Aksa Yang Jenius

Aksa Yang Jenius
Diary Aksa


__ADS_3

..."🌱"...


Graciel berjalan menaiki tangga untuk memenuhi permintaan Edwin yaitu menemani Aksa yang sedang belajar di kamarnya. Tampak kamra Edwin sudah tertutup yang biasanya menandakan bahwa ia sedang istirahat. Graciel berjalan perlahan lahan menaiki tangga hingga akhirnya tiba di dekat pintu Aksa.


"Aksa masi menangis tidak ya" Tanya Graciel kepada diri sendiri.


"Ah biarlah" Bantah Graciel.


Ia lalu mengetuk pintu kamar Aksa, dan meminta izin untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Aksa, kakak boleh masuk?" Tanya Graciel sesudah mengetuk pintu kamar Aksa


"Iya kak masuk saja." Balas Aksa dari dalam kamarnya.


"Ternyata Aksa sudah tidak menangis lagi." Ucap Graciel di dalam hati dengan lega.


Graciel melangkah kakinya memasuki kamar Aksa, nampak saat itu Aksa sedang belajar menghitung sebuah puing puing puzzle.


"Mau kakak temenin Aksa?" Tanya Graciel


"Mau banget kak, aku seneng banget kalo di temani kakak" Jawab Aksa.


Graciel dan Aksa pun menghitung puing puing itu bersama dan saat hitungannya sudah masuk ke angka dua puluh. Aksa menghentikan hitungannya dan bertanya kepada Graciel.


"Kakak kok pipinya merah." Tanya Aksa yang iseng.


"Eh engga kok mana ada merah, ih Aksa nakal nih" Balas Graciel.


Aksa tertawa melihat Graciel yang tiba tiba salah tingkah akibat pertanyaan yang diajukannya.


"Cerita dong kak... " Goda Aksa


"Apanya yang mau diceritain Aksa." Balas Graciel sambil mengelus kepala Aksa.


"Aksa udah tau semua nya kok." Ucap Aksa sambil ternyum

__ADS_1


"Maksud Aksa?" Tanya Graciel yang bingung.


"Ayah pingin jadiin kakak ibu nya Aksa kan" Ceplos Aksa kepada Graciel.


Graciel terdiam, raut senyuman bahagia keluar dari wajahnya tetapi perasaan malu malu mengungkapkannya pun terlihat.


"Aksa lanjutin ngitungnya aja, kakak mau ambil minum sebentar" kata Graciel yang mulai mengalihkan topik percakapan Aksa dengan alasan ia ingin mengambil minum di dapur.


"Udah kakak disini aja biar Aksa yang ambil minum, kakak tunggu ya." Balas Aksa


"Engga usah Aksa biar kakak sendiri aja yang ambil"


"Udah Aksa aja" Ucap Aksa dengan keras kepala.


Graciel akhirnya menuruti Aksa dan membiarkan ia mengambilkan air minum untuknya sedangkan ia menunggu di kamar Aksa. Aksa beranjak dari meja belajarnya dan berjalan melangkah keluar kamar untuk mengabil air minum. Sementara itu Graciel berkeliling di kamar Aksa melihat benda benda yang ada di kamarnya serta merapihkan barang barang yang menurutnya tak sesuai pada tempatnya. Pada saat ia sedang merapihkan barang barang di kamar Aksa, ia menemukan sebuah buku yang berjudul, "Diary Aksa". Dari judulnya sudah membuat Graciel tahu bahwa ini adalah buku harian yang menceritakan tentang Aksa.


Tetapi dipikirannya berbeda dari apa yang seharusnya menjadi penilaiannya. Graciel tak menilai sampul buku itu maupun isi dari buku itu. Yang ia nilai adalah tentang kepintaran Aksa yang luar biasa. Di usia yang begitu muda dan baru sekolah kelas 1 dasar, sudah dapat membuat buku harian sendiri.


Ia penasaran akan buku yang ditulis oleh Aksa tersebut. Sampul dari buku itu tampak menarik karena ada wajah nya bersama ayahnya disana. Graciel ingin membukanya tetapi merasa tak enak kepada Aksa walaupun ia masih anak anak. Graciel harus memahami bahwa anak anak juga memiliki privasi yang tak boleh semena mena orang lain tahu tentang rahasi miliknya.


