya yang begitu menyayangi anaknya. Tak mau berlama lama, Edwin segera pergi keluar rumah dan menuju ke bandara.
Kini tersisa pengasuh beserta Aksa dirumah yang besar itu. Graciel masih menggendong Aksa yang tengah tertidur dengan lucunya. Graciel berpikir bahwa Aksa adalah anak spesial, kemampuan berpikirnya tidak seperti anak biasa. Ia mampu memainkan sebuah lego dan menyukai sebuah puzzle. Suatu saat Aksa pasti menjadi seorang anak yang hebat.
Graciel menaruh Aksa di kasur dan meninggalkan kamar Aksa untuk makan siang sembari menonton televisi. Ia menonton sebuah film drama yang bertemakan cinta. Dalam film tersebut banyak sekali makna yang dapat diambil tentang cinta. Film tersebut menambah wawasan bagi Graciel tentang adanya cinta.
Setelah selesai makan sambil menonton televisi, ia kemudian mematikan televisinya dan pergi kembali ke kamar Aksa untuk melihatnya apakah ia sudah terbangun. Saat pintu kamar Aksa dibuka tampak sekali ia masih tertidur dengan pulas. Tetapi saat baru saja Graciel menutup pintunya, terdengar suara isak tangis dari Aksa. Ia membuka pintu kamar Aksa kembali dan segera menggendong Aksa untuk menenangkannya.
"Anak maniss.. Tak boleh menangis." Ucap Graciel yang menggendong Aksa sembari bergerak ke kanan ke kiri.
Aksa melihat ke wajah Graciel dan tiba tiba ia tersenyum seperti mengerti ucapan nya. Graciel sontak kaget dan ikut tertawa karena si kecil itu mengerti perkataannya. Aksa memang anak yang akan menjadi seorang jenius. Graciel pun percaya dengan anak ini.
...🌲*Lima Tahun Berlalu*🌲...
"Ka Graciel, Aku berangkat dulu yah tolong jaga rumah" Ucap seorang anak kecil yang mengenakan baju sekolah dasar.
"Baiklah, kamu berangkatnya hati hati ya, paman supir sudah siap tuh di mobil, buruan berangkat nanti telat. Oh iya kotak bekalnya udah dibawa belum?." Tanya Graciel
"Sudah siap semua dong, kak Graciel emang hebat sudah menyiapkan semuanya" Ucap anak kecil itu
__ADS_1
"Hahah kamu bisa saja Aksa." Balas Graciel
Aksa, sudah tumbuh menjadi lebih besar dan kini ia menginjak usia yang ke 7 tahun. Baru saja ia memasuki sekolah dasar, saat ini ia berada di bangku kelas 1 SD.
"Dadah kak Graciel." Ucap Aksa sambil melambaikan tangan
"Dadah juga Aksa yang manis." Ucap Graciel tersenyum dan membalaskan lambaian tangan Aksa.
Kaki Aksa pun melangkah menuju mobil yang menunggunya di depan dengan dikendarai oleh sang supir. Mobil itu segera pergi dari hadapan Graciel dengan cepat. Graciel kini menjaga rumah seorang diri sedangkan Edwin sedang sibuk mengurus pekerjaannya dikantor. Aksa menunggu sampai ke sekolah di mobil sambil memainkan ponselnya.
Tak seperti anak anak lainnya, ia memainkan sebuah permainan yang berhubungan dengan puzzle dan teka teki. Ia suka mengasah otaknya dan di umur ini dia sudah mampu menyelesaikan teka teki dengan cepat. Otak Aksa seperti terus terasah, menjadikannya seorang anak yang jenius di usianya. Hingga guru guru pun terheran kepada nya.
Mobil itu berhenti di depan gerbang sekolah Aksa. Supir itu turun dan membuka kan pintu mobil tersebut kepada Aksa. Ia turun perlahan dari mobil dengan menggendong tasnya.
"Terimakasih sudah mengantar pak Sani, aku pergi masuk sekolah ya" pamitnya kepada supir yang mengantarnya.
"Siap pak." Balas Aksa
Walaupun terlahir dari keluarga yang kaya, tetapi Aksa tak merendahkan sama sekali bawahan Edwin yang disuruh untuk melayani nya. Justru ia sangat menghormati bahkan menganggap mereka seperti bagian dari keluarganya. Aksa masuk ke gerbang sekolah dan bersalaman dengan satpam yang menjaga gerbang tersebut sembari menyapanya.
"Pagi pak." Ucap Aksa tersenyum.
"Pagi nak, rajin sekali pagi pagi gini udah siap." Ucap sang satpam kembali.
"Hehe, ga sabar pak mau belajar" Balas Aksa.
Setelah percakapan itu, Aksa meninggalkan satpam lalu pergi ke kelasnya untuk bertemu dengan teman temannya yang lain. Satpam yang mendengar percakapan Aksa itu geleng kepala dengan tertawa. Aksa berjalan menuju ke dalam kelas dan saat ia sedang berjalan, tiba tiba dari belakangnya ada temannya yang memanggil.
__ADS_1
"Aksaa, Tungguinn aku." Teriak seorang Gadis kecil yang menggendong tas sambil berlari menyusul Aksa.
"Eh, Cherlin jangan lari lari nanti kamu jatuh." Ucap Aksa yang mengingatkannya.
"Aksa jahat banget, ga nungguin aku" Balas Cherlin yang mendekati Aksa
"Hehe maaf ya, yaudah ayu bareng sama aku." Ucap Aksa
"Yuk." Balas Cherlin sambil tersenyum
Mereka berdua lalu bersama sama pergi ke kelas, dalam perjalanan menuju kelas mereka mengobrol dengan penuh canda tawa seperti anak kecil pada umumnya. Hari ini adalah pelajaran kesukaan Aksa yaitu matematika. Di sekolah dasar banyak sekali anak anak yang menyukai pelajaran ini. Mungkin karena saat di bangku kelas ini, matematika masih sangat dasar dan menyenangkan.
*KRINGGGGGG
Bel masuk berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai, Aksa duduk di sebelah Cherlin dengan posisi siap belajar. Ia mengeluarkan bukunya dan mempersiapkan alat tulis. Tak seperti anak anak lainnya yang masih mengobrol di depan kelas. Terlihat bu Una berjalan dari kantor guru dan berbicara kepada muridnya di depan kelas Aksa dengan lembut.
"Anak-anak yang baik, kalo sudah dengar bel kita masuk ya... " Ucap bu Una sambil tersenyum.
"Baik bu" Ucap anak anak lainnya yang menghentikan keseibukan masing masing dan bergegas masuk kedalam kelas.
Bu Una adalah guru yang baik, dia tahun ini menjadi wali kelas Aksa. Dia sangat sabar menghadapi anak anak lain dan mewajarkannya karena usia mereka yang masih muda. Tetapi bu Una tertarik dengan Aksa dan Cherlin yang selalu kompak dan selalu siap di kelas, tak seperti anak anak pada umumnya. Di meja mereka pasti sudah tertata rapi buku beserta alat tulis yang menandakan mereka siap untuk belajar.
Anak anak sepertinya sudah masuk ke kelas semua. Diluar sudah terasa sunyi dan kini keributan di kelas lebih terdengar. Bu Una menyusul anak anak yang masuk ke kelas. Bu Una masuk dan membuka salam untuk memulai pelajaran.
"Pagi, Anak anak hari ini kita belajar menghitung ya..." Ucap bu Una.
...🌱----------------🌱...
__ADS_1