Ia pun menaruh buku itu kembali di rak buku, lalu kembali duduk di kursi sebelah meja belajar Aksa untuk menunggu nya. Baru saja ia duduk di kursi itu, pintu pun terbuka dan Aksa sepertinya membawa minuman beserta camilan untuk mereka makan bersama.


"Kak aku sekalian bawa camilan untuk kita nih" Ucap Aksa


"Wah kamu repot repot sekali Aksa, tadi biarin kakak aja yang bawain biar kamu ga kerepotan gini" Balas Graciel.


"Gapapa kak, aku dah biasa ngerepotin kakak, sekarang gantian lah sesekali aku direpotin kaka" Kata Aksa sambil tertawa. Aksa pun menaruh camilan beserta minuman di mejanya. Lalu ia berjalan menuju buku diary kesayangannya.


Aksa tak mengambil bukunya melainkan langsung mengalihkan pandangannya dan mentap Graciel dengan penuh rasa kecurigaan.


"Kakak abis baca buku ini ya?" Tanya Aksa kepada Graciel.


"Engga kok, Aksa" Bantah Graciel


"Yasudah aku percaya, berarti kakak hanya memegang buku ini" Balas Aksa

__ADS_1


"Lho kok kamu tau kalo kakak sudah memegang buku diary mu, tapi beneran kakak ga membacanya." Ucap Graciel


"Iya Aksa percaya kakak ga baca, Aksa tau kalo bukunya kakak ambil karena posisi letak bukunya tak sesuai dengan yang Aksa taruh sebelumnyam" Jawab Aksa.


Rupanya buku diary yang Aksa taruh, posisi nya sudah diingat olehnya. Graciel terheran mendengar jawaban Aksa yang begitu teliti tentanv posisi buku sebelum dipindahkan dengan sesudah dipindahkan.


"Kakak pasti penasaran kan isi dari buku ini?" Tanya Aksa kepada Graciel


"Iya sih tadi kakak sempat penasaran, tapi kayanya ga baik buka buku harian orang." Ucap Graciel kepada Aksa.


"Kebetulan kak, kakak kali ini bakalan ku izinin buat baca hasil catatan harian ku di buku ini. Maaf ya kalo kurang seru dan tulisan ku kurang rapi." Tutur Aksa.


"Beneran, kamu izinin kakak untuk baca diary kamu yang kayanya penting bagi kamu ini?" Tanya Graciel kepada Aksa.


"Iya seriusan kakak baca aja, tapi jangan bilang kesiapa siapa termasuk ayah karena diary ini rahasia kita berdua saja, aku dan kakak." Kata Aksa kepada Graciel yang membisikannya di dekat telingannya.


Aksa menutup pintu kamarnya untuk menjaga kerahasian buku yang dibuatnya. Lalu Aksa dan Graciel duduk di karpet yang terdapat di kamar Aksa. Buku yang berjudul "Diary Aksa" itu pun dibuka. Tulisan dengan panjang dan pendek yang agak tidak sesuai menjadi kan nya menjadi tulisan ciri khas Aksa.


Graciel dan Aksa pun membuka halaman pertama dari buku itu.


......DIARY AKSA......


NAMA:


AKSA KLAUSE


INI ADALAH NAMAKU SEJAK AKU DILAHIRKAN.


AKU DIBESARKAN DENGAN KASIH SAYANG AYAH DAN KAK GRACIEL.


AYAHKU BILANG, ARTI DARI NAMAKU ADALAH POROS YANG BERARTI BISA MENJADI PENGARUH BESAR BAGI SEMUA ORANG.


IBU KU SANGAT INDAH MEMBERI NAMA ITU PADA KU, TETAPI IA KINI PERGI MENINGGALKAN AKU. TERKADANG PERASAAN RINDU KU TAK TERTAHANKAN INGIN BERTEMU DENGAN IBU. SUATU SAAT AKU AKAN MENCERITAKAN SEMUA KISAH KU KEMBALI YANG KU TULISKAN DIBUKU INI.


...HAL 01...

__ADS_1


...🌱----------------🌱...


__ADS_2